Trofi Piala Dunia dipamerkan di Jakarta. Foto: TVRI/Nicklas Hanoatunun
TVRINews – New Jersey, Amerika Serikat
Memiliki berat 6,175 kilogram emas 18 karat, dalam sebuah lelang hipotetis, harga trofi Piala Dunia bisa mencapai angka yang fantastis.
Final turnamen sepak bola tertinggi yang digelar tahun ini, Piala Dunia 2026, akan berlangsung pada Minggu (19/7/2026) petang waktu New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat (AS). Spanyol, kampiun tahun 2010, akan menghadapi Argentina, jawara tahun 1978, 1986, dan 2022.
Pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol melawan Argentina akan digelar di New York New Jersey Stadium, East Rutherford, Amerika Serikat, pada Minggu (19/7/2026) petang waktu setempat.
Partai puncak Piala Dunia edisi ke-23 ini akan disiarkan secara langsung oleh TVRI Sport dan TVRI Nasional pada Senin (20/7/2026) mulai pukul 01.00 dini hari WIB.
Ya, Spanyol dan Argentina akan memperebutkan trofi paling bernilai dalam dunia olahraga, Piala Dunia. Trofi ini merupakan sebuah mahakarya seberat 6,175 kilogram yang terbuat dari emas 18 karat.
Mengacu fisik, nilai trofi ini—berdasarkan harga pasar logam tersebut—berkisar antara 250 ribu hingga 300 ribu dolar AS (sekitar Rp4,48 miliar sampai Rp5,38 miliar).
Namun begitu, para ahli memperkirakan bahwa trofi Piala Dunia sebagai benda unik dan tidak ternilai dari sudut pandang budaya, sehingga harganya dalam sebuah lelang hipotetis akan mencapai angka yang fantastis.
Trofi Piala Dunia yang menanti Spanyol atau Argentina hari Minggu ini di New York memang memukau berkat sejarah dan material logam pembuatnya, namun kenyataannya trofi ini menyimpan masa lalu yang penuh misteri dan pencurian konyol, bahkan pernah mengukuhkan seekor hewan berkaki empat sebagai pahlawan serta bersinggungan dengan tragedi.
Inilah perjalanan evolusi sebuah penghargaan yang telah dua kali berganti wujud dan berhasil selamat dari perang.
Trofi Jules Rimet (1930–1970)
Awalnya hanya dikenal dengan nama Victory, trofi ini dirancang oleh pematung asal Prancis, Abel Lafleur. Patung tersebut menggambarkan Nike—dewi kemenangan dalam mitologi Yunani—dan dibuat dari perak sterling berlapis emas dengan alas yang terbuat dari batu semimulia lapis lazuli.
Trofi yang kemudian dinamai Jules Rimet—diambil dari nama Presiden FIFA pertama—itu hanya berukuran 35 sentimeter dan beratnya 3,8 kilogram. Karena dimensinya yang begitu “kompak”, pada tahun 1950-an alasnya harus dimodifikasi dan diperpanjang agar sesuai dengan plakat yang bertuliskan nama-nama juara baru.
Namun, yang benar-benar menarik dari trofi pertama ini adalah kemampuannya untuk bertahan, setidaknya pada awalnya.
Lolos dari Perang Dunia II
Selama Perang Dunia II, dengan Italia sebagai juara bertahan setahun sebelumnya (1938), Wakil Presiden FIFA Ottorino Barassi khawatir bahwa pasukan Nazi maupun fasis Italia yang beraliansi, akan menyita emas piala tersebut.
Dalam tindakan yang berani, ia diam-diam mengambilnya dari sebuah bank di Roma, Italia, dan menyembunyikannya di bawah tempat tidurnya, di dalam sebuah kotak sepatu tua.
Tentara Jerman memang menggeledah rumahnya dari atas ke bawah. Namun, mereka tidak pernah terpikir untuk melihat ke dalam kotak tersebut. Berkat Barassi, trofi Victory pun tidak jatuh ke tangan pihak-pihak yang tengah berkonflik dalam Perang Dunia II.
Hilang di London dan Kisah Kepahlawanan Seekor Anjing
Pada tahun 1966, hanya beberapa bulan sebelum Piala Dunia di Inggris, trofi tersebut dicuri di London. Berita tersebut menyebabkan ejekan internasional terhadap Scotland Yard, yang saat itu sedang menangani tuntutan tebusan anonim.
Beberapa hari kemudian, seorang warga bernama David Corbett mengajak anjingnya yang dinamai, Pickles, seekor anjing jenis Border Collie hitam putih, berjalan-jalan.
