TVRINews - Mexico City, Meksiko

Guillermo Ochoa tampil gemilang saat Meksiko menahan tuan rumah Brasil pada Piala Dunia 2014 dan juara bertahan Jerman pada 2018, serta menahan penalti Lewandowski pada 2022.

Momen itu terjadi di Stadion 974, Doha, 22 November 2022 dalam ajang Piala Dunia 2022 di Qatar. Ketika itu kiper Timnas Meksiko, Guillermo Ochoa, tercatat tampil di Piala Dunia kelimanya. 

Dengan catatan itu, artinya ia resmi bergabung dalam kelompok eksklusif bersama sesama kiper Antonio Carbajal, Rafael Marquez, dan Andres Guardado sebagai pemain Meksiko dengan jumlah partisipasi terbanyak di Piala Dunia.

Bahkan tidak hanya itu, Ochoa saat itu juga menyamai rekor kiper legendaris Italia, Gianluigi Buffon, sebagai kiper yang dipanggil di lima Piala Dunia berbeda. Itu menandakan bahwa meski namanya tidak setenar Buffon, Ochoa membuktikan diri bisa mencapai prestasi setara kiper papan atas dunia. 

Kembali ke Qatar 2022, lawan El Tri pada laga itu adalah Polandia, dan hasil imbang 0-0 di laga pembuka tersebut membuat wakil CONCACAF itu tetap memiliki peluang hingga pertandingan terakhir Grup C. 

Momen kunci terjadi menit ke-57, ketika Ochoa menepis penalti Robert Lewandowski. Para fans di sekolah-sekolah, kantor, dan pesta jalanan di Meksiko merayakan penyelamatan itu layaknya sebuah gol, mengukuhkan Ochoa sebagai pahlawan Piala Dunia. 

Sayangnya, pada akhirnya Meksiko secara menyakitkan gagal lolos ke babak berikutnya karena kalah selisih gol dari Polandia, walau sama-sama meraup 4 poin. 

Itulah status yang telah Ochoa bangun sejak tampil gemilang saat menahan imbang tuan rumah Brasil pada Piala Dunia edisi 2014 dan juara bertahan Jerman pada 2018.

Meski harus menelan kekecewaan karena tersingkir di fase grup di Qatar, Ochoa membantu Meksiko meraih gelar CONCACAF Gold Cup 2023. Itu merupakan gelar kelimanya, membuatnya melampaui Landon Donovan dan DaMarcus Beasley sebagai pemain dengan gelar terbanyak di kompetisi tersebut.

Pertanyaan sekarang adalah, mungkinkah Ochoa menambah satu lagi Piala Dunia ke dalam CV-nya pada 2026? Jawabannya, sangat mungkin. 

Belum lama ini pelatih Javier Aguirre kembali memanggil Ochoa dalam skuad Timnas Meksiko untuk laga uji coba menghadapi Portugal dan Belgia pada 28 dan 31 Maret 2026 lalu.

Meskipun hanya duduk di bangku cadangan dalam dua laga itu, pemanggilan Ochoa menandakan Aguirre masih butuh tenaga Ochoa. Terlebih Meksiko baru saja kehilangan kiper Luis Malagon, yang mengalami cedera pergelangan kaki (tendon Achilles) sehingga memaksanya absen dari gelaran Piala Dunia 2026.

Meksiko akan menjadi tuan rumah ajang empat tahunan itu bersama Amerika Serikat dan Kanada. Turnamen akan dibuka di stadion ikonik Estadio Azteca, tempat sang veteran pernah bermain selama beberapa tahun bersama Club America. 

Walau telah berusia 40 tahun dan memiliki lebih dari 150 caps Timnas Meksiko, Ochoa menyatakan keinginannya mencapai Piala Dunia keenam yang akan jadi rekor baru. Meskipun, ia hanya bermain dalam tiga dari lima edisi sebelumnya (Ochoa hanya jadi penghangat bangku cadangan di Piala Dunia 2006 dan 2010). 

Ochoa menegaskan ambisi tersebut saat diperkenalkan oleh klub Portugal, AVS Futebol SAD, pada 2024. Ia sekaligus menjelaskan bahwa keputusannya menolak tawaran lain serta pindah ke AVS didorong oleh keinginan mendapatkan waktu bermain di liga kompetitif demi target Piala Dunia 2026. 

