Timnas Haiti berhasil lolos ke Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Port-au-Prince, Haiti
Keberhasilan Haiti lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi sumber kebanggaan dan harapan baru bagi masyarakat di tengah krisis yang melanda.
Keberhasilan Haiti lolos ke Piala Dunia 2026 disambut antusias oleh masyarakat. Prestasi ini menjadi kebanggaan di tengah kondisi negara yang selama beberapa tahun terakhir diliputi ketidakstabilan politik, kemiskinan, dan maraknya kejahatan.
Masyarakat Haiti sangat menggilai sepak bola. Mereka sudah lama menanti tim nasional bisa kembali mentas di Piala Dunia, setelah terakhir kali merasakannya di Jerman Barat pada tahun 1974.
"Lolos ke Piala Dunia adalah sesuatu yang istimewa bagi negara yang sangat mencintai sepak bola," kata Salome Sandler Tally, pendiri dan pelatih tim wanita Aigle Noir AC, sebuah klub profesional yang berbasis di Port-au-Prince, kepada AFP.
Tim berjuluk The Grenadiers memastikan satu tempat di Piala Dunia 2026 setelah menempati posisi teratas klasemen Grup C kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Concacaf. Tiga kemenangan, dua imbang, dan sekali kalah membuat mereka unggul dua poin dari Honduras yang ada di urutan kedua.
Sayangnya, Haiti tidak bisa bermain di negara sendiri saat menjalani kualifikasi. Krisis keamanan dan politik yang terjadi di dalam negeri membuat tim nasional harus berpindah ke Curacao jika bertindak sebagai tuan rumah.
Meski demikian, para suporter tak pernah berhenti untuk memberi semangat kepada para pemain. "Sepak bola adalah harapan dan cinta. Ia membangkitkan kebanggaan dan semangat. Sungguh luar biasa mencapai ini setelah 52 tahun," ujar Tally.
Besarnya minat masyarakat Haiti terhadap sepak bola dapat dilihat di stadion dan jalanan. Pertandingan profesional atau amatir selalu bisa mendatangkan penonton dengan jumlah banyak.
"Anda bisa melihatnya di setiap komunitas. Asalkan ada ruang, mulai dari pertandingan tiga lawan tiga hingga 11 lawan 11, selalu bisa menarik banyak penonton," tutur Patrick Dumont, mantan senator Haiti.
Harapan bagi Anak Muda
Mayoritas pemain dalam skuad asuhan Sebastien Migne berkarier di kompetisi luar negeri. Eropa dan Amerika Serikat menjadi tempat mereka untuk mencari nafkah, meski dari divisi bawah.
Dengan keberhasilan lolos ke Piala Dunia 2026, masyarakat bisa mendapatkan contoh baik. Mereka kini bisa bermimpi untuk menjadi pesepak bola profesional, sehingga dapat keluar dari situasi sulit di dalam negeri.
"Kita bisa bergerak maju, tetapi itu membutuhkan disiplin. Saat ini, banyak anak muda yang nakal. Mereka bergumul dengan alkohol, merokok, dan kurang memiliki kegiatan rekreasi yang sehat. Tetapi, sepak bola dapat menawarkan jalan keluar," ujar Evens Lezin, pemain sepak bola amatir di Haiti.
Haiti tergabung ke Grup C Piala Dunia 2026 bersaing dengan Brasil, Maroko, dan Skotlandia untuk memperebutkan tiket ke babak gugur. Perjuangan Johny Placide dan kawan-kawan tentunya tidak akan mudah.
Mereka butuh persiapan yang maksimal agar dapat meladeni tim-tim dengan pemain level atas. Pemerintah Haiti pada bulan ini memberi dukungan dana sebesar Rp34 miliar untuk rangkaian kegiatan jelang Piala Dunia 2026.