TVRINews – Florida, Amerika Serikat

Tori Penso sempat berniat untuk meninggalkan profesi wasit karena mengalami kejadian tak mengenakkan.

Sulit bagi Tori Penso untuk percaya bahwa dirinya akan menjadi bagian dari Piala Dunia 2026. Ia menjadi salah satu dari enam wasit wanita yang akan bertugas dalam turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia tersebut.

"Saya butuh seseorang untuk mencubit saya karena rasanya seperti sedang mencoba bangun dari mimpi," kata wasit berusia 39 tahun tersebut, dikutip dari WLFX.

Perjalanan Tori Penso untuk sampai bertugas di Piala Dunia 2026 tidaklah mudah. Ia mengawalinya dengan bergabung ke Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (USSF) pada 2013.

Tujuh tahun memimpin pertandingan Liga Sepak Bola Wanita Nasional (NWSL), ia akhirnya dipercaya untuk memimpin pertandingan antara DC United vs Nashville SC di Liga Amerika Serikat (MLS).

Dari sana jalan untuk kariernya terbuka luas. Tori Penso mendapat penugasan dari FIFA untuk memimpin pertandingan Piala Dunia Wanita 2023 dan Piala Dunia Antarklub 2023.

Perjuangannya meniti karier akhirnya berbuah manis. Saat Piala Dunia akan dilangsungkan di negara asalnya, FIFA memberi kepercayaan untuk merasakan level yang lebih tinggi lagi.

Sejak kecil, Tori Penso sudah dekat dengan sepak bola. Ayah dan dua saudara laki-lakinya menggemari olahraga tersebut, yang sering mengajaknya pergi ke lapangan.

Akan tetapi, keinginan Penso untuk ikut bermain tak dapat terpenuhi. Sang ibu melarangnya untuk ikut masuk ke dalam lapangan karena menganggap sepak bola bukan untuk wanita.

"Ibu saya tidak pernah mengizinkan saya bermain sepak bola. Ia bilang sepak bola bukan untuk wanita. Ia tak ingin kaki saya penuh benjolan dan memar," ujarnya.

Penso tak menyerah untuk meminta izin kepada sang ibu. Baru ketika usianya sudah menginjak 10 tahun, kesempatan bermain datang. "Saya bermain sampai lulus SMA, lalu bermain di klub saat kuliah," tuturnya.

Bahkan dari hasil perbincangan dengan sang ibu, akhirnya tercetus ide Penso menjadikan profesi wasit sebagai pekerjaan. Hal itu akan membuatnya terus bisa dekat dengan olahraga yang digemari.

Di usia yang masih sangat muda, Penso menjadi wasit di seluruh wilayah Palm Beach County dan Treasure Coast. Banyak kejadian tak menyenangkan yang dialami.

“Saya pernah dikejar orang dewasa, atau diusir dari lapangan di klub junior, atau harus memarkir mobil menghadap keluar di klub amatir kalau-kalau situasi jadi kacau,” katanya.

Berbagai tekanan yang datang membuatnya sempat berpikir untuk berhenti menjadi wasit. Tetapi, nasihat dari seorang mentor yang membuatnya mengurungkan niat tersebut.

"Orang itu boleh mengusirmu dari lapangan, tapi jangan biarkan dia mengusirmu dari taman ini. Tempatmu memang di sini," tutur Penso.

Nasihat tersebut selalu menjadi pegangan Penso dalam meniti karier sebagai wasit. Keteguhan sikapnya itu berbuah manis dengan terpilih mengikuti program pengembangan Olimpiade untuk wasit.

"Di situlah saya belajar bahwa menjadi wasit bukan sekadar kegiatan akhir pekan di taman lokal, tetapi sebuah keahlian dan disiplin," ujarnya.

Mengutip Transfermarkt, Penso sudah menjalani penugasan sebagai wasit utama dalam 106 pertandingan domestik dan internasional. Sebentar lagi, perempuan yang dulu dilarang bermain sepak bola itu akan berdiri di panggung terbesar dunia sebagai salah satu wasit pilihan FIFA.