Penyerang timnas Argentina Diego Maradona dikepung tiga pemain Inggris pada laga perempat final Piala Dunia 1986. (TVRI/Grafis/Jovi Arnanda). Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews – Buenos Aires, Argentina
Tim Argentina Piala Dunia 1986 memiliki tempat istimewa dalam sejarah sepak bola. Mereka bukan sekadar sekelompok pemain namun juga menjadi simbol semangat, kekuatan, dan kebanggaan nasional.
Dipimpin oleh sang legenda Diego Armando Maradona, perjalanan tim nasional Argentina di Piala Dunia 1986 menjadi salah satu yang paling diingat dalam sejarah olahraga ini.
TVRI coba menjelajahi skuad Argentina tahun 1986, tentang perjalanan mereka menuju kemenangan, pemain-pemain andalan, taktik tim, dan warisan yang mereka tinggalkan.
Latar Belakang Sejarah
Piala Dunia 1986 datang di waktu yang berat bagi Argentina. Negara di Amerika Selatan itu baru saja mencoba bangkit kembali dari penderitaan di bawah rezim kediktatoran militer.
Selain itu, Argentina kala itu juga masih berjuang secara finansial dan emosional akibat perang melawan Inggris yang terjadi di Kepulauan Falkland, empat tahun sebelumnya.
Itulah mengapa sepak bola menjadi jalan bagi orang-orang Argentina untuk menemukan harapan dan persatuan. Ketika Carlos Bilardo mengambil alih sebagai pelatih, banyak yang mempertanyakan pendekatannya.
Namun, di bawah bimbingannya, La Albiceleste berkembang menjadi unit yang kuat dan efisien, sebuah tim yang dibangun di sekitar kehebatan Maradona.
Perjalanan Argentina Menuju Final
Argentina memulai turnamen dengan berada di Grup A bersama Italia, Bulgaria, dan Korea Selatan. Mereka finis di posisi teratas grup dengan tujuh poin.
Di babak gugur (knockout), Argentina berturut-turut mengalahkan Uruguai (1-0) di 16 besar lalu Inggris (2-1) di perempat final, dan Belgia (2-0) di semifinal.
Kisah Pencarian Perlengkapan untuk Perempat Final
Jeda waktu antara pertandingan melawan Uruguai dan perempat final melawan Inggris terasa seperti selamanya, karena memang cukup lama, enam hari. Akan tetapi pada akhirnya, skuad Argentina merasa lega karena telah mendapatkan istirahat tersebut.
Tim tersebut telah diberitahu bahwa mereka harus bermain dengan seragam kedua berwarna biru tua yang mereka kenakan saat melawan Uruguai. Tetapi Bilardo menginginkan seragam yang berbeda karena seragam yang mereka miliki terasa berat dan tidak nyaman, terutama di tengah panas terik Meksiko.
Masalahnya, sponsor kaus, Le Coq Sportif, tidak memiliki jersey berkerah terbuka yang diminta tim. Ditambah, mereka juga tidak punya waktu untuk membuatnya.
Asisten teknis Argentina Ruben Moschella dan petugas perlengkapan Tito Benros, kemudian ditugaskan untuk mencari kaus yang cocok untuk pertandingan perempat final Piala Dunia di Mexico City. Mereka mempersempit pilihan menjadi dua, yang pertama berwarna mirip dengan seragam yang sudah ada dan yang kedua berwarna biru yang lebih terang.
“Oh tidak, bukan yang itu,” kata Bilardo dengan ekspresi jijik. Namun semangatnya langsung padam ketika beberapa saat kemudian Maradona masuk, menunjuk ke kaus itu.
“Kaus yang bagus sekali, Carlos. Dengan kaus ini kita akan mengalahkan Inggris,” ucap Maradona. “Baiklah. Mari kita gunakan yang ini,” kata sang pelatih.
Begitulah sepenggal kisah unik, hanya 24 jam sebelum salah satu pertandingan paling berkesan dalam sejarah sepak bola.
Di sebuah bengkel dadakan, para petugas perlengkapan dan karyawan Club America menyulam nomor pada kaus biru cerah baru dengan kain abu-abu perak yang biasa digunakan oleh tim sepak bola Amerika, dan lambang federasi Argentina.
Perang Falkland, Gol Tangan Tuhan, dan Gol Abad Ini di Laga Melawan Inggris
Pertandingan yang dimenangi Argentina, 2-1, itu berlangsung pada 22 Juni 1986 di perempat final Piala Dunia 1986 di Estadio Azteca di Mexico City.
Pertandingan ini diadakan empat tahun setelah Perang Falkland antara Argentina dan Inggris Raya, dan merupakan bagian penting dalam persaingan sepak bola Argentina–Inggris yang sudah sangat sengit.
Tak pelak, suasana di luar lapangan pun meningkat menjelang laga. Para penggemar Inggris telah meneriakkan selama pertandingan babak 16 besar melawan Paraguai: “Ayo lawan Argentina, kami ingin perang lagi!”
