Hajime Moriyasu, menilai Jepang layak mencapai perempat final Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Monterrey, Meksiko
Menurut pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, kehadiran pelatih baru, Herve Renard, akan membuat Tunisia tampil berbeda dibanding pertandingan sebelumnya.
Pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, menegaskan timnya memburu kemenangan saat menghadapi Tunisia pada laga Grup F Piala Dunia 2026 di Monterrey, Sabtu (20/6/2026) atau Minggu (21/6/2026) pagi WIB.
Pertandingan ini bukan hanya penting dalam persaingan grup, tetapi juga akan tercatat sebagai laga ke-1.000 dalam sejarah Piala Dunia.
Jepang mengawali turnamen dengan hasil imbang 2-2 melawan Belanda dalam pertandingan yang berlangsung menarik.
Meski berhasil mencuri satu poin dari salah satu tim kuat Eropa, Moriyasu mengakui hasil tersebut belum memuaskan dan para pemain datang ke laga kontra Tunisia dengan tekad meraih tiga poin.
"Belanda bermain sangat baik, begitu juga tim kami. Namun kami belum sepenuhnya puas dengan hasil itu. Karena itu, menghadapi Tunisia, saya yakin semua orang di tim ini sepakat bahwa kami harus menang," ujar Moriyasu dalam konferensi pers, dikutip dari Reuters, Sabtu (20/6/2026).
Jepang juga mewaspadai perubahan besar yang terjadi di kubu Tunisia. Setelah dibantai Swedia 1-5 pada laga pertama, federasi sepak bola Tunisia memecat Sabri Lamouchi dan menunjuk pelatih asal Prancis, Herve Renard, sebagai penggantinya.
Menurut Moriyasu, kehadiran Renard akan membuat Tunisia tampil berbeda dibandingkan pertandingan sebelumnya.
"Saya yakin tim ini akan berbeda dengan tim yang menghadapi Swedia. Pelatih baru tentu akan membakar semangat para pemainnya," kata Moriyasu, yang sebelumnya pernah meghadapi Herve Renard saat masih menangani Arab Saudi di ronde ketiga kualifikasi grup Piala Dunia 2026 Zona Asia.
Moriyasu menilai Tunisia tetap memiliki kualitas individu yang mampu merepotkan Jepang, terutama melalui organisasi pertahanan yang solid serta kemampuan memanfaatkan celah lawan untuk melancarkan serangan.
"Tunisia memiliki pertahanan yang kuat. Mereka juga pandai mencari celah dari permainan lawan dan mengubahnya menjadi peluang untuk mencetak gol," ia menambahkan.
Selain faktor lawan, Jepang juga harus beradaptasi dengan kondisi cuaca di Monterrey. Laga pertama mereka dimainkan di Dallas, di stadion yang memiliki pendingin udara sehingga kondisi pertandingan lebih nyaman. Situasi tersebut berbeda jauh dengan Monterrey yang dikenal memiliki suhu lebih panas.
"Di sini kondisinya sangat berbeda. Suhunya lebih panas sehingga lingkungan pertandingan akan jauh lebih berat bagi para pemain," ujar Moriyasu.
Meski demikian, ia memastikan timnya sudah mengantisipasi kondisi tersebut melalui persiapan dan latihan khusus agar para pemain mampu tampil optimal meski cuaca tidak bersahabat.
Siap Suguhkan Kualitas dalam Laga Bersejarah
Pertemuan Jepang melawan Tunisia juga akan menjadi momen bersejarah karena menjadi pertandingan ke-1.000 sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia sejak edisi pertama pada 1930.
Moriyasu berharap laga tersebut dapat dikenang sebagai pertandingan yang berkualitas dan layak menyandang status bersejarah.
"Kami ingin memastikan pertandingan ini menjadi laga yang luar biasa dan pantas dikenang sebagai pertandingan ke-1.000 dalam sejarah Piala Dunia," ucap pelatih berusia 57 tahun tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Moriyasu juga kembali mendapat pertanyaan mengenai tradisi suporter dan pemain Jepang yang selalu membersihkan stadion maupun ruang ganti setelah pertandingan. Kebiasaan tersebut telah menarik perhatian dunia dalam beberapa edisi turnamen besar.
"Banyak orang Jepang percaya bahwa mereka harus meninggalkan suatu tempat dalam kondisi yang lebih baik daripada saat mereka datang," ia menjelaskan.
"Selalu saling membantu, melakukan sesuatu bersama, dan bekerja sama. Itulah yang menjadi kebiasaan masyarakat Jepang," kata Moriyasu, yang sudah menangani Tim Samurai Biru sejak tahun 2018.