Pelatih tim nasional Italia Gennaro Gattuso dinilai sebagai salah satu orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Gli Azzurri lolos ke Piala Dunia 2026. (TVRI/Grafis/Dede Mauladi) Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Jakarta
"Haru biru" secara umum lumayan sering disalahartikan sebagai "perasaan terharu atau sedih". Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "haru biru" bermakna "kerusuhan, keributan, kekacauan". Ungkapan itu menjadi tampak sejajar dengan kondisi sepak bola Italia, yang timnasnya berjulukan Si Biru, saat ini.
Karut-marut dalam tubuh sepak bola Italia ditegaskan dengan absennya Gli Azzurri lagi, yang sudah tiga kali beruntun, di putaran final Piala Dunia. Padahal, Italia sudah empat kali juara dunia.
Ketua federasi balbalan-nya mundur. Telat, tapi lumayan, ada rasa malunya. Namun, calcio Negeri Piza sekarang telanjur remuk kayak pasta gagal produksi. Penyebabnya konon karena banyak praktik yang mengerucut pada tergerusnya bakat lokal. Dulu banyak pemain kelas dunia, sekarang terlalu banyak pemain semenjana, kata Alessandro Del Piero, anggota tim ketika Italia terakhir kali juara dunia (2006).
Tidak ada Italia di Piala Dunia 2026 nanti tentu akan mengurangi warna persaingan atau kejutan. Penggila bola tak bisa berharap tim yang berlatar karut-marut sepak bolanya bisa membalikkan semua prediksi: tampil di podium kampiun dunia.
Entah apakah memang Italia merupakan magnet buat kericuhan. Empat gelar juara Piala Dunia yang diraih Gli Azzurri terbilang beraroma kontroversi. Propaganda fasisme Benito Mussolini di gelar pertama, skandal taruhan ilegal menjelang 1982, dan Calciopoli sebelum 2016. Titel 1938 mungkin yang paling bersih dari skandal, tapi masih ada sisa-sisa pengaruh fasisme di dalamnya, hingga muncul rumor bahwa Mussolini mengirim telegram (surat singkat kilat zaman itu, bukan aplikasi media sosial) berisi ultimatum "Vincere o morire!" yang secara harfiah berarti "Menang atau mati!".
Tak kurang, itulah gambaran renjana atau hasrat Italia mencetak kesuksesan hingga calcio menjadi patokan. Ya, sepak bola Italia pernah menjadi barometer sepak bola dunia, tak terkecuali buat Indonesia.
Enggak berlebihan bila berpendapat bahwa Serie A pada era 1990-an mendominasi siaran bola. Bintang-bintangnya dikenal seantero jagat. Setelah era Diego Maradona dan Michel Platini pada medio 80-an, AC Milan dengan trio Belanda plus barisan belakang seperti Paolo Maldini dan Franco Baresi, pemain termahal pada Ronaldo Nazario, sampai pangeran-pangeran kayak Del Piero dan Francesco Totti menjadi pujaan dunia.
Roda berputar. Hegemoni, kalau bisa dikatakan demikian, yang diperlihatkan Italia pada masa kejayaan Serie A, luntur dan pudar.
Di level timnas, enggak ada lagi Azzurri yang disegani. Sejarah bola Italia bak berada di titik nadir lagi.
***
Seabad silam, 1926, memiliki arti tersendiri buat Italia. Buat calcio, momen besarnya adalah Fiorentina berdiri dan peresmian stadion San Siro yang termasyhur sebagai rumah banyak legenda, dari Giuseppe Meazza sampai Andrea Pirlo, dari Gianni Rivera hingga Paolo Maldini, dari Giacinto Facchetti sampai Marco Materazzi (saya hampir tidak kuasa untuk tidak menulis Alessandro Bastoni...).
Yang penting buat calcio Italia ketika itu secara keseluruhan adalah transformasi struktural besar-besaran. Piagam Viareggio disodorkan untuk membentuk Divisione Nazionale. Selain menyatukan liga, pemain menjadi profesional: mendapatkan bayaran. Era bola amatir berakhir di Italia.
Perihal peralihan dari amatirisme ke profesionalisme itu mungkin juga menginspirasi FIFA. Beberapa tahun berikutnya, otoritas sepak bola dunia itu kelar menggodok rencana penyelenggaraan turnamen sepak bola yang bisa diikuti pemain pro guna berjalan sejajar dengan Olimpiade, kompetisi paling dinanti, yang nota bene berpakem amatir.
