TVRINews – London, Inggris

Bola sepak resmi Piala Dunia 2026, Adidas Trionda, yang harganya mencapai 130 poundsterling diproduksi oleh pekerja dengan upah hanya 26 poundsterling per minggu

Para petinggi sepak bola menghasilkan jutaan dolar Amerika dari Adidas Trionda, bola resmi Piala Dunia 2026, para pekerja produksi di Pakistan justru berjuang untuk memberi makan keluarga mereka.

Para aktivis pun menyerukan agar mereka—utamanya para buruh pembuat bola—dibayar cukup untuk hidup dengan bermartabat.

Adidas Trionda adalah bola sepak resmi termahal dalam sejarah Piala Dunia, yang diproduksi hingga saat ini. Penjualan bola itu pun menghasilkan kekayaan bagi raksasa olahraga dan para petinggi sepak bola.

Namun bola tersebut—yang dihiasi dengan warna-warna bendera tiga negara tuan rumah Piala Dunia 2026, yakni Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko—diproduksi dengan harga yang jauh lebih murah.

Forward Sports (kadang sering disebut Forward Group)—perusahaan asal Pakistan, partner pemasok raksasa olahraga global Adidas—membayar sebagian pekerja lini produksinya di Sialkot, Punjab, dengan upah minimum 40 ribu rupee Pakistan per bulan atau setara 106 poundsterling (sekitar Rp2,5 juta).

“Fakta bahwa bola-bola sepak ini dijual dengan harga lebih dari 100 poundsterling sementara anak-anak dari orang-orang yang membuatnya tidak mampu membelinya menandakan kegagalan akuntabilitas yang jelas,” ujar Anna Bryher, aktivis dari Labour Behind the Label di Inggris. 

“Adidas dan FIFA harus bertanggung jawab atas seluruh rantai pasokan mereka dan memastikan semua pekerja yang membuat bola sepak menerima upah yang memungkinkan mereka untuk hidup bermartabat. 

“Apa arti permainan yang adil jika simbol paling ikonik dari permainan ini dibangun di atas eksploitasi?” kata Bryher seperti dikutip The Sun.

Forward Group berhasil mendapatkan kontrak dengan Adidas untuk memproduksi sekitar 10 juta bola Trionda menjelang dimulainya Piala Dunia 2026 bulan depan (tepatnya 11 Juni).

Di pengecer resmi, kisaran harga bola Adidas Trionda mulai dari 13 poundsterling (Rp307 ribu) untuk versi mini hingga 130 poundsterling (Rp3,06 juta) untuk versi profesional.

Dengan harga tertinggi menembus 130 poundsterling, Adidas Trionda menjadi bola resmi termahal turnamen sepak bola yang pernah dibuat. 

Adidas sudah menegaskan bahwa bola-bola tersebut diproduksi di bawah kondisi kerja yang adil dan aman, termasuk upah yang layak. 

Namun, banyak pekerja produksi kesulitan memberi makan keluarga mereka setelah Perang Iran memicu kenaikan harga bahan bakar, yang telah mendorong tingkat inflasi Pakistan hingga 10,9 persen.

Kesulitan para pekerja terungkap ketika para petinggi FIFA membanggakan kepemimpinan etis mereka dalam “Beautiful Game” — dengan bintang-bintang seperti kapten Inggris Harry Kane yang siap untuk apa yang disebut “greatest show on Earth”.

Kota Sialkot telah dihantui oleh klaim “kerja paksa” di pabrik-pabrik selama bertahun-tahun setelah menjadi pusat manufaktur global yang memproduksi 70 persen dari seluruh bola sepak di dunia. 

Perusahaan-perusahaan telah diguncang oleh skandal tudingan tenaga kerja termasuk anak-anak dan bahwa pekerjaan dialihdayakan ke subkontraktor ilegal yang menawarkan upah dan kondisi kerja yang buruk.

Forward Sports telah menjadi rekanan Adidas sejak 1994 dengan spesialisasi memproduksi bola sepak kualitas tinggi. Tidak heran jika dari hasil memasok bola untuk Piala Dunia seperti pada tahun 2014, 2018, dan 2022, telah menjadikan mereka produsen bola sepak terbesar di wilayah tersebut. 