Anjing itu mengendus sebuah paket mencurigakan yang dibungkus koran di dekat roda mobil. Setelah membukanya, Corbett menemukan siluet dewi Nike.
Pickles menjadi pahlawan nasional, mendapatkan makanan gratis seumur hidupnya, dan menjadi tamu kehormatan di jamuan makan malam perayaan gelar juara Three Lions.
Dua Puluh Tahun Setelah Maracanazo, Tragedi Lain Terjadi di Brasil
Tepat 20 tahun setelah tragedi yang kemudian dikenal dengan nama Maracanazo—saat Brasil secara mengejutkan kalah dari Uruguai di laga final Piala Dunia 1950 di Stadion Maracana—Canarinha akhirnya berhasil menjadi yang terbaik di dunia.
Karena berhasil memenangi Piala Dunia 1970 di Meksiko—gelar ketiga mereka saat itu, sesuai janji FIFA, Brasil pun berhak menyimpan Trofi Jules Rimet untuk selamanya.
Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) memamerkan trofi tersebut di dalam lemari pajangan di Rio de Janeiro, dengan perlindungan yang minim—hanya kaca antipeluru di bagian depan.
Hal yang mencengangkan sekaligus konyol adalah tidak ada seorang pun yang menyadari kesalahan fatal membiarkan mahakarya tersebut hanya dilindungi oleh bingkai kayu biasa di bagian belakangnya.
Alhasil, pada bulan Desember 1983, para pencuri memanfaatkan kelemahan ini dan menggunakan alat pengungkit untuk membongkar bagian kayunya. Trofi Jules Rimet asli pun lenyap selamanya.
Berdasarkan pengakuan pihak-pihak yang terlibat, piala legendaris itu dilebur oleh seorang ahli perhiasan asal Argentina bernama Juan Carlos Hernandez. Setidaknya, itulah versi polisi pada saat itu.
Hernandez sempat ditangkap dan diperiksa, namun tidak pernah ditemukan jejak emas dengan tingkat kemurnian yang sama seperti pada trofi Jules Rimet.
Bertahun-tahun kemudian, banyak sejarawan dan ahli menyimpulkan bahwa piala tersebut tidak dilebur, mengingat nilai logamnya saat itu sangat kecil dibandingkan dengan risiko yang harus ditanggung untuk melakukannya.
Sebaliknya, teori yang menyatakan bahwa trofi itu dijual kepada kolektor pribadi di pasar gelap dan kini tersimpan secara tersembunyi di suatu tempat di dunia justru lebih banyak dipercaya.
Saat ini, diperkirakan bahwa jika trofi Jules Rimet tersebut dilelang, nilainya akan melampaui 10 juta dolar AS (setara sekitar Rp179,5 miliar dengan kurs saat ini).
Dari benda yang kini tinggal menjadi angan-angan itu, Konfederasi Sepak Bola Brasil menyimpan replika persisnya yang disumbangkan oleh FIFA pada tahun 1984.
Mahakarya Lain Mulai 1974 dengan Batas Waktu Penggunaan
FIFA kemudian meluncurkan kompetisi global dan menerima 53 usulan desain. Pemenangnya adalah pematung asal Italia, Silvio Gazzaniga, yang mengajukan desain setinggi 36,5 sentimeter dengan dua cincin batu malakit hijau di bagian dasarnya, serta memiliki berat tepat 6,175 kilogram yang terbuat dari emas padat 18 karat.
Berbeda dengan anggapan umum, bagian dalam trofi ini sebenarnya berongga. Apa alasannya? Jika trofi ini sepenuhnya padat, beratnya akan mencapai antara 70 hingga 80 kilogram. Dengan kata lain, kapten dan para pemain dari tim juara akan hampir mustahil untuk mengangkatnya.
Nama-nama tim juara diukir pada bagian dasar mahakarya ini dalam bahasa asli masing-masing negara, seperti “1974 Germany” atau “2022 Argentina”.
Baik Spanyol maupun Argentina tentu sangat ingin dapat kembali mencantumkan namanya dalam daftar tersebut pada laga dini hari nanti.
Sebelumnya, nama Argentina—juara edisi empat tahun lalu di Qatar—tercantum di bagian dasar tersebut bersama dengan statusnya sebagai pemenang edisi tahun 1978 dan 1986.
Diperkirakan bahwa ruang fisik untuk terus menambahkan pelat nama juara hanya akan cukup hingga Piala Dunia 2038. Setelah edisi tersebut, FIFA mau tidak mau harus mengubah struktur trofi saat ini atau menugaskan pembuatan desain trofi ketiga dalam sejarah.