Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kedua dari kanan), bersama Presiden FIFA, Gianni Infantino, ikut bergembira bersama Timnas Spanyol usai penyerahan trofi Piala Dunia. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews – New York, Amerika Serikat
Tidak ada tim yang mampu unggul penguasaan bola ketika berhadapan dengan Spanyol di Piala Dunia 2026.
Komitmen Spanyol kepada penguasaan bola membuahkan hasil berupa gelar juara Piala Dunia 2026. Skuad asuhan Luis de la Fuente mengakhiri perlawanan Argentina dengan skor 1-0 di New Jersey New York Stadium, Senin (20/7/2026) dini hari WIB.
Gol kemenangan Spanyol tercipta pada babak tambahan waktu. Ferran Torres melepaskan tembakan keras dari dalam kotak penalti yang tak mampu dihalau kiper Argentina, Emiliano Martinez.
Spanyol bermain dengan sangat luar biasa dalam pertandingan ini. Mereka mendominasi jalannya pertandingan yang membuat Argentina kesulitan untuk mengembangkan permainan.
Statistik mencatat, tim berjuluk La Roja melakukan penguasaan bola sebanyak 65 persen. Mereka melepaskan 12 tembakan mengarah ke sasaran dari 20 percobaan yang dilakukan. Sementara Argentina hanya melepaskan dua tembakan, tetapi tak ada yang tepat sasaran.
Spanyol tak berhenti mengalirkan umpan, mencari celah, dan menjaga penguasaan bola. Tercatat mereka melepaskan 763 operan dengan tingkat akurasi 89 persen dalam pertandingan ini. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dari Argentina sebanyak 357 kali.
Kolektivitas ini membuat Spanyol tak hanya bergantung kepada satu atau dua orang pemain. Dari total 14 gol yang dicetak dari delapan pertandingan, ada delapan pemain berbeda yang mengukir namanya di papan skor.
Catatan tersebut mengingatkan publik terhadap penampilan mereka saat menjuarai Euro 2024. Rodri dan kawan-kawan berhasil mencetak 16 gol ke gawang lawan melalui 10 pencetak gol berbeda.
Gaya bermain Spanyol ini sudah dibangun sejak lama. Mereka mendasarinya dengan filosofi tiki-taka, yang terus jadi pijakan tim, meski beberapa kali terjadi pergantian pelatih.
Di Piala Dunia 2026, tidak ada satu pun tim yang berhasil unggul statistik pengusaan bola ketika berhadapan dengan Spanyol.
"Kami harus bangga dengan filosofi dan ide permainan ini. Ini adalah satu filosofi yang masih terus hidup," kata mantan gelandang Spanyol, Xavi Hernandez, dikutip dari Reuters.
Kesetiaan Spanyol terhadap dominasi penguasaan bola tidak memandang lawan. Sebelum menghadapi Argentina, mereka lebih dulu bertanding melawan Prancis, salah satu kandidat juara Piala Dunia 2026.
Prancis baru mendapat kesempatan untuk mengembangkan permainan di pertengahan babak kedua, setelah Spanyol unggul dua gol. Namun, organisasi permainan yang baik dari La Roja berhasil meredam upaya lawan mencetak gol.
Dominasi penguasaan bola dan organisasi permainan yang baik menjadi kunci performa impresif Spanyol di turnamen kali ini. Mereka bermain menyerang, tetapi hanya kebobolan satu kali.