TVRINews - Jakarta, Indonesia

Vinicius Junior, penyerang sayap yang juga bisa bermain sebagai penyerang tengah. Di mana pelatih memintanya bermain di lini depan, dia dapat melakukannya. Apalagi jika pelatih tersebut adalah Carlo Ancelotti, pelatihnya di Brasil saat ini.

Vinicius Junior mengandalkan permainan dengan gerakan yang mengejutkan, cepat, eksplosif, dan berenergi tinggi. Dia bisa menghibur fans yang memang menyukainya. Tapi, karena permainannya yang langsung itu pula mengisyaratkan dia bukanlah pemain yang dapat menyimpan amarah. Jika dia tidak suka, emosinya akan meledak, berkonfrontasi langsung dengan penonton yang rasis.

Vini akan menjadi salah satu pemain yang dinantikan aksinya di Piala Dunia 2026 nanti dengan membawa nama besar Brasil. Bahkan, dia sudah memberikan solusi bagi Brasil sebelum Piala Dunia dimulai yaitu dengan kesadarannya memberikan kembali nomor 10 kepada rekannya yang lebih senior, Neymar.

Pemain lainnya yang akan dinantikan performanya adalah Lamine Yamal. Bintang Timnas Spanyol ini tenang, elegan, sabar, dan berirama. Ia mengontrol tempo permainan dan memiliki kejeniusan dalam mengoper bola. Vinicius Junior dan Lamine Yamal menghibur penonton dengan cara yang berbeda seperti musik rock dan klasik.

Keduanya adalah entertainer yang berbeda di Piala Dunia 2026 yang akan segera bergulir. Vinicius Junior di sayap kiri Brasil dan Lamine Yamal di sayap kanan Spanyol. Artinya, jika keduanya bertemu di Piala Dunia 2026, ini akan menjadi duel yang sangat menarik tentunya. Vinicius Junior vs Lamine Yamal, Real Madrid vs Barcelona, Brasil vs Spanyol.

Melihat potensi kedua tim masing-masing, Vini dan Yamal (Brasil dan Spanyol) memiliki peluang sebagai juara dalam fase grup Piala Dunia nanti. Brasil di Grup C bersama Maroko, Skotlandia, dan Haiti. Sedangkan Spanyol di Grup H bersama Uruguai, Tanjung Hijau, dan Arab Saudi.

Peluang keduanya meraih posisi pertama di grup mereka masing-masing sangat terbuka. Artinya, jika itu yang terjadi, kedua tim akan berada di sisi berlawanan dari bagan dan karena itu keduanya tidak akan bertemu hingga kemungkinan final.

Baru-baru ini, Vinicius Junior menyampaikan dua hal yang cukup mengejutkan. Vini memberikan sebuah pujian untuk Lamine Yamal, pernyataannya yang mendapat perhatian media di dunia. Vini mengatakan bahwa Lamine Yamal dapat memenangkan Piala Dunia seorang diri. Lamine Yamal pemain yang membuat orang rela membayar agar dapat menontonnya bermain.

Itu hanya kiasan yang di dalamnya ada pengakuan tentang kualitas dari bintang Barcelona tersebut. Vinicius Junior generasi baru di Piala Dunia 2026 bersama Lamine Yamal, Kylian Mbappe, dan Erling Haaland. Generasi baru ini ada di kelompok berbeda dari generasi para veteran seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Luka Modric, atau Edin Dzeko.

Generasi muda dan tua yang membuat Piala Dunia 2026 ini menjadi sangat menarik. Kita akan melihat hanya di layar TVRI tentang permainan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo untuk terakhir kalinya di Piala Dunia, bersamaan dengan menyaksikan Vinicius Junior, Lamine Yamal, Kylian Mbappe, dan Erling Haaland dengan aksi-aksinya di lapangan.

Kylian Mbappe telah memberikan contoh apa yang dapat diberikan oleh pemain generasi terkini ketika meraih gelar Piala Dunia 2018 dan mencapai final di Piala Dunia 2022. Lamine Yamal juga telah membuktikan menjadi bintang saat Spanyol juara Piala (Euro) 2024 ketika usianya dua tahun lalu itu masih 16 tahun.

Tidak seperti Lamine Yamal, Vinicius Junior belum benar-benar membuktikan kemampuan terbaiknya untuk Timnas Brasil. Inilah salah satu tantangan yang akan dibawa Vinicius Junior ke Piala Dunia 2026. Dengan mengembalikan nomor 10 kepada Neymar, dia telah membagi beban tersebut.

Vinicius Junior tidak hanya mengakhiri perdebatan tentang siapa pemilik nomor tersebut di Timnas Brasil. Bagi Vini, ada hal yang lebih besar yang dihadapi Brasil dibandingkan hanya tentang nomor punggung yaitu meraih gelar Piala Dunia pada 2026 ini.

Sudah lama Brasil tidak pernah lagi meraih gelar Piala Dunia sejak terakhir merengkuhnya pada 24 tahun silam. Di era Ronaldo Nazario, Rivaldo, dan Ronaldinho, Selecao juara Piala Dunia 2002. Masalahnya, Brasil masih hidup di dalam cinta lama dengan Neymar.

Meskipun tidak pernah memberikan Piala Dunia, Neymar seolah dewa bagi jutaan warga Brasil. Neymar diyakini akan mengembalikan kejayaan kepada tim yang juara dunia lima kali ini. Sepak bola membawa Neymar dari Santos ke Barcelona, lalu ke Paris, dan kemudian ke Riyadh (Al-Hilal), dan dia kini berakhir di tempat semuanya dimulai, di Santos. Neymar kemudian mengetuk pintu Timnas Brasil, dan berhasil.

Keputusan Carlo Ancelotti dengan memanggilnya memang mendapatkan banyak pujian. Keputusan menempatkan Neymar dalam 26 pemain Brasil seolah menyatukan Negeri Samba. Ada pula yang menilai bahwa semua ini karena tekanan Federasi Sepak Bola Brasil terhadap Carlo Ancelotti.

Neymar dapat berperan di ruang ganti atau dia bisa bermain hanya beberapa menit jika Carlo Ancelotti membutuhkannya. Untuk saat ini, bintang Neymar memang masih bersinar terang. Namun, Brasil bukan tentang kembalinya Neymar melainkan tentang momentum terbaik negeri ini ketika mereka memiliki bintang seperti Vinicius Junior. Seperti Spanyol yang ingin memaksimalkan momentum kehadiran Lamine Yamal.