Pemain sayap Yordania, Musa Al-Taamari. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Amman, Yordania
Kontribusi Al-Taamari sangat krusial dalam mencetak sejarah baru kelolosan negaranya ke Piala Dunia 2026.
Keberhasilan bersejarah tim nasional Yordania menembus putaran Piala Dunia 2026 menjadi buah bibir masyarakat internasional. Momentum emas di benua Amerika ini sekaligus melambungkan nama Musa Al-Taamari sebagai pahlawan baru sepak bola Timur Tengah.
Sosok Al-Taamari kini diakui sebagai roh permainan sekaligus poros utama skuad Yordania. Tanpa kehadiran dirinya di atas lapangan, alur serangan balik cepat yang menjadi ciri khas tim dinilai akan kehilangan taringnya.
Lahir di Kota Amman pada 10 Juni 1997, Al-Taamari tumbuh dalam lingkungan yang sangat menggilai permainan sepak bola. Ia memulai langkah pertamanya meniti karier profesional dengan bergabung bersama akademi sepak bola lokal, Shabab Al-Ordon.
Bakat alaminya yang luar biasa dalam melewati hadangan pemain bertahan lawan langsung menarik perhatian para pelatih sejak usia dini. Kemampuan kontrol bola yang sangat lengket di kaki kirinya membuat Al-Taamari menonjol dibanding anak-anak seusianya.
Al-Taamari tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa menembus skuad utama Shabab Al-Ordon dan melakoni debut resmi di liga domestik. Ia mampu mempersembahkan trofi Jordan Shield Cup pada musim perdananya.
Ketajaman serta kecepatan berlari yang di atas rata-rata di sektor sayap membuat klub raksasa domestik, Al-Jazeera, tertarik meminjam jasanya. Perpindahan sementara ini bertujuan untuk menambah jam terbang Al-Taamari di kompetisi tingkat tinggi.
Bersama Al-Jazeera, Al-Taamari sukses merengkuh gelar juara Piala Yordania. Ia juga tampil sangat memukau dalam membantu tim bersaing di kompetisi regional, Piala Asia.
Performa konsisten dan kedewasaan bermain di level klub domestik tersebut akhirnya membuka jalan lebar bagi karier internasionalnya. Pencari bakat dari benua Eropa mulai mencium aroma bakat besar yang terpendam di dalam diri pemuda Amman ini.
Klub raksasa Siprus, APOEL Nicosia, menjadi pelabuhan pertama di benua biru yang beruntung mendapatkan tanda tangan resmi kontraknya pada musim 2018/19. Di sana, Al-Taamari langsung bertransformasi menjadi idola baru publik stadion karena gaya bermainnya yang dinilai sangat menghibur.
Media-media olahraga di Eropa Timur bahkan langsung memberikan julukan prestisius sebagai "Messi Yordania" kepada Al-Taamari. Julukan tersebut merujuk pada kemiripan gaya menggiring bola memotong ke dalam kotak penalti yang sangat identik.
Selama mengenakan seragam kebesaran APOEL Nicosia, Al-Taamari sukses menyabet gelar juara kasta tertinggi Liga Utama Siprus. Koleksi trofi level klub miliknya makin lengkap setelah ia juga berhasil mengangkat piala domestik, Siprus Super Cup.
Secara individu, kontribusi masif yang Al-Taamari tunjukkan di atas lapangan hijau diganjar dengan penghargaan yang sangat prestisius. Ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Liga Siprus berkat peran krusialnya sepanjang musim kompetisi.
Karier sepak bolanya di benua biru makin menanjak saat Al-Taamari memutuskan untuk hijrah ke Liga Belgia bersama klub OH Leuven. Langkah kepindahan ini menjadi jembatan penting untuk menguji ketahanan fisik dan mentalnya bersaing di kompetisi Eropa Barat.
Puncak karier level klub di benua Eropa akhirnya Al-Taamari capai saat resmi bergabung dengan Montpellier HSC. Bersama klub Prancis tersebut, ia mencatatkan sejarah besar sebagai pemain asal Yordania pertama yang mampu merumput di Ligue 1.
Di salah satu dari lima kompetisi terbaik Eropa tersebut, Al-Taamari langsung membuktikan dirinya bukan sekadar pemain pelengkap. Ia sukses mencetak gol-gol indah yang membuatnya selalu menjadi pilihan utama di dalam susunan tim Montpellier.
Setelah dari Montpellier, gabung dengan sesama klub Prancis lainnya, Rennes. Bersama klub tersebut ia terus menunjukkan performa yang oke dengan menutup musim 2025/26 di posisi enam klasemen.
Di level internasional bersama tim nasional Yordania, kontribusinya tercatat jauh lebih krusial dan sama sekali tidak tergantikan. Ia telah mengoleksi lebih dari 70 penampilan resmi sejak pertama kali mengenakan seragam berlambang bendera negara tercinta.
Performa magisnya di sepanjang babak kualifikasi menjadi kunci utama yang meloloskan Yordania ke Piala Dunia 2026. Peran Al-Taamari begitu besar sehingga bisa membawa negaranya mencicipi turnamen sepak bola paling bergengsi tersebut.
Kini, tantangan yang jauh lebih besar dan berat sudah menanti kehadiran Al-Taamari di putaran final turnamen nanti. Butuh perjuangan keras agar Yordania bisa lolos ke fase gugur.
Skuad asuhan Jamal Sellami yang menempati Grup J dipastikan harus bersaing sengit dengan deretan kekuatan mapan sepak bola dunia. Mereka dijadwalkan saling jegal memperebutkan tiket fase gugur bersama Aljazair, Austria, dan juga Argentina.
Pertemuan dengan tim nasional Argentina di fase grup akan menjadi panggung impian masa kecil yang menjadi nyata bagi Al-Taamari. Ia akan berkesempatan untuk berhadapan langsung secara taktis dengan para pemain elite dunia di bawah sorotan lampu stadion.
Publik sepak bola Yordania kini menaruh harapan yang sangat besar pada pundak dan kelincahan kaki kiri Al-Taamari. Mereka sangat berharap magis gocekannya kembali tercipta demi bisa membawa negara mereka menciptakan kejutan lebih jauh.
Ujian perdana di turnamen akbar ini akan menjadi pembuktian kelayakan dirinya sejajar dengan bintang-bintang top dunia lainnya. Al-Taamari kini siap memimpin generasi emas Yordania untuk mengukir sejarah yang akan dikenang sepanjang masa.