Penyerang sayap FC Barcelona Lamine Yamal, yang juga andalan Timnas Spanyol. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Jakarta
Banyak pesepak bola Muslim di Eropa menyeimbangkan ibadah puasa Ramadan dengan tuntutan sepak bola level tertinggi.
Puluhan pemain Muslim tetap berkompetisi di liga-liga elite Eropa di tengah jadwal padat musim 2025-2026, sambil menjalankan puasa dari fajar hingga matahari terbenam.
Dari Inggris, Spanyol, Prancis, Jerman hingga Italia, mereka tetap berlari, bertarung, dan mencetak gol tanpa asupan makanan maupun minuman sepanjang hari.
Bagi pemain seperti Noussair Mazraoui, Mohamed Salah, dan Lamine Yamal, Ramadan bukan sekadar tantangan fisik, tetapi juga ujian mental dan spiritual. Klub-klub pun mengambil pendekatan berbeda untuk mendukung para pemainnya.
Inilah deretan bintang dunia beragama Islam yang menjalankan ibadah puasa di tengah padatnya jadwal kompetisi liga-liga top Eropa, dikutip dari Morocco World News. Banyak juga di antara mereka yang akan tampil di Piala Dunia 2026 Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Liga Inggris: 55 Pemain dan Jeda Resmi Saat Matahari Terbenam
Kompetisi Liga Inggris atau Premier League musim ini mencatat 55 pemain Muslim yang tersebar di 20 klub pada musim ini. Hampir tiap tim memiliki setidaknya satu pemain yang menjalankan ibadah puasa Ramadan di tengah ketatnya persaingan liga paling kompetitif di dunia tersebut.
Untuk membantu para pemain, Premier League menerapkan protokol yang disebut “Jeda Alami”. Pada musim 2025-2026, wasit memiliki panduan jelas: jika pertandingan masih berlangsung ketika matahari terbenam (waktu Iftar), mereka akan mencari momen penghentian singkat yang alami, seperti tendangan gawang atau lemparan ke dalam.
Momen singkat itu memberi kesempatan kepada pemain untuk berlari ke pinggir lapangan, minum, atau mengonsumsi camilan ringan untuk membatalkan puasa. Kapten tim hanya perlu memberi tahu wasit sebelum pertandingan dimulai, dan seluruh proses biasanya berlangsung sekitar satu menit tanpa mengganggu jalannya laga secara signifikan.
Para pemain Muslim Liverpool FC macam Mohamed Salah, Ibrahima Konate, dan Hugo Ekitike tetap menjalankan puasa. Sementara itu, Manchester City diperkuat oleh Rayan Ait-Nouri, Rayan Cherki, Omar Marmoush, dan Abdukodir Khusanov yang juga berpuasa. Di Manchester United ada Amad Diallo, Noussair Mazraoui, serta kiper Altay Bayindir yang turut menjalankan Ramadan.
Mazraoui menggambarkan tuntutan spiritual dan mental yang ia rasakan: “Iman adalah prioritas nomor satu bagi saya. Bermain saat berpuasa seperti bermain di bulan lainnya, hanya saja tanpa makanan atau air," ujar bek asal Maroko itu.
"Saya tetap harus bermain, saya tetap harus berlari. Tidak ada alasan. Anda harus menggali lebih dalam. Anda merasakan jauh lebih banyak rasa sakit selama pertandingan dibanding biasanya. Tetapi seperti yang saya katakan, iman adalah segalanya bagi saya. Jadi ini adalah harga yang sangat, sangat kecil untuk dibayar,” Mazraoui menambahkan.
Diallo kemudian menimpali, “Tidak mudah saat berpuasa, tetapi saya melakukannya untuk Allah. Saya sangat bahagia bisa berpuasa,” ucap Diallo.
Selain nama-nama tersebut, pemain Muslim lain di Premier League antara lain William Saliba (Arsenal FC), Wesley Fofana (Chelsea FC), Amadou Onana (Aston Villa FC), Mohammed Kudus (Tottenham), Yves Bissouma (Tottenham), dan Idrissa Gueye (Everton).
La Liga: 34 Pemain dan Program Nutrisi
Kompetisi La Liga Spanyol memiliki 34 pemain Muslim pada musim ini. Klub-klub mengandalkan departemen sains olahraga untuk menangani para atlet yang berpuasa melalui program nutrisi dan pemulihan khusus yang dirancang secara individual.
Fokus utama di Spanyol bukan pada penghentian pertandingan secara resmi, melainkan pada persiapan performa tingkat tinggi. Pendekatan ini menitikberatkan pada pengaturan asupan gizi, hidrasi, dan pemulihan energi agar pemain tetap mampu tampil maksimal meski tidak makan dan minum sepanjang hari.
Pemain muda sensasional FC Barcelona, Lamine Yamal, mengikuti rencana nutrisi personal yang difokuskan pada pengisian ulang glikogen pada malam hari setelah berbuka dan sebelum fajar. Program ini membantu menjaga cadangan energi untuk pertandingan maupun sesi latihan.
