Adidas sudah merilis jersei tim nasional sepak bola negara-negara yang akan turun di Piala Dunia 2026. Jersei keluaran Adidas termasuk salah satu yang banyak dipalsukan. (Sumber: Adidas) Foto: Adidas
TVRINews – Hong Kong, Tiongkok
Operasi Dawnbreaker memungkinkan otoritas Hong Kong menyita barang-barang terkait Piala Dunia 2026 yang diduga palsu dengan total nilai 8,16 juta dolar AS.
Pada hari Kamis (9/4/2026) otoritas bea cukai Hong Kong mengumumkan telah menyita sekitar 10 ribu perlengkapan sepak bola palsu (jersei yang terbanyak) dalam operasi khusus, dua bulan sebelum dimulainya Piala Dunia 2026.
Operasi yang diberi nama Dawnbreaker dari tanggal 9 hingga 27 Maret itu berfokus pada pemeriksaan pengiriman dalam perjalanan dan pengiriman di dalam wilayah Daerah Administratif Khusus (SAR) Republik Rakyat Tiongkok tersebut.
Hasilnya, mereka menyita sejumlah barang dagangan mencurigakan senilai total 64 juta dolar Hong Kong (8,16 juta dolar AS atau sekitar Rp139,53 miliar).
Jumlah keseluruhan mencakup hampir 110 ribu barang yang diduga palsu, mulai dari pakaian dan parfum hingga headphone dan telepon, yang menggambarkan keserbagunaan jaringan yang didedikasikan untuk pembajakan merek.
Dalam koleksi tersebut, perlengkapan sepak bola menempati bagian tersendiri. Menurut pernyataan resmi, jersei bernilai sekitar 4 juta dolar Hong Kong (510 ribu dolar AS) yang mencakup reproduksi lambang, huruf, dan desain yang terkait dengan tim negara-negara yang akan berkompetisi di Piala Dunia 2026 yang akan dimulai pada 11 Juni.
Menurut pihak berwenang, kemiripan visual dengan aslinya jelas dimaksudkan untuk memanfaatkan popularitas raja olahraga untuk memasarkan produk tidak resmi di kalangan penggemar.
Amerika Selatan dan Afrika
Destinasi utama yang terdeteksi untuk pengiriman uang ini adalah pasar di Amerika Selatan dan Afrika, sebuah rute yang menurut para peneliti bergantung pada pengiriman ulang untuk mempersempit jejak logistik.
“Organisasi kriminal memanfaatkan minat yang dihasilkan oleh Piala Dunia untuk memenuhi permintaan penggemar dengan menggunakan pengiriman ulang barang-barang palsu ini,” ujar Inspektur Yeung Tit-fung, penyidik dari bagian kekayaan intelektual transnasional Hong Kong.
Operasi ini juga mengidentifikasi fasilitas penanganan kargo tertentu yang terletak di New Territories sebagai lokasi yang sering dikunjungi, yang terkenal karena kegunaannya dalam mengonsolidasikan paket, memberi label ulang pengiriman, dan mendistribusikan ulang barang.
Hasilnya, 37 kasus dibuka dengan tiga tersangka berusia antara 25 dan 56 tahun ditangkap karena dugaan pelanggaran Undang-Undang Deskripsi Komersial.
Berdasarkan Undang-Undang Deskripsi Perdagangan, penjualan atau kepemilikan barang palsu merupakan pelanggaran yang dapat dihukum dengan denda hingga 500 ribu dolar Hong Kong (sekitar 63.800 dolar AS atau Rp1,09 miliar) dan hukuman penjara hingga lima tahun.
Penegakan Hukum dan Penyitaan Global
Operasi pemberantasan barang-barang palsu yang terkait Piala Dunia 2026 ini sejatinya sudah dilakukan secara global.
Akhir bulan Maret lalu, pihak berwenang Meksiko menyita setidaknya 25 ton produk palsu terkait Piala Dunia FIFA 2026 di daerah Tepito, Kota Meksiko, dengan nilai sekitar 15,3 juta peso (850 ribu dolar AS atau sekitar Rp14,53 miliar).
Dengan nama Operation Cleanup (Operasi Pembersihan), tindakan yang dilakukan oleh Institut Kekayaan Industri Meksiko (IMPI) itu merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memberantas pembajakan, perdagangan ilegal, dan penyelundupan produk.
Tidak kurang 80 inspektur IMPI memimpin operasi tersebut dan berhasil menyita 80.973 produk palsu asal Asia dengan logo merek-merek terkenal seperti Adidas, Nike, Puma, dan Reebok, dari beberapa gudang di Jalan Aztecas di Tepito.
“Dengan semakin dekatnya acara global seperti Piala Dunia FIFA 2026, kami menegaskan kembali bahwa IMPI, berkoordinasi dengan pemerintah federal dan otoritas negara bagian, akan memerangi penjualan barang bajakan atau palsu secara langsung untuk melindungi kekayaan intelektual, melindungi konsumen, dan menjamin persaingan yang adil bagi industri kreatif,” kata Kepala IMPI Santiago Nieto Castillo, seperti dikutip Mexico News Daily.
Operation Cleanup diluncurkan oleh Pemerintah Meksiko pada tahun 2024 yang dipimpin oleh Kementerian Ekonomi. Operasi ini bertujuan untuk memerangi pembajakan dan penyelundupan besar-besaran barang ilegal, termasuk tekstil, mainan, dan elektronik, terutama yang berasal dari Asia.
Sementara itu di Amerika Serikat, Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) serta Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan telah mengeluarkan peringatan resmi kepada para penggemar, yang menyatakan bahwa barang palsu sering kali mendanai kejahatan terorganisasi dan dapat berbahaya karena bahan-bahan yang tidak diatur.