TVRINews – Willemstad, Curacao

Proses panjang dilalui Curacao hingga akhirnya bisa mengukir sejarah dengan lolos ke Piala Dunia 2026.

Curacao mengukir sejarah dengan lolos ke Piala Dunia 2026. Mereka menjadi negara dengan penduduk paling sedikit yang berhasil mentas di turnamen empat tahunan tersebut.

Presiden Federasi Sepak Bola Curacao (FFK), Gilbert Martina, mengatakan bahwa kesuksesan ini merupakan buah dari proses panjang yang telah mereka jalani sejak 26 tahun lalu.

"Ini adalah sebuah proses perjalanan yang dimulai pada tahun 2000. Dengan banyak usaha, pengorbanan, duka, tetapi juga banyak suka cita yang berpuncak pada kualifikasi 18 November, ketika jelas terlihat bahwa ini memang sudah takdir," kata Martina, dikutip dari AFP.

Perjalanan Curacao menuju Piala Dunia tidak mudah. Mereka harus melewati tiga putaran kualifikasi zona Concacaf. Tergabung di Grup B, Curacao berhasil memenangi persaingan ketat dengan Jamaika.

Hasil imbang tanpa gol saat bertandang ke Independence Park, Kingston, markas Jamaika, menjadi penentu. Tambahan satu poin tersebut cukup untuk memastikan tim berjuluk The Blue Wave finis di puncak klasemen Grup B, unggul tipis dari Jamaika di posisi kedua.

"Kualifikasi bukan hanya sekadar cerita sepak bola, tetapi juga sumber inspirasi dan kebanggaan. Ini adalah sebuah identitas," tutur Martina.

Suasana gembira yang menyelimuti Curacao sedikit terganggu pengunduran diri pelatih Dick Advocaat. Pria asal Belanda itu memilih untuk merawat putrinya yang sakit ketimbang meneruskan perjalanan bersama tim hingga ke Piala Dunia 2026.

Sempat beredar kabar Advocaat akan kembali sebagai penasihat teknis pelatih Fred Rutten. Isu tersebut langsung dibantah oleh Martina karena tak ingin ada dualisme kepemimpinan di dalam tim.

"Fred Rutten adalah pelatih kepala dan Dick bukanlah penasihat Fred. Dua kapten dalam satu kapal tidak akan pernah berhasil dan itu tidak akan berhasil di sini. Fred pilihan kami," ujarnya.

Mewujudkan Hal yang Mustahil

Sampai saat ini, Martina meyakini keberhasilan Curacao lolos ke Piala Dunia 2026 tidak lepas dari faktor keyakinan dan kekuatan kolektif tim. Di tengah berbagai keterbatasan, mereka mampu tampil sebagai satu kesatuan.

Semangat dan mentalitas para pemain sepanjang kualifikasi menjadi modal berharga Curacao. Mereka berhasil menyatukan tujuan untuk meraih suatu hal yang sebelumnya dianggap mustahil.

"Hanya mereka yang dapat melihat yang tak terlihat yang dapat melakukan hal yang mustahil. Para pemain bermain bukan hanya untuk diri sendiri atau keluarga, tetapi seluruh bangsa," kata Martina.

"Mereka bermain berdasarkan tujuan. Begitu Anda menyelaraskan target individu dengan tujuan lebih besar, maka keajaiban akan terjadi. Anda mulai mengabdi untuk tujuan yang lebih besar, yang akan membuat hal-hal mustahil menjadi mungkin," ia menambahkan.

Perjuangan Curacao selanjutnya tidak akan mudah. Mereka tergabung ke dalam Grup E Piala Dunia 2026 bersaing dengan Jerman, Pantai Gading, dan Ekuador. Ketiganya sudah pengalaman bermain di level tertinggi.

Meski demikian, Martina tetap optimistis. Ia menilai Curacao memiliki peluang untuk kembali menciptakan kejutan, asalkan mampu mempertahankan energi dan mentalitas seperti saat kualifikasi.