Namun, persaingan untuk posisi kiper tampak sangat sengit, dengan beberapa penjaga gawang lain telah menjadi starter bagi El Tri dalam dua tahun terakhir. Ochoa sendiri hanya bertahan satu musim di AVS, kini ia bermain untuk AEL Limassol di Liga Siprus.

Bangun Identitas

Setelah tersingkir di Qatar (pertama kalinya sejak Piala Dunia 1978 gagal melampaui babak grup), Timnas Meksiko bekerja keras membangun kembali identitasnya. 

Pensiunnya pemain seperti Andres Guardado dan Hector Moreno tidak hanya meninggalkan kekosongan di lapangan, tetapi juga dalam hal kepemimpinan di ruang ganti.

Kembalinya Javier Aguirre sebagai pelatih kepala, dengan Rafael Marquez sebagai asistennya, menghadirkan duet yang memiliki pemahaman mendalam tentang tim nasional dan bertekad memulihkan kepercayaan dari dalam. Bagian dari proses tersebut adalah menetapkan hierarki penjaga gawang tim.

Setelah kembali memimpin tim, Aguirre menyatakan bahwa pintu tetap terbuka bagi pemain berpengalaman seperti Ochoa. "Saya sangat percaya pada pesepak bola Meksiko, tanpa memandang usia. Saya percaya pada kualitas dan proses," kata Aguirre, dikutip dari FIFA.com.

Memang, Aguirre-lah yang membawa Ochoa ke Piala Dunia keduanya di Piala Dunia 2010 sebagai pelapis Oscar Perez, yang tampil di keempat pertandingan. Aguirre kembali menegaskan betapa ia menghargai Ochoa.

“Dia adalah seorang gentleman. Anda langsung merasakan kehadirannya di ruang ganti. Dia sangat membantu para pemain muda dan memiliki karisma,” ucapnya.

Ochoa bisa mengambil semangat dari tradisi Meksiko yang kerap mengandalkan kiper berpengalaman di Piala Dunia. Pada edisi 1966, Antonio Carbajal bermain melawan Uruguay di usia 37 tahun, usia yang sama dengan Oscar Perez pada 2010 dan Ochoa sendiri saat tampil di Qatar.

Para Pesaing Ochoa

Raul Rangel menjalani debut liga bersama Chivas pada Oktober 2023 dan sejak itu menjadi pilihan utama di mistar gawang. Kemampuannya memainkan bola dengan kaki, yang memungkinkan ia terlibat dalam build-up dari belakang dan menciptakan transisi cepat, menjadi salah satu keunggulannya. Ditambah kemampuan duel udara serta usianya yang masih muda.

Staf pelatih jelas memiliki banyak opsi di bawah mistar. Selain Ochoa dan Rangel, ada pula Alex Padilla. Meski baru berusia 21 tahun, Padilla telah menunjukkan kemampuan dan kepercayaan diri untuk menggantikan Unai Simon di beberapa pertandingan La Liga bersama Athletic Bilbao.

Pelatih Athletic, Ernesto Valverde, mengatakan dalam konferensi pers beberapa bulan lalu bahwa Padilla adalah pemain yang dapat diandalkan dan mampu tampil baik di momen krusial.

Padilla saat ini merupakan bagian dari Timnas U-23 Meksiko dan sempat dipanggil ke tim senior oleh Aguirre pada September 2025. Selain pengalaman bermain di Eropa, ia memiliki refleks cepat dalam menghalau tembakan jarak dekat serta kelincahan kaki yang kemungkinan dipengaruhi latar belakangnya sebagai pemain sepak bola pantai.

Ia tumbuh dengan melihat Ochoa menjaga gawang Meksiko. Dalam sebuah wawancara saat bersama tim nasional, Padilla mengaku sangat mengagumi Ochoa sejak kecil hingga pernah memohon kepada ibunya untuk membelikannya jersei sang kiper.

Dan persaingan tidak berhenti di situ. Carlos Acevedo dari Santos Laguna serta Fernando Tapia dari Tigres, keduanya tampil impresif dalam beberapa tahun terakhir di Liga MX, juga patut diperhitungkan.

Pada Juni 2026 nanti, siapa pun dari para kiper tersebut bisa menjadi benteng terakhir El Tri. Ochoa sendiri belum menyerah dan akan terus berjuang untuk mencetak sejarah serta menikmati satu kesempatan terakhir di panggung dunia.