FIFA menyiapkan dana 355 juta dolar AS yang dibagikan kepada klub-klub yang pemainnya tampil di Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - New York, Amerika Serikat
Pemenang undian koin berhak memilih antara mengambil tendangan pertama atau mengesekusi penalti di depan tribune suporter sendiri.
Gelaran Piala Dunia 2026 tampaknya akan tercatat dalam sejarah sebagai turnamen penuh terobosan baru. FIFA dilaporkan tengah mempertimbangkan perubahan aturan menjelang bergulirnya fase gugur demi meningkatkan keadilan di lapangan.
Sejauh ini, turnamen akbar tersebut memang telah menyuguhkan berbagai drama yang memicu perdebatan hangat di kalangan pencinta sepak bola. Penonton telah menyaksikan pemberlakuan jeda minum yang menuai kontroversi, hingga kartu merah unik bintang Paraguai, Miguel Almiron, akibat menutup mulut dengan tangan saat bersitegang dengan pemain Turki.
Tidak hanya drama di dalam lapangan, persaingan ketat sepanjang fase grup juga diwarnai kejutan besar yang menjungkirbalikkan prediksi banyak pihak. Kejutan tersebut memicu pergeseran drastis pada klasemen akhir babak penyisihan dan membuat peta persaingan di fase gugur menjadi sulit ditebak.
FIFA tampaknya belum mau berhenti melakukan eksperimen sepanjang Piala Dunia 2026. Berdasarkan rumor yang beredar di internal, badan sepak bola global tersebut sedang mengkaji ulang mekanisme penentuan pemenang pada babak adu penalti.
Langkah ini diambil untuk mengevaluasi prosedur yang berlaku saat ini, di mana kapten dari kedua tim wajib mengikuti prosesi undian. Prosedur konvensional tersebut dinilai sudah usang yang berpotensi memberikan keuntungan yang tidak seimbang bagi salah satu pihak.
Dalam regulasi yang berjalan sekarang, proses adu tos koin dilakukan sebanyak dua kali oleh wasit utama di hadapan kedua kapten. Undian koin yang pertama berfungsi untuk menentukan tim mana yang akan bertindak sebagai penendang pertama atau kedua.
Sementara itu, undian koin yang kedua dilakukan untuk memilih di sisi gawang sebelah mana seluruh eksekusi penalti akan diambil. Namun, sebuah laporan dari media Inggris, The Times, mengindikasikan regulasi dua kali undian koin tersebut akan segera dimodifikasi.
FIFA berencana memangkas prosedur lama yang dianggap tidak efisien dengan mengganti dua kali prosesi tos koin menjadi satu kali saja. Kebijakan ini diharapkan dapat membuat jalannya adu penalti menjadi lebih praktis dan menjaga fokus mental para pemain.
Melalui sistem baru yang sedang digodok ini, kapten tim yang berhasil memenangkan undian koin tunggal akan diberikan hak istimewa. Pemenang undian dipersilakan memilih salah satu dari dua opsi keuntungan psikologis yang sangat krusial dalam menentukan hasil laga.
Opsi menarik pertama yang bisa diambil oleh sang pemenang undian tunggal adalah memilih untuk mengambil jatah tendangan penalti pertama. Pilihan ini sering kali dianggap menguntungkan karena mampu memberikan tekanan mental yang besar kepada tim lawan yang menendang belakangan.
Sementara itu, opsi kedua yang tidak kalah krusial adalah memilih untuk menggelar babak adu penalti di hadapan tribune suporter mereka sendiri. Dukungan masif dari para fan di belakang gawang diyakini mampu mendongkrak rasa percaya diri penendang maupun penjaga gawang tim.
Peraturan baru ini juga menegaskan opsi apa pun yang tidak dipilih oleh tim pemenang undian secara otomatis akan menjadi hak tim lawan. Melalui skema tersebut, tim yang kalah dalam undian koin tetap akan mendapatkan satu keuntungan yang tersisa secara adil.
Perubahan regulasi ini dipercaya bakal menciptakan situasi adu penalti yang jauh lebih adil dan kompetitif bagi kedua kubu. Kebijakan ini diambil karena prosedur dua kali undian koin dinilai berpotensi memberikan keuntungan ganda yang tidak adil bagi salah satu tim.
Kasus nyata dari ketimpangan akibat regulasi lama ini baru saja menimpa raksasa Inggris, Arsenal, dalam laga final Liga Champions belum lama ini. Musuh mereka, Paris Saint-Germain, beruntung bisa menyapu bersih kemenangan dalam dua undian koin sekaligus sebelum babak penalti dimulai.
Laporan dari The Times menambahkan saat ini FIFA bersama IFAB selaku badan pembuat hukum sepak bola sedang intens berdiskusi. Keputusan resmi terkait penerapan aturan baru ini diharapkan sudah ketuk palu sebelum laga pertama babak gugur Piala Dunia dimulai.