Pemain Norwegia seperti Erling Haaland dan Martin Odegaard, melakukan Viking row di hadapan fans setelah menang atas Senegal, Senin (22/6/2026). Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - New York, Amerika Serikat
Pemain Norwegia merayakan sukses lolos ke fase knockout dengan melakukan Viking Row di hadapan fans mereka.
Norwegia bukan sekadar kembali ke Piala Dunia melainkan menyamai pencapaian terbaik negeri ini di Piala Dunia. The Vikings lolos dari fase grup setelah menang 3-2 atas Senegal pada laga kedua Grup I Piala Dunia 2026 ini, Senin (22/6/2026) atau Selasa pagi tadi WIB.
Kemenangan tersebut membuat mereka mengoleksi enam poin. Norwegia lolos ke 32 besar bersama Prancis yang juga mengoleksi enam poin. Siapa yang akan lolos sebagai juara grup akan ditentukan dalam duel di antara kedua tim ini. Norwegia vs Prancis yang akan digelar pada 26 Juni nanti.
Namun, sebelum laga itu datang, tim asuhan Stale Solbakken tidak ingin melewatkan momen keberhasilan lolos ke fase knockout begitu saja. Mereka merayakannya bersama fans yang hadir di Stadion New York New Jersey Stadium tersebut, venue di mana mereka baru saja mengalahkan Senegal dan memastikan tiket ke 32 besar.
Pencapaian ke fase knockout ini memang spesial bagi Norwegia. Norwegia datang ke Piala Dunia 2026 ini setelah absen di enam edisi Piala Dunia sebelumnya secara beruntun sejak kali terakhir tampil di turnamen ini pada 1998 silam. Bahkan, ketika itu pun Erling Haaland belum lahir ke dunia. Karena itu, pencapaian ini menjadi spesial bagi publik sepak bola Norwegia.
Dalam sejarahnya, pencapaian terbaik Norwegia hanya sampai 16 besar yang terjadi pada Piala Dunia 1938 silam dan Piala Dunia 1998. Kini, Norwegia memiliki peluang untuk meraih pencapaian yang lebih baik. Dengan format 48 tim di Piala Dunia 2026 ini, ada fase 32 besar yang harus dilewati sebelum tampil di 16 besar.
Namun demikian, apapun format tersebut, lolos dari fase grup tetap menjadi hasil yang pantas mereka rayakan. Kegembiraan itu pula yang terlihat dari skuad The Vikings. Setelah kemenangan atas Senegal, para pemain seperti Erling Haaland, Martin Odegaard, bahkan pelatih Stale Solbakken meluangkan waktu mereka menyapa fans Norwegia yang datang ke Amerika Serikat untuk memberikan dukungan.
Hanya batas tribune yang memisahkan antara mereka dengan fans. Pendukung Norwegia saat ini juga menjadi perhatian karena gaya khas dukungan yang mereka perlihatkan dengan gaya mendayung atau rowing yang kini dikenal dengan Viking Row. Gaya ini menjadi tren yang belakangan menarik perhatian.
Aksi yang memperlihatkan identitas bangsa negeri ini yang di masa lalu dikenal sebagai Viking. Bangsa Viking asal Norwegia terkenal sebagai penjelajah laut yang tangguh. Pada masa silam, mereka menggunakan kapal-kapal cepat untuk menyeberang hingga menjangkau Kepulauan Faroe, Islandia, Greenland, hingga Amerika Utara.
Kerja sama saat mendayung yang memperlihatkan kekompakkan, kekuatan, dan kebersamaan menjadi salah satu simbol kekuatan dari bangsa Viking. Belakangan, aksi "rowing" inilah yang kemudian diperlihatkan fans Norwegia di tribune setiap kali Erling Haaland dan kawan-kawan bertanding.
kekompakan mereka di tribune pun mendapat perhatian dari para pemain Norwegia. Karena itu, setelah keberhasilan lolos ke 32 besar, para pemain Norwegia pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan fans mereka.
Setelah peluit akhir, para pemain dan staf Norwegia berkumpul rapat dalam formasi 10 baris tepat di dalam area penalti di ujung utara Stadion New York New Jersey. Mereka berbaris dengan posisi duduk di lapangan, menghadap para pendukung yang mengenakan kaus merah. Erling Haaland duduk di depan sementara rekan setimnya yaitu Martin Odegaard memukul gendang. Semua pemain Swedia, termasuk Alexander Sorloth ada dalam barisan ini.
Mereka bergantian dengan para penggemar yang melakukan "Viking Row". Meneriakkan "Ro!" sambil menirukan pendayung. "Ini menyenangkan," kata pelatih Stale Solbakken, setelah momen tersebut. "Kami tentu tidak akan mendayung setelah Piala Dunia, tetapi ini bisa menjadi gimmick selama turnamen," katanya tertawa.
Erling Haaland tampak menikmati momen tersebut. Dia dengan semangat menirukan fans di tribune yang memang bergerak serempak. Gerakan tersebut dengan suara yang terdengar cukup menggetarkan seolah siap menjadi ancaman lawan-lawan Norwegia nanti, termasuk Prancis.
Ya, dukungan fans Norwegia di tribune akan menjadi kekuatan lainnya bagi Erling Haaland dan kawan-kawan saat menghadapi Prancis. Erling Haaland sendiri sudah memikirkan pertandingan tersebut, tapi dia menyatakan ingin merayakan kegembiraan malam itu dulu sebelum lawan Les Bleus. Laga nanti menampilkan dua bintang muda top dunia yaitu Erling Haaland menghadapi Kylian Mbappe yang merupakan andalan dan bintang Prancis.
Dengan dua gol yang dia ciptakan di setiap pertandingan Piala Dunia 2026 ini, striker 25 tahun ini menyamai rekor Harry Kane (Inggris) pada Piala Dunia 2018 sebagai satu-satunya pemain dalam 50 tahun terakhir yang mencetak dua gol dalam dua penampilan Piala Dunia pertamanya.
Erling Haaland kini mengoleksi empat gol, hanya satu gol di belakang Lionel Messi (Argentina) dan imbang dengan Kylian Mbappe. Erling Haaland tidak khawatir terkait laga lawan Prancis nanti.
"Saya tidak terlalu peduli dengan pertandingan itu sekarang. Mereka mungkin akan menang melawan kami. Mereka mungkin akan memenangkan turnamen," kata Erling Haaland setelah pertandingan lawan Senegal itu. "Mari kita berbahagia," kata Erling Haaland lagi. "Setiap orang Norwegia di planet ini, hari ini."