TVRINews – Roma, Italia

Sepak bola Italia bisa kehilangan posisi sebagai olahraga ikonik negara tersebut menyusul kesulitan menembus Piala Dunia di tiga kesempatan beruntun.

Italia baru saja mencetak rekor di Olimpiade Musim Dingin. 

Kimi Antonelli baru saja menjadi pembalap termuda kedua pada usia 19 tahun yang memenangi balapan Formula Satu (F1) dan dianggap sebagai bintang masa depan di dunia balap mobil.

Tim rugbi Azzurri mengalahkan Inggris untuk pertama kalinya di Six Nations. 

Jannik Sinner kembali meraih kemenangan di lapangan tenis. 

Tim putra dan putri Italia adalah juara dunia voli. 

Bahkan Italia, negara yang tidak begitu mengenal cabang olahraga bisbol dan kriket, tim nasional mereka pun baru-baru ini telah memecahkan rekor.

Namun, ada satu tim besar dari Italia yang masih terus berjuang. Tim sepak bola pria yang dulunya dominan ini berisiko gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut (setelah 2018 dan 2022).

Juara Piala Dunia empat kali (1934, 1938, 1982, 2006) ini perlu mengalahkan Irlandia Utara di kandang sendiri dalam babak play-off kualifikasi zona Eropa pada hari Kamis (26/3/2026) di Bergamo. 

Jika menang, Gli Azzurri masih harus Wales atau Bosnia dan Herzegovina di kandang lawan untuk menghindari setidaknya 18 tahun tanpa pernah bermain di ajang sepak bola terbesar itu. 

“Olahraga adalah tentang siklus, tetapi siklus dalam sepak bola ini telah berlangsung terlalu lama,” kata Andrea Abodi, Menteri Olahraga Italia, seperti dikutip harian yang berbasis di Turin, La Stampa.

Generasi yang berusia di bawah 15 tahun dipastikan tidak memiliki ingatan tentang terakhir kali Italia bermain di Piala Dunia, terutama saat kalah dari Uruguai 0-1 di fase grup pada tahun 2014 di Brasil yang diingat karena gigitan Luis Suarez di bahu Giorgio Chiellini.

“Bagi generasi-generasi Italia, Piala Dunia adalah saat ketika negara bersatu dan mengibarkan bendera kami,” kata Abodi. 

“Semangat nasional kami sekarang meluas melampaui sepak bola. Tetapi akan tetap menyenangkan untuk berbagi emosi itu dengan penggemar yang lebih muda.” 

Kampanye kualifikasi Italia hancur di pertandingan pembuka dengan kekalahan 0-3 dari tuan rumah Norwegia yang diperkuat Erling Haaland, yang menyebabkan pelatih Luciano Spalletti digantikan oleh Gennaro Gattuso.

Gli Azzurri kemudian meraih enam kemenangan beruntun sebelum kembali kalah dari Norwegia yang bertandang ke San Siro pada bulan November dengan skor 1-4. Finis di posisi kedua grup memaksa Italia kembali harus bermain di babak play-off

Yang membuat khawatir, saat absen di dua Piala Dunia sebelumnya, 2018 dan 2022, Italia juga kandas di babak play-off. Italia tersingkir oleh Swedia sebelum Piala Dunia 2018 dan oleh Masedonia Utara pada tahun 2022.

Menempati peringkat ke-13 dunia, Italia akan menjadi favorit kuat melawan Irlandia Utara yang berada di peringkat ke-69 di semifinal play-off A Eropa. 

Namun, Italia harus ingat bahwa pada pertemuan terakhir mereka, hasil imbang 0-0 di Belfast pada tahun 2021 membuat Gli Azzurri—yang saat itu baru saja juara Eropa—harus bermain di babak play-off untuk Piala Dunia 2022.

Italia telah memenangi seluruh tujuh pertandingan kandangnya melawan Irlandia Utara sejak April 1957, laga kualifikasi Piala Dunia 1958. 

Di sisi lain, kapten Irlandia Utara yang juga bek kanan Liverpool FC, Conor Bradley, sedang cedera. 

Pelatih Irlandia Utara Michael O'Neill juga diangkat menjadi manajer Blackburn Rovers pada 13 Februari lalu dalam kesepakatan yang membuatnya membagi tugas antara menangani tim nasional dan skuad yang kini turun di EFL Championship (level II Liga Inggris).

Tak Pernah Lagi Lolos ke Fase Gugur 

Kemunduran Italia di Piala Dunia sejatinya sudah berlangsung sejak 2010 dan 2014, ketika mereka gagal lolos dari babak grup pada kedua kesempatan tersebut.

Praktis, pertandingan babak gugur Piala Dunia terakhir Gli Azzurri adalah ketika mereka memenangi gelar pada tahun 2006 dengan mengalahkan Prancis melalui adu penalti — pada pertandingan yang lebih diingat karena Zinedine Zidane menanduk Marco Materazzi.

Jadi, bukan kebetulan jika anggota skuad 2006 terlibat dalam upaya membangkitkan kembali keberuntungan Gli Azzurri — dimulai dengan Gattuso. 

Mantan kiper Gianluigi Buffon, yang memegang rekor dengan 176 penampilan untuk Italia, adalah kepala delegasi tim nasional dan berperan dalam pemilihan Gattuso.

Selain itu, mantan bek sayap Gianluca Zambrotta dan mantan gelandang Simone Perrotta bekerja di program pengembangan pemain muda Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). 

Namun, bahkan dengan Gattuso dan Buffon yang menyampaikan argumen mereka, tim nasional tidak mampu meyakinkan otoritas sepak bola untuk mengadakan kamp pelatihan dalam empat bulan sejak Italia terakhir kali bermain. 

Sebaliknya, Gattuso dan Buffon terpaksa melakukan tur keliling Italia — ditambah perjalanan ke London, Arab Saudi, dan Qatar — sekadar untuk makan malam bersama para pemain dan menjaga semangat tim. 

Serie A juga telah berubah drastis, dari tujuan bagi pemain terbaik dunia pada tahun 1990-an dan awal 2000-an menjadi kompetisi yang sekarang menarik pemain-pemain yang sudah melewati masa jayanya dari liga lain. 

Ujungnya, tidak ada klub Italia yang berhasil memenangi kompetisi paling bergengsi Eropa, Liga Champions, sejak Inter Milan terakhir melakukannya pada tahun 2010. 

Italia memenangi Kejuaraan Eropa (Euro) di bawah Roberto Mancini pada tahun 2021. Tetapi di bawah Mancini pula Azzurri gagal lolos ke Piala Dunia tahun berikutnya. 

Mancini lantas meninggalkan tim dalam kekacauan dengan mengundurkan diri untuk menerima pekerjaan menggiurkan sebagai pelatih Arab Saudi pada tahun 2023.

Alhasil, Spalletti yang menggantikan posisi Mancini hanya memiliki sedikit waktu untuk mempersiapkan Italia untuk Euro 2024. Semua tahu, Azzurri akhirnya tersingkir oleh Swis di babak 16 besar. 

Dengan mengingat kesulitan tim nasional, Presiden FIGC Gabriele Gravina pekan lalu meluncurkan program pengembangan pemain muda baru yang menurutnya bertujuan untuk “mengatasi taktik ekstrem yang benar-benar membuat dirinya khawatir”.

Gravina menyarankan klub-klub dan para pelatih Italia untuk menjauhi taktik defensif yang memprioritaskan “menang dengan segala cara”. 

Mungkin tim sepak bola juga dapat belajar beberapa pelajaran dari kesuksesan Italia di cabang olahraga lain.