TVRINews - Jakarta

Meksiko sebagai tuan rumah bakal mendapat persaingan ketat dari Republik Ceko dan Korea Selatan dalam perebutan tiket ke babak gugur.

Grup A Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi salah satu yang persaingannya paling ketat di fase awal. Meksiko sebagai tuan rumah diunggulkan untuk lolos ke babak gugur, namun hal tersebut tidak akan mudah didapatkan.

Korea Selatan menjadi salah satu penantang kuat Meksiko. Tim berjuluk Taegeuk Warriors tersebut memiliki rekam jejak lolos ke Piala Dunia 2026 dengan status tak terkalahkan di kualifikasi zona Asia.

Sementara itu, Republik Ceko juga layak diperhitungkan dalam perebutan dua besar klasemen yang menggaransi tiket langsung ke babak gugur. Mental skuad asuhan Miroslav Koubek sudah teruji saat tampil di dua pertandingan play-off kualifikasi zona Eropa.

Mereka berhasil mengalahkan Irlandia dan Denmark melalui adu penalti. Kekuatan mental itu yang menjadi bekal bagi Republik Ceko untuk memberikan hasil terbaik setelah dalam empat edisi Piala Dunia sebelumnya selalu gagal lolos.

"Tim ini memiliki kekuatan mental yang kuat. Kami memiliki gaya kami sendiri, di mana kami mencoba menerapkan strategi dan keterampilan kami. Bagian penting dari strategi kami adalah penampilan yang terorganisasi. Harus ada semangat kompetitif dan pola pikir yang tepat, dan itulah yang kami miliki," ujar Koubek saat diwawancara FIFA.

Para pemain yang sudah berjuang sejak kualifikasi dipertahankan oleh Koubek. Dari 26 pemain yang sudah ditetapkan, mayoritas berasal dari Slavia Praha, klub yang keluar sebagai juara kompetisi kasta tertinggi Ceko dalam dua musim terakhir.

Kehadiran Afrika Selatan di Grup A tidak banyak menyita perhatian publik. Namun, tim berjuluk Bafana Bafana tersebut tetap tidak bisa dipandang remeh oleh Meksiko, Korea Selatan, dan Republik Ceko.

Mereka berhasil lolos ke turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan menyisihkan tim kuat Afrika lainnya, Nigeria. Pelatih Hugo Broos yang menjadi pelatih sejak 2021 telah berhasil menanamkan fondasi yang kuat untuk tim.

"Ini mungkin menjadi keuntungan bagi kami, bahwa kami dapat memberikan kejutan, bahwa kami dapat mengejutkan lawan karena mereka tidak benar-benar tahu seberapa kuat kami,” tutur pelatih asal Belgia tersebut, dikutip dari The Mercury.

Pragmatisme Meksiko

Pelatih Meksiko, Javier Aguirre, dikenal dengan strategi pragmatisnya. Juru taktik berusia 67 tahun tersebut tak mementingkan tim besutannya lebih banyak mendominasi penguasaan bola.

Yang terpenting bagi Aguirre adalah bagaimana sebuah tim mampu membuat lawan kesulitan menghadapinya. Tekanan agresif dan transisi cepat baik saat bertahan maupun menyerang lebih diutamakan.

Karakter tersebut coba ditanamkan Aguirre kepada tim berjuluk El Tri saat ini. Formasi 4-3-3 yang selalu jadi andalannya dibuat lebih fleksibel sehingga dapat berubah menjadi 4-2-3-1 atau bahkan 4-4-2, tergantung lawan yang dihadapi.

"Di Piala Dunia, tim yang memainkan sepak bola terindah tidak selalu menang. Tim yang tahu bagaimana cara bersaing yang akan menang," kata Aguirre, dikutip dari The Guardian.

Strategi racikan Aguirre tampaknya mulai dipahami para pemain Meksiko. Hal itu terlihat dari empat kemenangan dan dua imbang dalam uji coba yang dilakoni sepanjang 2026.

Solidnya lini belakang Meksiko yang dikomandoi oleh Johan Vazquez tidak mudah ditembus lawan. Mereka juga memiliki dua gelandang pekerja keras, Erik Lira dan Edson Alvarez yang bertugas memberi keseimbangan antarlini.

Kecepatan Alexis Vega dan Roberto Alvarado di sektor sayap menjadi senjata utama Meksiko. Pergerakan keduanya semakin berbahaya dengan kehadiran Raul Jimenez atau Armando Gonzalez sebagai ujung tombak.

Fleksibilitas Korea Selatan

Skuad asuhan Hong Myung-bo datang ke Piala Dunia 2026 dengan mayoritas pemain yang berkarier di luar negeri. Tempaan bersaing di kompetisi top Eropa dipercaya membuat mental para pemain Korea Selatan semakin kuat untuk bersaing di level tertinggi.

Performa di kualifikasi zona Asia telah membuktikan bagaimana solidnya permainan Korea Selatan. Kolaborasi antara pemain senior dan junior yang sudah terjadi sejak Piala Dunia 2022 Qatar semakin padu.

Belakangan, Myung-bo mulai mencoba variasi strategi. Formasi 4-2-3-1 yang sukses di kualifikasi zona Asia perlahan diubah menjadi 5-4-1 demi membuat pertahanan Korea Selatan lebih solid.

Dari enam uji coba yang dilakoni Korea Selatan tahun lalu, empat kemenangan, sekali imbang, dan sekali kalah menjadi hasilnya. Meski positif, Myung-bo masih belum berpuas diri.

Pada tahun ini, ia juga sempat mencoba skema 3-4-2-1. Namun, eksperimen tersebut belum berjalan mulus setelah Korea Selatan kalah dari Pantai Gading dan Austria.

Myung-bo tidak panik dengan kegagalan strategi barunya. Masih ada waktu yang bisa digunakan untuk memperbaiki kekurangan tim, sehingga ketika tampil di Piala Dunia 2026, mereka bisa memiliki banyak opsi strategi.

"Para pemain kami sudah lama bermain dengan formasi empat bek, tetapi kita semua tahu bahwa kita tidak bisa hanya menggunakan satu set taktik di Piala Dunia," kata pelatih berusia 57 tahun tersebut, dikutip dari Korea Times.

Perubahan formasi Korea Selatan tak lantas merombak susunan pemain. Myung-bo tetap mempercayakan Son Heung-min untuk bertugas sebagai ujung tombak ditopang oleh Lee Jae-sung dan Lee Kang-in yang dapat beroperasi di tengah dan melebar ke sisi sayap.

Trio lini belakang Kim Min-jae, Kim Ji-sung, dan Lee Han-beom juga tak tergantikan. Kerja sama mereka mengawal jantung pertahanan Korea Selatan sudah membuat Myung-bo merasa nyaman.

Sementara Seol Young-woo dan Lee Tae-sook yang bertugas sebagai bek sayap pada formasi 5-4-1 didorong lebih maju begitu berubah ke 3-4-2-1. Mereka akan membantu kerja para gelandang, Kim Jin-gyu dan Paik Seung-ho.