TVRINews - New Delhi, India

Selain India dan Tiongkok, FIFA telah mencapai kesepakatan terkait hak siar Piala Dunia 2026 di lebih dari 175 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang dipegang TVRI. 

Jutaan penggemar sepak bola di dua negara dengan populasi terbesar di dunia, India dan Tiongkok, terancam tidak bisa menyaksikan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada pada 11 Juni-19 Juli. Hal ini terjadi akibat kebuntuan negosiasi hak siar di India serta belum adanya keputusan resmi terkait penyiaran di Tiongkok.

Perusahaan patungan antara Reliance dan Disney di India dilaporkan hanya mengajukan tawaran sebesar 20 juta dolar AS (sekitar Rp348 miliar) untuk hak siar Piala Dunia 2026. Angka tersebut jauh di bawah permintaan FIFA, sehingga tidak dapat diterima oleh badan sepak bola dunia tersebut. 

Dikutip dari Reuters, Selasa (5/5/2026), ada dua sumber yang mengetahui langsung proses negosiasi ini. Sementara itu, Sony yang sebelumnya juga ikut berdiskusi, memilih mundur dan tidak mengajukan penawaran karena alasan ekonomi.

Situasi di Tiongkok juga belum menunjukkan kejelasan. Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi terkait pemegang hak siar, padahal negara tersebut menyumbang 49,8% dari total jam tayang global di platform digital dan media sosial pada Piala Dunia 2022 di Qatar.

FIFA sendiri menyatakan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan terkait hak siar Piala Dunia 2026 di lebih dari 175 negara di seluruh dunia, termasuk hak siar di Indonesia yang dimiliki TVRI. 

Namun, untuk India dan Tiongkok, proses negosiasi masih berlangsung. Dalam pernyataannya, FIFA mengatakan, “Diskusi di Tiongkok dan India terkait penjualan hak media untuk Piala Dunia 2026 masih berlangsung dan harus tetap dirahasiakan pada tahap ini.” Reliance-Disney yang dipimpin oleh miliarder Mukesh Ambani belum memberikan komentar terkait situasi ini, begitu juga dengan Sony. 

Ketiadaan kesepakatan hingga mendekati waktu turnamen ini tergolong tidak biasa. Pada edisi sebelumnya seperti 2018 di Rusia dan 2022 di Qatar, pemegang hak siar Tiongkok, CCTV, sudah mengamankan hak siar jauh hari sebelumnya dan mulai menayangkan promosi serta iklan sponsor beberapa minggu sebelum turnamen dimulai.

Tiongkok menyumbang 17,7% dan India 2,9% dari total jangkauan TV global pada Piala Dunia 2022. Secara gabungan, kedua negara ini mencapai 22,6% dari total jangkauan streaming digital global. 

Dengan Piala Dunia 2026 yang akan dimulai pada 11 Juni, waktu yang tersisa kurang dari lima minggu untuk menyelesaikan kesepakatan, menyiapkan infrastruktur siaran, serta menjual slot iklan.

Untuk pasar India, FIFA awalnya meminta sekitar 100 juta dolar AS (Rp1,74 triliun) untuk hak siar Piala Dunia 2026 dan 2030. Namun angka tersebut telah diturunkan, meski masih belum mendekati tawaran 20 juta dolar AS dari Reliance. “FIFA mencari nilai yang serupa dengan edisi sebelumnya dari turnamen ini,” kata seorang sumber dari FIFA.

Sebagai perbandingan, pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Reliance memperoleh hak siar dengan nilai sekitar 60 juta dolar AS (sekitar Rp942 miliar kurs saat itu), yang diumumkan sekitar 14 bulan sebelum turnamen berlangsung.

Reliance-Disney menilai potensi penonton di India akan menurun karena perbedaan zona waktu, mengingat turnamen digelar di wilayah Amerika Utara (Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko). Artinya, banyak pertandingan akan berlangsung lewat tengah malam waktu India.

Selain itu, sepak bola dianggap belum memiliki nilai komersial setinggi kriket di India. Ditambah lagi, perlambatan industri periklanan yang dipengaruhi konflik Iran turut menekan potensi pendapatan. Salah satu sumber menyebutkan, “Sepak bola adalah segmen yang masih niche di India.”

Sementara itu, meskipun Tiongkok memiliki sekitar 200 juta penggemar sepak bola (terbanyak di dunia), negara tersebut belum mampu membangun tim kelas dunia. Hal ini sebagian disebabkan oleh sistem seleksi pemain yang sangat terpusat dan terbatas.

Rohit Potphode, managing partner bidang olahraga di agensi periklanan Dentsu India, menggambarkan situasi ini dengan analogi menarik. 

“Waktu memang tidak banyak tersisa, tetapi saya tidak akan menyebutnya sebagai kebuntuan," ujarnya. 

"Ini lebih seperti kita berada di akhir permainan catur dengan hanya beberapa langkah tersisa,” Potphode menambahkan.