Forward Sports yang telah mendapatkan serangkaian kontrak bernilai besar pun membanggakan diri telah membersihkan praktik ketenagakerjaannya. 

Adidas menyatakan telah memantau dan memeriksa secara saksama pabrik besar perusahaan tersebut, yang diperkirakan mempekerjakan sekitar 20 ribu pekerja.

Kendati Forward Group maupun Adidas mengklaim sangat berhati-hati soal urusan buruh, gaji para karyawan di lini produksi masih jauh lebih rendah dibandingkan gaji di negara-negara maju.

Agen serikat pekerja Asif Khan dari Federasi Pekerja Pakistan menjelaskan, sebelumnya ada banyak pekerja anak dan pekerja perempuan yang dieksploitasi. 

Namun kini sudah cukup berubah kendati sebagian besar pekerja anak dan mereka yang diberi upah rendah sekarang telah pindah ke distrik Narowal. Hal itu terjadi sejak Adidas mengancam akan menutup operasinya di Sialkot dan masuknya Nike dalam pembuatan bola sepak di sana.

Menurut Khan, seorang pekerja baru di Forward Group bisanya memulai gaji sekitar Rp2,5 juta per bulan. Adapun mereka yang telah bekerja lebih lama mendapatkan antara 45 ribu rupee Pakistan (Rp2,8 juta) dan 50 ribu rupee Pakistan (Rp3,1 juta).

Namun, Khan mengklaim bahwa ia telah melihat beberapa staf dibayar lebih rendah daripada angka-angka di atas. “Saya terus berusaha memperjuangkan hak-hak buruh di pengadilan,” ujarnya.

“Sebagian besar tenaga kerja kami adalah pekerja semi-terampil yang menerima upah jauh di atas upah minimum. Kurang dari satu persen tim kami bekerja dengan upah minimum nasional,” ujar Hassan Khawaja, Direktur Operasional Forward Group.

“Tim kami beroperasi maksimal delapan jam kerja sehari, dan jika kami memiliki pesanan yang signifikan, kami menerapkan sistem kerja bergilir.”

Indah dan Canggih

Dengan harga Rp3 jutaan, bola Adidas Trionda memang tidak hanya indah namun juga dijejali sejumlah teknologi canggih. 

Dari sisi desain, warna Trionda—dari kata “tri” (tiga) dan “onda” (gelombang dalam bahasa Spanyol)—yang didominasi merah, biru, dan hijau melambangkan tiga negara tuan rumah Piala Dunia 2026.

Permukaan bola dihiasi simbol negara tuan rumah seperti bintang milik AS, daun pohon maple asal Kanada, dan elang untuk Meksiko. Sedangkan detail emas pada grafis merepresentasikan penghormatan terhadap trofi Piala Dunia. 

Di struktur bola, jumlah panel Adidas Trionda juga dikurangi menjadi empat yang disatukan dengan presisi sehingga bola tetap stabil saat melayang. Garis jahitan dan relief khusus di permukaan bola membantu menciptakan aerodinamika ideal. 

Sementara emboss pada permukaan bola bisa meningkatkan grip sehingga pemain dapat mengontrol bola lebih baik, bahkan saat lapangan dalam kondisi basah. 

Adidas Trionda juga dilengkapi teknologi canggih berupa sensor gerak berfrekuensi 500 Hz yang mampu mengirim data 500 kali per detik. Sensor tersebut merupakan bagian dari teknologi yang disebut Connected Ball Technology milik Adidas. 

Dengan bantuan akselerometer dan giroskop di dalam bola, tiap sentuhan pemain (baik tendangan, sundulan, atau bahkan sentuhan kecil) dapat direkam secara real-time

Data ini kemudian dikirim langsung ke sistem Video Assistant Referee (VAR), sehingga membantu wasit dalam mengambil keputusan penting, seperti menentukan momen umpan saat offside atau memastikan apakah terjadi handball