Pada 1930, Piala Dunia perdana dihelat. Italia malah memutuskan untuk tidak memenuhi undangan FIFA dengan alasan Uruguai terlalu jauh. Empat tahun kemudian, saat Italia menjadi tuan rumah, gantian Uruguai yang absen sebagai balasan.
Gli Azzurri menjadi kampiun di kandang pada 1934. Di turnamen berikutnya, Italia bisa mempertahankan gelar. Kiprah juara di dua Piala Dunia beruntun itu baru sekali diikuti, yakni oleh Brasil (1958 dan 1962). Singkat kata, Italia sudah merupakan kekuatan dahsyat pada perhelatan sebelum pecah Perang Dunia II. Dan ketika berpegang pada identitasnya, Azzurri bikin kaget dunia seperti di Piala Dunia 1982, begitu pula pada 2006.
Catenaccio menjadi identitas sepak bola Negeri Spageti yang dibahas luas. Gaya bertahan rapat bak gerbang dengan gerendel ini menyajikan kedisiplinan tingkat tinggi dengan penekanan pada organisasi permainan dan penjagaan ketat.
Tampilan itu tentu mendapat cibiran. Akan tetapi, catenaccio dikagumi juga sebab efektif. Gli Azzurri sedikit banyak menghadirkan dominasinya, bahkan mungkin hegemoninya, tersendiri dengan gaya kurang elok.
Catenaccio itu bukannya tanpa dasar. Bertahan disebut merupakan salah satu naluri terbesar rakyat Italia sejak zaman dulu untuk mempertahankan kebanggaan mereka akan tradisi historis, sosial, sampai kuliner, terhadap serbuan musuh yang mencoba menginvasi dan terhadap modernisasi.
Identitas Nasional
Imbas buruk dari Piagam Viareggio tersebut adalah semakin kuatnya cengkeraman fasisme pada sepak bola Italia. Di sisi lain, salah satu poin menarik dari Carta di Viareggio itu adalah nasionalisme yang ditandai dengan pelarangan pemain asing. Hal ini merupakan pukulan bagi klub Italia yang mengandalkan banyak legiun asing. Untuk transisinya, setiap tim hanya boleh mempertahankan dua pemain asing, dan cuma satu yang boleh dimainkan.
Meski mengusung nasionalisme, fasisme tak lain merupakan kediktatoran. Seperti halnya dalam totalitarianisme, mereka yang tidak sepaham sepengertian dianggap sebagai lawan. Eliminasi jadi nasib lawan politik penguasa yang tidak boleh kalah.
Kembali ke 1926. Empat tahun setelah Mussolini berkuasa ini ditandai dengan penangkapan Antonio Gramsci. Pemikir kontemporer neomarxisme ini dianggap subversif.
Di penjara, Antonio Gramsci tidak berhenti menulis. Jangan lupa, Gramsci adalah orang Italia. Berkelit dari sensor, ia membuat istilah baru pengganti, misalnya "kelas" dengan "kelompok sosial". Namun, bui menggerus kesehatannya. Gramsci dibebaskan pada 1937, tetapi meninggal seminggu kemudian.
Tulisan Antonio Gramsci selama di penjara dikumpulkan dan baru diterbitkan sedekade setelah ia mangkat dengan judul Quaderni del carcere (The Prison Notebook). Pokok yang paling banyak dibicarakan dari pemikiran Gramsci adalah mengenai hegemoni kultural, yang kurang lebihnya bermakna dominasi terhadap sebuah masyarakat oleh kelas berkuasa, tapi dengan memanipulasi kebudayaan, yaitu terhadap kepercayaan, norma, dan nilai-nilai, untuk menanamkan pandangan mereka terhadap dunia agar dianggap sebagai sesuatu yang alami dan masuk akal atau menjadi nalar umum.
Tidak terlalu jelas apakah Gramsci memikirkan sepak bola saat merumuskan hegemoni. Ketertarikannya pada sepak bola diperkirakan nyaris tidak ada. Saya duga salah penyebab ketidakpedulian Antonio Gramsci adalah fisiknya yang kecil dan cenderung bungkuk karena penyakit saat kecil.
Namun, mungkin juga Gramsci mulai menilai bahwa olahraga secara keseluruhan sudah dijadikan penguasa sebagai instrumen kekuasaan mereka. Piagam Viareggio mungkin sudah tercium sebagai identifikasi fasisme mengenai peningkatan popularitas calcio pada 1926. Lebih lanjut, Mussolini jelas-jelas menggunakan Piala Dunia 1934, tiga tahun sebelum Gramsci dibebaskan dari penjara hanya untuk mengembuskan napas terakhirnya beberapa hari kemudian, di Italia untuk propaganda sampai pembenaran kekuasaan fasisme dan totalitarianismenya.
