TVRINews - Jakarta

Hingga kini belum ada tim dari Asia yang menyamai pencapaian Korea Selatan masuk empat besar Piala Dunia.

Sepak bola sering kali disebut sebagai bahasa universal, tetapi bagi benua Asia, panggung Piala Dunia sempat menjadi medan yang teramat asing dan sulit ditaklukkan. Selama berdekade-dekade, tim-tim dari Timur dianggap hanya sebagai pelengkap turnamen. 

Namun, sejarah mencatat bahwa ada momen-momen magis ketika wakil Asia bangkit meruntuhkan dominasi Eropa dan Amerika Latin.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah lima pencapaian terbaik wakil Asia dalam sejarah Piala Dunia yang tidak hanya mengejutkan, tetapi juga mengubah wajah sepak bola di Benua Kuning.

1. Korea Selatan – Semifinal 2002 (Peringkat 4)

Tidak ada daftar prestasi Asia yang lengkap tanpa menyebut Korea Selatan di Piala Dunia 2002 Korea Selatan-Jepang. Di bawah asuhan pelatih bertangan dingin, Guus Hiddink, Taeguk Warriors bertransformasi menjadi kekuatan yang menakutkan. Dukungan masif dari puluhan ribu suporter "Red Devils" di tribune menciptakan atmosfer yang mengintimidasi lawan.

Keberhasilan mereka menembus semifinal setelah menyingkirkan raksasa seperti Italia di babak 16 besar melalui gol Ahn Jung-hwan, diikuti kemenangan adu penalti yang dramatis melawan Spanyol di perempat final, tetap menjadi standar tertinggi bagi tim Asia. 

Meski akhirnya finis di peringkat ke-4, Korea Selatan membuktikan bahwa dengan disiplin taktik dan stamina luar biasa, tim Asia bisa berdiri sejajar dengan elite dunia. Hingga kini belum ada tim Asia yang menyamai pencapaian Korea Selatan masuk empat besar Piala Dunia.

2. Jepang – Babak 16 Besar (2002, 2010, 2018, 2022)

Jika Korea Selatan menawarkan ledakan kejutan, Jepang menawarkan cetak biru tentang konsistensi. Jepang adalah satu-satunya tim Asia yang mampu mencapai babak 16 besar dalam empat edisi Piala Dunia berbeda. Namun, edisi 2022 di Qatar mungkin yang paling berkesan. Berada di "Grup Neraka" bersama dua mantan juara dunia, Jerman dan Spanyol, Jepang justru keluar sebagai juara grup.

Kemenangan comeback melawan kedua raksasa tersebut menunjukkan kematangan mental pemain Jepang yang kini mayoritas merumput di liga-liga top Eropa. Perjuangan mereka hingga adu penalti melawan Kroasia membuktikan bahwa Jepang bukan lagi tim yang bisa dipandang sebelah mata, mereka adalah kekuatan sepak bola modern yang sangat sistematis.

3. Korea Utara – Perempat Final 1966

Jauh sebelum dunia mengenal kekuatan sepak bola modern Asia, Korea Utara telah menciptakan kejutan di Piala Dunia 1966 Inggris. Tanpa diunggulkan sedikit pun, mereka mengalahkan raksasa Italia 1-0 di fase grup melalui gol Pak Doo-ik, sebuah hasil yang memaksa skuat Italia pulang ke negaranya dengan lemparan tomat dari pendukungnya sendiri.

Momen ini disebut sebagai "Giant Killing" pertama dari Asia. Di perempat final (ketika itu setelah fase grup langsung ke perempat final), mereka sempat unggul 3-0 melawan Portugal sebelum akhirnya takluk oleh kejeniusan Eusebio yang mencetak empat gol. Meski kalah, keberanian skuad berjulukan Chollima itu tetap menjadi salah satu dongeng paling legendaris dalam 100 tahun sejarah Piala Dunia.

4. Arab Saudi – Babak 16 Besar 1994

Debut Arab Saudi di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat adalah sebuah pernyataan tentang bakat murni dari jazirah Arab. Mereka tidak sekadar numpang lewat, melainkan lolos ke babak 16 besar dengan gaya yang ikonik. Momen paling tidak terlupakan adalah gol solo Saeed Al-Owairan ke gawang Belgia.

Berlari hampir sepanjang lapangan dan melewati lima pemain lawan, Al-Owairan mencetak gol yang hingga kini dianggap sebagai salah satu gol terbaik dalam sejarah turnamen, setara dengan gol legendaris Diego Maradona. Keberhasilan Arab Saudi mencapai fase gugur pada kesempatan pertama menunjukkan potensi besar yang dimiliki oleh negara-negara Teluk.

5. Australia – Babak 16 Besar 2006 dan 2022

Australia mungkin secara geografis bukan bagian dari Asia, namun keputusan mereka bergabung ke konfederasi AFC pada 2006 telah memperkuat posisi Asia di peta dunia. Prestasi mereka di Piala Dunia 2006 Jerman, saat diperkuat generasi emas seperti Tim Cahill dan Mark Viduka, hampir saja menggulung Italia (yang kemudian menjadi juara) di 16 besar andai tidak ada penalti kontroversial pada menit akhir.

Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Australia kembali menunjukkan taringnya sebagai wakil Asia dengan lolos ke 16 besar setelah mengalahkan Denmark. Mereka memberikan perlawanan sengit kepada sang juara bertahan Argentina, menunjukkan bahwa kekuatan fisik dan organisasi permainan yang solid menjadikannya aset berharga bagi reputasi sepak bola Asia.