Trofi Piala Dunia dipamerkan di Jakarta. Foto: TVRI/Nicklas Hanoatunun
TVRINews - Zurich, Swis
Mengenang Silvio Gazzaniga, sosok di balik kegembiraan tertinggi sepak bola dunia.
Silvio Gazzaniga lahir di Milan pada 23 Januari 1921. Ia belajar untuk menjadi pematung di sekolah seni di Lombardia, Milan. Lebih lanjut, studi Silvio Gazzaniga berfokus pada seni rupa logam dan perhiasan. Setelah Perang Dunia II , Silvio memulai karier sebagai perupa medali, piala, dan dekorasi.
Pesanan terbesar untuk Silvio Gazzaniga datang setelah musim panas 1970. Setelah menjuarai Piala Dunia 1970 yang diadakan di Meksiko, Brasil wajib membawa pulang trofi Jules Rimet untuk dimiliki. Pasalnya, aturan FIFA menyebutkan bahwa tim yang sudah tiga kali juara bisa memiliki trofi tersebut.
FIFA membutuhkan trofi baru untuk menggantikan piala Jules Rimet itu. Sayembara pun digelar. Sebanyak 53 rancangan disodorkan para seniman dari berbagai negara. Desain Silvio Gazzaniga terpilih sebagai pemenang.
"Patung" emas karya Silvio Gazzaniga itu berupa dua figur manusia seperti keluar dari dasar. Dua figur itu merentangkan kedua tangannya ke atas untuk menahan bola dunia.
Emas pembentuk trofi ini berkadar 18 karat. Piala yang paling diminati oleh pesepak bola dunia ini bertinggi 36,8 cm, dan bobotnya lumayan berat, sekitar 6,1 kg.
"Gagasannya adalah untuk menciptakan sesuatu yang melambangkan pengerahan tenaga, dinamisme, dan luapan kebahagiaan atlet pada momen kemenangan, dengan semua kegembiraan yang merasuk," demikian Gazzaniga menjelaskan dalam interviu dengan FIFA beberapa tahun sebelum wafatnya pada 2016.
"Figur-figur yang mencuat dari dasar membangkitkan semacam perasaan kebahagiaan dalam kemenangan. Cincin malasit (malachite, batu mineral karbonat hidroksida tembaga yang berwarna hijau cerah) di dasar menjadi pas dengan ukiran karena warna hijaunya, seperti lapangan sepak bola, selain karena nilainya yang tinggi," lanjut Gazzaniga ketika itu.
Tidak seperti Trofi Jules Rimet, pendahulunya, Piala Dunia buatan Gazzaniga tidak akan diberikan kepada tim mana pun. FIFA akan selalu menjadi pemilik trofi ini, tak peduli berapa kali sebuah tim juara.
Ilustrasi Trofi Piala Dunia
Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
Paling Masyhur
Pemenang Piala Dunia akan diberikan trofi di lapangan setelah final usai. Sang juara akan merayakan kejayaan mereka dengan bergaya bersama trofi emas tersebut. Namun, setelah perayaan, kampiun akan diberikan FIFA World Cup Winner's Trophy untuk turnamen edisi tahun itu. Nah, negara juara bisa membawa pulang trofi tiruan ini. Trofi asli kembali ke Zurich, Swis.
Museum FIFA di Zurich menjadi rumah tetap buat trofi asli karya Silvio Gazzaniga. Tentu saja karya besar Gazzaniga ini menjadi salah satu daya tarik museum. Berfoto di dekat piala agung ini seperti menjadi kewajiban bagi pengunjung museum.
Pada awal pekan ini, hadir tiga pengunjung yang emosional melihat trofi tersebut. Mereka adalah Giorgio, Gabriella, dan Tomaso, masing-masing adalah putra, putri, dan cucu dari Silvio Gazzaniga.
"Piala ini sudah kayak adik perempuan saja buat saya!" seru Giorgio seraya mendekati karya terbesar ayahnya seperti digambarkan oleh situs resmi FIFA.
Tomaso Bonazzi menyorot revolusi artistik pada mahakarya kakeknya tersebut. "Terdapat 'pra-' dan 'pasca-' era Gazzaniga. Sebelumnya, bentuk trofi-trofi kaku dan persegi. Kakek saya memperkenalkan pendekatan pemodelan baru. Trofi dibentuk sebagai sebuah patung, menghasilkan semacam pergerakan yang cair dan hangat pada bahannya," ucap Tomaso.
Putri Silvio, Gabriella, mengenang sikap sang ayah ketika mengerjakan proyek-proyek seninya. "Ia paling bahagia saat bekerja. Pekerjaan ini sungguh merasuki hatinya," kenang Gabriella.
Setelah Piala Dunia, ketenaran Silvio Gazzaniga meroket. Sang perupa mendesain pula trofi untuk Piala UEFA atau Liga Europa (pada 1972), dan Piala Super Eropa (1973).
Kemahiran Silvio Gazzaniga menyertai kegembiraan banyak pesepak bola ternama. Namun, Piala Dunia tentu menjadi buah karya Gazzaniga yang paling didambakan. Ya, Piala Dunia merupakan karya paling masyhur dari tangan Silvio.