TVRINews - Washington DC, Amerika Serikat

Penyerang Timnas Amerika Serikat, Christian Pulisic dikritik pelatihnya di AC Milan, Massimiliano Allegri, yang menilai sisi emosional Pulisic berpengaruh terhadap permainannya.

Legenda sepak bola Amerika Serikat, Alexi Lalas, memberikan pandangannya terkait kondisi mental bintang lini serang Christian Pulisic menjelang Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. 

Komentar ini muncul setelah pelatih AC Milan, Massimiliano Allegri, menyebut Pulisic sebagai pemain yang “sensitif” dalam beberapa kesempatan terakhir.

Timnas Amerika Serikat sendiri menatap Piala Dunia 2026 dengan ambisi besar. Mereka ingin mengulang, bahkan melampaui, pencapaian terbaik sepanjang sejarah, yakni menembus babak perempat final. 

Dengan status sebagai tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko, skuad asuhan Mauricio Pochettino memiliki keuntungan dukungan publik sendiri.

Sebagai wajah utama lini serang Timnas Amerika Serikat, Pulisic tentu menjadi sorotan. Namun performa pemain AC Milan itu belakangan ini menuai perhatian, terutama setelah komentar Allegri, yang menilai sisi emosional sang pemain cukup berpengaruh terhadap permainannya.

“Dia adalah pria yang sangat sensitif, fakta bahwa dia tidak mencetak gol lebih memengaruhinya,” ujar Allegri.

“Dia adalah pemain yang masuk ke dalam duel dan mengalami kesulitan, dia lebih merasakan tekanan dari hal itu. Saya harus mencoba memberi keseimbangan pada tim, bermain tanpa penyerang tengah murni membuatnya lebih kesulitan,” ia menambahkan.

Bintang Timnas Amerika Serikat, Christian Pulisic.

Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi

Pernyataan Allegri tersebut langsung mendapat respons dari Lalas. Dikutip dari Talk Sport, Senin (4/5/2026) dalam podcast pribadinya, ia menilai label “sensitif” bisa berdampak negatif, terutama jika datang dari seorang pelatih.

“Setiap kali Anda menyebut seseorang sensitif, selalu ada konotasi negatif di dalamnya. Jadi pada titik ini, saya tidak tahu bagaimana ini membantu Christian Pulisic selain sebagai pengakuan bahwa dia sedang melalui momen tertentu saat ini," kata Lalas.

“Tetapi hal terakhir di dunia yang ingin Anda dengar dari seorang pelatih, dan tentu saja seseorang yang membuat keputusan terkait masa depan Anda, adalah saat disebut sensitif,” kata bintang Timnas AS di Piala Dunia 1994 itu.

Lalas juga memberikan penilaian jujur terkait perkembangan karier Pulisic. Menurutnya, pemain berusia 27 tahun itu memang telah berkembang, namun belum sepenuhnya mencapai ekspektasi tinggi yang dulu disematkan kepadanya.

“Saya akan mengatakan ini. Kita semua telah melihat selama bertahun-tahun bahwa Christian Pulisic, sebagai pemain sepak bola, jelas telah berkembang dan matang menjadi apa yang pada akhirnya akan dianggap sebagai pemain sepak bola pria Amerika terbaik dalam sejarah," ujarnya.

“Tetapi, dia belum menjadi pemain yang banyak orang bayangkan. Dan ini bukan salahnya, memang seperti inilah dirinya. Dia tidak bisa menjadi sesuatu yang bukan dirinya," kata Lalas, yang kini kerap terlihat sebagai pundit dan komentator di televisi. 

"Dia tidak bisa memiliki kepribadian seperti Weston McKennie (gelandang AS yang bermain di Juventus) atau Chris Richards (bek AS yang membela klub Inggris, Crystal Palace). Itu memang bukan dirinya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lalas menyoroti bahwa faktor eksternal juga bisa memengaruhi performa Pulisic di lapangan.

“Meskipun dia memiliki kemampuan fisik untuk mengorbankan tubuhnya, saya juga berpikir bahwa hal-hal di luar lapangan bisa memengaruhinya. Mungkin dia mengambilnya secara pribadi, dan mungkin dia lebih emosional daripada yang Anda inginkan dari seorang atlet," ujar Lalas.

“Tetapi dari perspektif publik, ini bukan hal yang ingin Anda dengar dan bukan hal yang ingin Anda lihat dari seorang pemain yang akan sangat krusial bagi tim Amerika Serikat musim panas ini,” katanya.

Christian Pulisic pada Minggu (3/5/2026) juga bermain untuk AC Milan saat tandang ke markas Sassuolo dalam lanjutan kompetisi Liga Italia Serie A. Ia turun dari bangku cadangan menggantikan Youssouf Fofana menit ke-59 saat Milan tertinggal dua gol dari tuan rumah. Namun, kehadirannya tidak banyak membantu lini depan, dan I Rossoneri tetap kalah 0-2 hingga peluit panjang berbunyi.