Sepak bola menjadi sarana bagi Mussolini untuk mendapatkan consent (yang seizin mentor saya di Driyarkara, B. Herry-Priyono, sebelum beliau mangkat, diterjemahkan sebagai "kesetujuan" karena menyertakan kondisi mental kultural, daripada sekadar "penerimaan") yang merupakan elemen penting dalam hegemoni kultural yang dimaksudkan Gramsci. Kesetujuan, alih-alih tekanan kekerasan atau koersi, yang memunculkan hegemoni.
Dan, rasanya tak berlebihan bila mengatakan bahwa olahraga secara umum dan sepak bola secara khusus tidak pernah bisa terpisah sepenuhnya dari politik. Bahkan, terdapat pendapat bahwa sepak bola itu politis: tidak pernah netral, melainkan sebuah "arena pertempuran" nalar-nalar umum (common sense) dan ideologi. Ia bisa berlaku sebagai cermin pengembangan sosial dan alat bagi identitas nasional, kekuasaan, dan pengaruh geopolitis. Piala Dunia atau Olimpiade kerap melibatkan kebanggaan nasional dan kekuatan ekonomis sehingga sulit dipisahkan dari politik.
Selain Mussolini di Italia, sepak bola dipakai rezim komunis di Yugoslavia untuk membentuk identitas etnis. Pergerakan separatis etnis lain memakai cara serupa: dengan sepak bola. Kisah kapten Dinamo Zagreb, Zvonimir Boban, menendang seorang polisi Yugoslavia yang menyerang penggemar Dinamo saat klubnya menghadapi Crvena Zvezda (Red Star Beograd) dianggap sebagai simbol awal perlawanan yang berujung pada kemerdekaan Kroasia dari Yugoslavia.
George Weah memanfaatkan ketenarannya untuk naik ke tampuk pemerintahan Liberia pada 2017. Mikheil Kavelashvili, eks Man. City, menjadi presiden Georgia pada 2024. Rasanya ada lumayan banyak pula orang yang mencoba mendaki kekuasaan lewat jalur olahraga, misalnya menjadi ketua federasi terlebih dahulu.
***
Demikian kerangka pemikiran Antonio Gramsci sering dipakai secara luas untuk membedah kondisi-kondisi kontemporer. Bila dikaitkan dengan olahraga, termasuk tentu balbalan, pandangan Gramscian dapat dipakai untuk menyorot isu seperti pendisiplinan tubuh hingga maskulinitas kaum laki-laku yang hegemonis terhadap kaum perempuan.
Hegemoni kultural yang ia kedepankan terbilang membuat Gramsci layak dianggap sebagai salah satu pemikir Italia yang paling berpengaruh setelah Niccolo Machiavelli. Pada taraf tertentu, keduanya terhubung. Gramsci, lewat kajian yang ditugaskan oleh mentor saya yang lain, A. Sudiarja, tampak mengambil inspirasi besar dari Machiavelli.
Yang utama, saat banyak yang memandang Machiavelli sebagai pemberi landasan bagi kediktatoran melalui Il Principe, Gramsci melihat pendahulunya itu sebagai humanis yang justru melihat pentingnya rakyat dalam persamaan kekuasaan, seperti yang ditafsirkan Alastair B. Davidson dalam karyanya, Gramsci and Reading Machiavelli. Buat Antonio Gramsci, Sang Pangeran Machiavellian menyatu dengan rakyat, mewujudkan penguasaan baru berkarakter populo, rakyat.
Dalam situasi sulit seperti sekarang, terutama dengan absennya jadi Gli Azzurri, rakyat Italia mungkin berharap tangan besi Sang Pangeran yang otoriter lagi sekurangnya di federasi mereka, FIGC. Pembinaan, yang lama menjadi fondasi kekuatan calcio Italia, disebut melemah karena praktik-praktik buruk. Kalau demikian, mungkin rakyat Italia akan menanti lebih lama lagi untuk melihat Azzurri di Piala Dunia. Mungkin mereka, rakyat yang rindu kebahagiaan instan, kira-kira seperti roti dan sirkus yang ditawarkan Sang Pangeran, mengeluh dalam hati, "Tak usah berharap hegemoni dulu lah. Dominasi dengan koersi pun jadi."