TVRINews – Bratislawa, Slowakia

Kapten timnas Kosovo Vedat Muriqi menyatakan kesiapan skuadnya menghadapi Slowakia dalam play-off kualifikasi Piala Dunia 2026.

Di antara 25 pemain tim nasional Kosovo yang dipanggil pelatih Franco Foda untuk turun di dua pertandingan play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa, tidak ada yang mampu menandingi senioritas Vedat Muriqi. 

Melakukan debut untuk Kosovo pada 2016, tahun saat negara pecahan Yugoslavia itu diterima resmi sebagai anggota Persatuan Sepak Bola Eropa (UEFA) dan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), Muriqi sudah 66 kali turun sekaligus menjadi bagian dari perjalanan sepak bola negara itu sejak awal.

Hampir sepuluh tahun kemudian, striker produktif klub La Liga Spanyol, RCD Mallorca, itu sangat ingin tampil di Piala Dunia FIFA 2026. 

Untuk mengamankan tempat mereka, Kosovo harus melewati babak play-off  Eropa, dengan pertandingan semifinal tandang melawan Slowakia sebagai langkah pertama pada Kamis (26/3/2026). 

Kemenangan di kandang Slowakia, Stadion Nasional Tehelne pole di Bratislawa, itu akan mengamankan pertandingan kandang Kosovo di Pristina pada Selasa (31/3/2026) pekan depan melawan Turki atau Rumania untuk memperebutkan tempat di putaran final.

Bagi Kosovo, ini kesempatan besar menembus putaran final Piala Dunia untuk kali pertama dalam sejarah negara tersebut. Karena itu tidak heran jika Muriqi sebagai kapten akan meminta rekan-rekannya untuk memberikan segalanya yang terbaik untuk lolos. 

“Kami di sini untuk memberikan segalanya dan berjuang untuk mendapatkan tempat di Piala Dunia,” ucap Muriqi kepada situs resmi FIFA, terkait target mereka untuk turnamen di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, yang akan dimulai pada 11 Juni nanti.

“Ini kesempatan besar bagi kami. Seluruh negeri dipenuhi kegembiraan. Semua orang sangat gembira. 

“Secara pribadi, ini sangat istimewa bagi saya. Saya berusia 32 pada tahun ini (tepatnya pada 24 April nanti), dan salah satu impian saya adalah mewakili Kosovo di Piala Dunia atau Kejuaraan Eropa (Euro). Itu akan menjadi tonggak penting dalam karier saya.”

Di kualifikasi lalu, Kosovo tergabung di Grup B yang terbilang berat karena ada Swedia, Swis, dan Slovenia, negara-negara yang lebih berpengalaman. 

Namun di luar dugaan Dardanians—julukan timnas Kosovo—mampu memenangi tiga pertandingan, dua imbang, dan hanya sekali kalah. Satu-satunya kekalahan itu dialami Kosovo dari Swis, 0-4, pada laga pertama di kandang lawan. 

“Usai kekalahan itu, kami bertanya-tanya bagaimana kami akan membalikkan keadaan. Tetapi pelatih Franco Foda mengambil keputusan yang tepat. Ia merotasi susunan pemain inti dan menyesuaikan sistem permainan,” ucap Muriqi yang sudah mencetak 32 gol untuk Kosovo, terbanyak untuk negaranya hingga saat ini. 

“Kami semua fokus pada tugas masing-masing, dan di pertandingan kedua kami berhasil mengalahkan tim Swedia yang diperkuat barisan penyerang seperti (Viktor) Gyokeres, (Alexander) Isak, dan (Anthony) Elanga. 

“Kemenangan di kandang sendiri (2-0 atas Swedia) sangat berarti bagi kami dan benar-benar memotivasi kami. Kemudian kami bermain imbang dengan Slowenia sebelum akhirnya menang melawan Swedia dan sekali lagi melawan Slowenia. 

“Kami mulai percaya pada diri sendiri. Akan lebih manis lagi jika tidak kalah dari Swiss, tetapi bagi negara seperti kami, finis sebagai runner-up dan mencapai babak play-off adalah pencapaian yang luar biasa.”

Saat disinggung soal Slowakia yang akan mereka hadapi pada Kamis malam nanti, Muriqi menjelaskan dirinya telah mengamati dengan saksama bagaimana mereka bermain dan mengatur formasi. 

Ia juga paham benar jika pelatih Slowakia Francesco Calzona tidak takut untuk melakukan banyak perubahan taktik. 

“Dia menghabiskan bertahun-tahun sebagai asisten di SSC Napoli, dan saya tahu bagaimana dia beroperasi secara taktis. Dia melakukan pekerjaan yang hebat dengan Slowakia,” ucap Muriqi.

Muriqi juga sedikit banyak mengetahui seperti apa para pemain andalan Slowakia yang akan diturunkan. Ia mengaku beruntung pernah menghadapi David Hancko (Atletico de Madrid). 

“Saya bermain bersama Denis Vavro di SS Lazio dan menghadapi Milan Skriniar ketika dia bermain untuk Inter. Bek tengah lainnya adalah rekan setim saya Martin Valjent, dan kemudian ada Stanislav Lobotka, yang sangat saya kagumi,” tuturnya.

Slowakia, menurut Muriqi, memiliki banyak individu berkualitas. Selain itu, sebagai tim, Slowakia memiliki pelatih yang tahu bagaimana memaksimalkan potensi setiap pemain. Mereka memainkan sepak bola yang hebat berdasarkan kerja sama tim yang kuat. 

“Slowakia kuat dan dominan secara fisik. Mereka melakukan transisi dengan sangat bagus baik secara ofensif maupun defensif. Itulah bagaimana mereka berhasil mengalahkan tim-tim seperti Jerman,” kata Muriqi.