Pun begitu, Maradona menanggapi dengan dingin. “Ini hanya sepak bola, titik,” katanya. Tetapi tidak ada yang mempercayainya, apalagi dirinya sendiri.
Ia kemudian mengakui: “Kami semua menyatakan sebelum pertandingan bahwa sepak bola tidak ada hubungannya dengan Perang Malvinas (Falkland). Omong kosong!”
Faktanya, laga Inggris melawan Argentina memang berjalan panas. Pertandingan ini juga menampilkan dua gol paling terkenal dalam sejarah sepak bola, keduanya dicetak oleh kapten Argentina, Diego Maradona.
Gol pertama terjadi pada menit ke-51 yang lantas dinamai “Gol Tangan Tuhan” (Hand of God goal) karena dicetak Maradona dengan menggunakan tangannya.
Gol kedua terjadi empat menit setelah gol pertamanya. Maradona menggiring bola melewati lima pemain Inggris, yakni Peter Beardsley, Peter Reid, Terry Butcher, Terry Fenwick, Butcher (lagi), dan akhirnya kiper Peter Shilton, dan dikenal sebagai “Gol Abad Ini” (Goal of the Century).
Final Epik Melawan Jerman Barat
Di final, Argentina menghadapi Jerman Barat dan memunculkan salah satu final terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Pertandingan tersebut penuh drama, adu skill dan teknik pemain, serta keteguhan hati dan kekuatan mental.
Argentina unggul lebih dulu dengan dua gol yang dicetak bek tengah Jose Luis Brown (menit 23) dan Jorge Valdano (55). Namun, Jerman Barat tidak menyerah dan mengejar lewat gol-gol dari Karl-Heinz Rummenigge (74) dan Rudi Voller (80).
Meskipun Maradona dijaga ketat oleh Lothar Matthaus sepanjang pertandingan, umpannya kepada Jorge Burruchaga pada menit ke-84 memungkinkannya meluncurkan bola melewati kiper yang maju dari sisi kanan dan masuk ke sudut gawang.
Skor 3-2 untuk Argentina bertahan hingga peluit akhir. Argentina pun membawa pulang trofi Piala Dunia untuk kali kedua (setelah 1978) pada pertandingan yang mencatat rekor laga final Piala Dunia dengan enam kartu kuning sebelum dipecahkan pada 2010.
Empat tahun kemudian, Jerman Barat berhasil membayar kekalahan mereka di Meksiko ’86 saat kembali bertemu Argentina di final Piala Dunia 1990 di Italia. Kala itu, Jerman Barat menang dengan skor 1-0 hasil tendangan penalti Andreas Brehme.
Para Pemain Kunci di Skuad Argentina 1986
Meskipun Diego Maradona adalah bintangnya, kemenangan Argentina di Piala Dunia 1986 adalah hasil kerja tim yang sesungguhnya. Beberapa pemain yang menonjol antara lain:
- Jorge Valdano – Seorang penyerang cerdas yang mencetak empat gol, termasuk satu di final.
- Jorge Burruchaga – Gelandang serang lincah yang mencetak gol kemenangan di final dan memainkan peran kunci di lini tengah.
- Oscar Ruggeri – Seorang bek tangguh yang membantu menjaga lini belakang tetap solid.
- Nery Pumpido – Kiper yang melakukan sejumlah penyelamatan penting sepanjang turnamen.
Para pemain ini tidak hanya mendukung Maradona namun mereka membantu menciptakan sejarah.
Taktik dan Formasi Tim
Sebagai pelatih, Bilardo gemar menggunakan formasi 3-5-2. Sistem ini tak hanya memberi tim pertahanan yang kuat tetapi juga memberi kebebasan pemain untuk menyerang.
Maradona bermain bebas tepat di belakang dua striker supaya ia memiliki ruang untuk menciptakan peluang.
Bek sayap menambah lebar lapangan. Lini tengah melakukan pressing ketat saat tidak menguasai bola. Tim memadukan struktur permainan dengan kreativitas sehingga sulit diprediksi. Hal ini membuat Argentina semakin sulit dikalahkan.
Warisan Abadi
Skuad Argentina di Piala Dunia 1986 menginspirasi gelombang baru pemain dan pelatih. Kemenangan mereka membangkitkan semangat bangsa dan membentuk identitas sepak bola Argentina.
Maradona menjadi ikon global, dan tim tersebut mengukuhkan tempatnya dalam sejarah. Perempat final melawan Inggris tetap menjadi salah satu pertandingan yang paling banyak dibicarakan dalam sejarah Piala Dunia.
Bahkan hingga hari ini, para penggemar Argentina masih menyanyikan nama mereka, menonton film dokumenter tentang mereka, dan mengadakan pertandingan penghormatan untuk mereka.