TVRINews - Houston, Amerika Serikat

Upaya mitigasi ini diharapkan efektif meredam panas beton kota saat lautan manusia mulai memadati Houston.

Penggemar sepak bola dari seluruh penjuru dunia harus bersiap menghadapi sengatan cuaca panas ekstrem khas Houston saat Piala Dunia 2026 bergulir pada 11 Juni hingga 19 Juli mendatang. Namun, panitia penyelenggara lokal memastikan sedang bekerja keras untuk menjamin para pengunjung serta warga setempat memiliki banyak cara untuk berteduh dan menjaga tubuh tetap sejuk.

Pada Selasa (19/5/2026), Komite Tuan Rumah Piala Dunia FIFA Houston resmi memperkenalkan serangkaian proyek fasilitas publik yang dirancang khusus untuk melawan suhu kota yang sangat menyengat menjelang turnamen tersebut. Langkah preventif ini diambil demi kenyamanan jutaan pasang mata yang akan memadati kota.

Komite tersebut kini tengah mempelopori pembuatan koridor hijau di seantero Houston, sebuah jalur melingkar yang membentang dari Stadion Houston melewati area FIFA Fan Festival di EaDo hingga melintasi Columbia Tap Trail di pusat kota. Mereka juga sedang merampungkan berbagai proyek di sepanjang Main Street, Midtown, Third Ward, hingga Universitas Rice demi menyediakan fasilitas penunjang bagi pengunjung untuk memerangi suhu tinggi musim panas.

Jalanan Houston dan berbagai jalur pejalan kaki sering kali terasa seperti terpanggang di bawah terik matahari musim panas karena minimnya pepohonan dan ruang terbuka hijau di beberapa titik wilayah. Oleh karena itu, upaya meredam panas di area jalanan menjadi fokus utama Komite Tuan Rumah dalam beberapa bulan terakhir.

Kawasan pedestrian Main Street Promenade di pusat kota baru-baru ini mendapatkan perombakan besar-besaran, termasuk pelebaran jalur pejalan kaki serta penanaman pohon dan lanskap baru di sepanjang koridor sibuk tersebut. Menariknya, panitia tidak hanya mengandalkan penghijauan alami, tetapi juga menciptakan sejumlah area peneduh buatan manusia seperti struktur landai yang dirancang untuk melindungi para komuter yang sedang menunggu transportasi METRO.

"Instalasi baru ini, bersama dengan ruang terbuka hijau yang ada, diharapkan dapat menurunkan suhu udara sekitar lima persen," ujar Kris Larson selaku Presiden & CEO Downtown Houston+ dikutip dari Chron.

Komite Tuan Rumah tidak hanya mengandalkan proyek-proyek publik berskala standar dalam mengatasi masalah ini. Mereka juga menggandeng firma desain lokal Rootlab untuk menciptakan 16 "pohon arsitektural" unik yang nantinya akan dipasang berderet di sepanjang Texas Avenue.

Pohon-pohon artifisial tersebut akan dibangun dengan ketinggian mencapai 15 kaki dan memiliki diameter sekitar 13 kaki. Struktur peneduh ini direncanakan akan tetap dipertahankan sebagai fasilitas kota Houston bahkan setelah gelaran Piala Dunia 2026 usai.

Area peneduh tambahan juga akan dibangun di sepanjang jalur Columbia Tap Trail untuk memanjakan para pejalan kaki dan pesepeda. Komite Tuan Rumah bekerja sama dengan Distrik Manajemen EaDo untuk memasang belasan struktur peneduh yang dilengkapi dengan fasilitas stasiun pengisian daya gawai.

Fasilitas tersebut akan ditempatkan berdampingan dengan stasiun air minum gratis, tempat perbaikan sepeda portabel, serta berbagai tanaman hias asli Texas. Proyek infrastruktur ini ditargetkan rampung dalam beberapa minggu ke depan dan akan siap beroperasi sepenuhnya sebelum laga perdana Piala Dunia di Houston dimulai pada 14 Juni.

Struktur peneduh baru merupakan salah satu metode efektif untuk meredam suhu udara yang diprediksi sangat panas pada akhir Juni dan awal Juli. Meski begitu, Sanjeev Raman yang menjabat sebagai CEO SolarMantle menawarkan sebuah solusi alternatif yang jauh lebih canggih dan berbasis teknologi tinggi.

Perusahaan SolarMantle akan memasang panel surya khusus di fasilitas toilet umum Midtown Park serta di sejumlah tenda besar pada area FIFA Fan Festival di EaDo. "Panel surya ini mampu menurunkan suhu di area yang ditentukan hingga lebih dari 40 derajat celcius pada hari yang terik," ujar Raman menjelaskan keunggulan teknologinya.

Kehadiran teknologi ini tentu akan menjadi keuntungan besar, khususnya bagi kawasan Fan Festival yang diprediksi disesaki oleh lautan manusia. SolarMantle sendiri kini memasuki tahun kedua operasionalnya, di mana proyek Piala Dunia ini menandai kemitraan fasilitas publik pertama mereka setelah hanya fokus pada pendinginan pusat data dan transportasi swasta.

Kawasan pusat kota Houston dan permukiman EaDo diakui sebagai dua wilayah terpanas di kota tersebut karena memiliki hamparan beton yang luas dengan peneduh alami yang sangat minim. Namun, dinamika kondisi lingkungan tersebut akan terasa berbanding terbalik ketika memasuki kawasan kampus Universitas Rice.

Kampus Universitas Rice memang telah ditetapkan secara resmi sebagai sebuah arboretum alami yang sangat asri. Tempat ini memiliki lebih dari 2.000 pohon oak hidup yang tumbuh rindang dan tersebar luas di seluruh penjuru area kampus.

Rindangnya pepohonan tersebut mampu menurunkan suhu lingkungan kampus sebesar 10 hingga 15 derajat jika dibandingkan dengan area pusat kota Houston. Efek kesejukan udara ini bahkan meluas hingga ke kawasan Hermann Park yang letaknya bersebelahan langsung dengan Universitas Rice.

"Pihak universitas akan memamerkan belasan instalasi seni untuk merayakan keberadaan pepohonan di kampus serta keanekaragaman hayati yang ada," tutur Dr. David Abraham selaku dosen di Universitas Rice. Pameran ini sekaligus bertujuan untuk menonjolkan ketahanan dari berbagai vegetasi hijau yang tumbuh di kawasan Houston.

Diharapkan para pengunjung Houston akan berbondong-bondong mendatangi kampus Universitas Rice serta Hermann Park selama pergelaran Piala Dunia 2026 berlangsung. Lokasi ini dianggap sebagai tempat pelarian terbaik untuk menemukan ketenangan dan kesejukan di tengah lanskap kota yang sibuk.