Para pemain tim nasional sepak bola Bolivia memanfaatkan jeda minum untuk menghilangkan kelelahan saat laga semifinal play-off inter-konfederasi kualifikasi Piala Dunia 2026. (TVRI/Grafis/Dede Mauladi) Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - East Rutherford, Amerika Serikat
Sepanjang Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, FIFA mewajibkan jeda hidrasi selama tiga menit pada pertengahan babak pertama dan kedua.
FIFA akan mengevaluasi penggunaan hydration break atau cooling break yang diterapkan secara wajib di seluruh pertandingan Piala Dunia 2026. Meski dinilai tidak memengaruhi hasil pertandingan, masa depan aturan tersebut masih belum diputuskan.
Hal itu disampaikan Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, Arsene Wenger, dalam konferensi pers jelang final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di New York New Jersey Stadium, Minggu (19/7/2026) waktu setempat atau Senin (20/7/2026) dini hari WIB.
Sepanjang Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, FIFA mewajibkan jeda hidrasi selama tiga menit di pertengahan babak pertama dan kedua pada setiap pertandingan. Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga kondisi fisik pemain mengingat sebagian laga berlangsung dalam cuaca yang sangat panas.
Namun, penerapan aturan tersebut memicu perdebatan. Sejumlah pihak menilai jeda itu mengganggu ritme pertandingan, sementara sebagian lainnya menganggapnya penting demi keselamatan pemain.
"Kami akan melakukan analisis setelah Piala Dunia mengenai dampaknya," kata Wenger dikutip dari Reuters, Minggu (19/7/2026).
Mantan pelatih Arsenal tersebut menegaskan bahwa berdasarkan pengamatannya selama turnamen, cooling break tidak memberikan pengaruh terhadap hasil pertandingan.
"Menurut saya, jeda hidrasi itu tidak mengubah hasil kompetisi. Namun kami ada di sini untuk melayani orang-orang yang menonton sepak bola," ujar Wenger.
Ia juga juga mengakui tidak semua penonton menyukai kebijakan tersebut. Pada awal turnamen bahkan sempat terdengar sorakan boo dari suporter ketika pertandingan dihentikan untuk jeda hidrasi.
Menurut para pengkritik, penghentian pertandingan tersebut membuat laga seolah terbagi menjadi empat kuarter, sekaligus memberi ruang tambahan bagi stasiun televisi untuk menayangkan iklan selama lebih dari dua menit.
Meski demikian, FIFA memilih menerapkan aturan yang sama di seluruh pertandingan.
"Dalam beberapa pertandingan, jeda itu memang sangat dibutuhkan. Karena kami tidak ingin ada perbedaan perlakuan antara satu pertandingan dengan pertandingan lainnya, kami memutuskan untuk menerapkannya di semua laga," Wenger menjelaskan.
Perbedaan Kondisi Cuaca Jadi Pertimbangan
Piala Dunia 2026 berlangsung dalam kondisi cuaca yang sangat beragam. Sejumlah pertandingan di Amerika Serikat dan Meksiko dimainkan dalam suhu tinggi, sementara laga di Kanada maupun kota seperti Boston berlangsung dalam temperatur yang jauh lebih sejuk.
Beberapa pertandingan juga digelar di stadion beratap yang memiliki kondisi lingkungan lebih terkendali. Perbedaan itulah yang memunculkan pertanyaan mengenai perlunya cooling break diterapkan secara menyeluruh.
"Kami akan melakukan analisis mendalam setelah kompetisi berakhir. Dalam beberapa pertandingan yang dimainkan di stadion beratap, banyak orang memang tidak senang dengan aturan ini," kata Wenger.
"Namun secara medis, jeda tersebut memang diperlukan dalam banyak pertandingan. Kami belum sampai pada kesimpulan akhir," ia menambahkan.
Pelatih dan Pemain Berbeda Pendapat
Selama turnamen berlangsung, sejumlah pelatih dan pemain mendukung tujuan penerapan aturan tersebut, terutama untuk pertandingan yang berlangsung dalam cuaca ekstrem.
Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, dan kapten Belanda, Virgil van Dijk, sepakat bahwa jeda hidrasi penting ketika suhu sangat panas. Namun keduanya mempertanyakan alasan aturan itu tetap diberlakukan pada pertandingan yang dimainkan dalam cuaca sejuk atau di stadion tertutup.
Sementara itu, pelatih Inggris Thomas Tuchel menilai dampak cooling break terhadap jalannya pertandingan lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya karena mampu memutus momentum permainan.
Kritik paling keras datang dari pelatih Uruguai, Marcelo Bielsa. Menurutnya, jeda hidrasi tidak memberikan nilai tambah bagi sepak bola dan justru menghilangkan esensi alami permainan.
Meski menuai pro dan kontra, FIFA belum mengambil keputusan apakah aturan hydration break akan dipertahankan pada turnamen-turnamen berikutnya.
Evaluasi menyeluruh terhadap aspek medis, kualitas pertandingan, hingga pengalaman penonton akan menjadi dasar sebelum badan sepak bola dunia itu menetapkan kebijakan selanjutnya.