Yamal menegaskan keyakinannya dengan mengatakan: “Puasa? Itu tidak memengaruhi performa saya. Klub sepenuhnya siap untuk hal ini dan menyediakan semua yang kami butuhkan agar bisa tampil 100%.”
Meskipun tidak ada jeda resmi untuk berbuka (Iftar) di La Liga, para wasit umumnya tidak keberatan jika seorang pemain minum dengan cepat saat terjadi lemparan ke dalam atau jeda alami lainnya. Selain Yamal, pemain Muslim Barcelona lainnya adalah Ansu Fati.
Sedangkan di Real Madrid, beberapa pemain juga menjalankan ibadah puasa Ramadan termasuk Antonio Rudiger, Arda Guler, dan Brahim Diaz.
Sementara itu, pemain lain yang turut berpuasa di La Liga antara lain Vedat Muriqi (RCD Mallorca), Pape Gueye (Villarreal CF), Lucien Agoume (Sevilla FC), serta Pathe Ciss (Rayo Vallecano).
Ligue 1/Ligue 2: Titik Gesekan
Prancis menjadi pengecualian dalam lanskap sepak bola Eropa selama Ramadan 2026. Federasi sepak bola Prancis (FFF) tetap mempertahankan sikap yang diambil pada musim 2024–2025: jeda resmi untuk berbuka puasa sepenuhnya dilarang atas nama “netralitas”.
Kebijakan ini berlandaskan prinsip sekularisme (laicite) yang kuat dalam sistem olahraga Prancis. Akibatnya, para pemain Muslim di Ligue 1 dan Ligue 2 tidak mendapatkan fasilitas jeda khusus seperti yang diterapkan di Inggris atau toleransi fleksibel seperti di Jerman dan Italia.
Pemain harus menunggu hingga turun minum atau pertandingan berakhir untuk membatalkan puasa, kecuali terjadi penghentian alami seperti cedera pemain atau intervensi VAR.
Situasi ini berdampak langsung pada nama-nama besar seperti Achraf Hakimi yang membela Paris Saint-Germain dan Ilan Kebbal di Paris FC. Tanpa adanya kebijakan resmi untuk memberi waktu berbuka, mereka harus mengatur strategi fisik dan mental secara mandiri agar tetap kompetitif sepanjang laga.
Selain Hakimi dan Kebbal, sejumlah pemain lain di Ligue 1 juga menjalankan puasa, termasuk Sofiane Diop (OGC Nice), Eliesse Ben Seghir (AS Monaco), Amine Gouiri (Stade Rennais), serta Lamine Camara (AS Monaco).
Bundesliga dan Serie A: Pendekatan Fleksibel bagi Pemain yang Berpuasa
Jerman dan Italia mengambil pendekatan yang relatif fleksibel untuk mengakomodasi pesepak bola yang menjalankan puasa Ramadan. Di Bundesliga Jerman, wasit memperbolehkan penghentian singkat jika diperlukan, terutama ketika waktu berbuka tiba di tengah pertandingan.
Klub-klub juga menyediakan dukungan medis yang canggih, termasuk perencanaan nutrisi khusus dan konsumsi minuman isotonik sebelum fajar guna membantu menjaga daya tahan sepanjang laga.
Beberapa pemain memanfaatkan kelonggaran ini untuk berbuka secara cepat di tepi lapangan. Granit Xhaka bersama Bayer Leverkusen dan Serhou Guirassy di Borussia Dortmund termasuk di antara mereka yang dapat membatalkan puasa secara singkat ketika ada jeda alami dalam pertandingan.
Situasi serupa juga terlihat di Liga Italia, Serie A. Para wasit menunjukkan toleransi informal terhadap pemain yang berpuasa. Nama-nama besar seperti Hakan Calhanoglu (Inter Milan), Ismael Bennacer (AC Milan), dan Youssouf Fofana (AC Milan) diizinkan mengambil jeda singkat dan tidak mencolok untuk minum atau mengisi energi, biasanya saat terjadi penghentian alami atau melalui koordinasi dengan staf tim.
Klub-klub di Jerman dan Italia secara cermat merancang pola makan sebelum fajar agar pemain tetap mampu mempertahankan performa sepanjang pertandingan.
Sedangkan di luar Eropa, sejumlah pemain Muslim ternama yang telah meninggalkan liga-liga top tetap menjalankan puasa Ramadan saat bermain di kompetisi lain.
Karim Benzema kini memperkuat Al-Hilal, klub yang dikenal tetap tampil kuat selama Ramadan. Benzema sendiri pernah mencatat performa luar biasa dan berkesan bersama Real Madrid pada 2022 saat menjalani bulan suci.
Selain itu, Sadio Mane di Al-Nassr, Riyad Mahrez di Al-Ahli, Kalidou Koulibaly di Al-Hilal, serta penyerang Maroko, Youssef En-Nesyri di Al-Ittihad juga tetap menjalankan ibadah puasa sambil berkompetisi.