Final Super Bowl 2025 Halftime Show di antaranya menampilkan musisi rap Kendrick Lamar. Konsep pertunjukan semacam ini ditiru oleh FIFA untuk laga final Piala Dunia 2026 mendatang. Foto: Grafis: Dede Mauladi
TVRINews - New Jersey, Amerika Serikat
FIFA ingin membawa semangat serupa ke panggung sepak bola global, menghadirkan tontonan hiburan selama jeda babak pertama final Piala Dunia 2026.
Final Piala Dunia 2026 akan menghadirkan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola, yakni Halftime Show yang mengadopsi dari ajang Super Bowl. Halftime Show atau Pertunjukan Paruh Waktu ini merupakan sebuah panggung musik spektakuler yang digelar di tengah jeda pertandingan final Super Bowl (NFL) di Amerika Serikat.
Dikutip dari The Guardian, pertunjukan ini merupakan hasil kerja sama antara FIFA dan organisasi advokasi internasional Global Citizen, yang telah diberi wewenang untuk menjadi produser World Cup Halftime Show pertama ini. Kerja sama ini diumumkan sejak September 2024 lalu dalam kemitraan berjangka panjang untuk mendukung inisiatif sosial melalui kekuatan olahraga dan musik.
Konsep ini terinspirasi dari Super Bowl Halftime Show, tradisi hiburan olahraga terbesar di AS yang telah menarik jutaan mata di seluruh dunia setiap tahunnya. FIFA ingin membawa semangat serupa ke panggung sepak bola global, berusaha menghadirkan tontonan hiburan selama jeda babak pertama final Piala Dunia 2026.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara resmi mengumumkan program ini lewat akun Instagram resminya. “Saya konfirmasi bahwa untuk pertama kalinya akan ada Halftime Show pada final Piala Dunia 2026, yang akan digelar di New Jersey, bekerja sama dengan Global Citizen," ujar Infantino.
"Ini akan menjadi momen bersejarah bagi Piala Dunia FIFA dan sebuah pertunjukan yang pantas untuk acara olahraga terbesar di dunia,” ia menambahkan.
Infantino juga menegaskan peran penting sosok musik di balik layar: vokalis Coldplay, Chris Martin, bersama manajer band-nya, Phil Harvey. Mereka berkolaborasi dengan FIFA untuk memilih artis-artis yang akan tampil dan memilih arah artistik pertunjukan.
"Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Chris Martin dan Phil Harvey dari Coldplay, yang akan bekerja bersama kami di FIFA untuk menyelesaikan daftar artis yang akan tampil pada Halftime Show ini.”
Peran Chris Martin untuk pentas Halftime Show dalam final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, 19 Juli 2026, ini bukan sekadar ikon musik. Selain jadi kurator dan penghubung antara FIFA dan para musisi, keterlibatannya juga mencerminkan upaya FIFA memadukan pesan global, dari hiburan ke solidaritas.
Sama seperti sebelumnya ketika ia tampil dan berkolaborasi dalam Super Bowl Halftime Show 2016 lalu bersama dua penyanyi ternama lainnya, Beyonce dan Bruno Mars. Pertunjukan yang digelar hampir 10 tahun lalu itu kemudian menjadi salah satu panggung paling berkesan dalam sejarah acara tersebut.
Model pertunjukan ini juga telah diuji sebelumnya pada ajang FIFA Club World Cup 2025 lalu. Waktu itu Chris Martin bekerja sama dengan Global Citizen memproduseri Halftime Show yang dipenuhi oleh nama-nama besar seperti J Balvin, Doja Cat, dan Tems.
Hal ini memberi gambaran bagaimana pertunjukan skala besar yang menghadirkan musik global bisa dipadukan dengan momentum olahraga besar.
Uji coba tersebut tentunya juga untuk mengantisipasi berbagai kendala yang akan terjadi akibat perbedaan waktu jeda di sepak bola (15 menit) dan final NFL (30 menit).
Keputusan FIFA menghadirkan Halftime Show dalam final Piala Dunia 2026 merupakan pencapaian bersejarah. Sebuah perayaan global yang tidak hanya merayakan sepak bola, tetapi juga kekuatan musik sebagai bahasa universal, menandai era baru dalam cara dunia menyaksikan dan merayakan partai final Piala Dunia.