Foto kiri-kanan: Gheorghe Hagi (Rumania), Roberto Baggio (Italia), Hristo Stoichkov (Bulgaria), dan Romario (Brasil), adalah beberapa bintang pada Piala Dunia 1994. (TVRI/Grafis/Yusuf) Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews – California, Amerika Serikat
Piala Dunia 1994 menghadirkan banyak pemain yang tengah berada di puncak performa sekaligus mereka yang bakal menjadi ikon di masa depan.
Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, mulai 11 Juni sampai 19 Juli nanti mengingatkan kembali publik bagaimana AS untuk kali pertama menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar sejagat itu pada 1994.
Di turnamen yang tenar dengan sebutan USA 94 saat itu, Donald Trump – kini Presiden AS – hanyalah seorang pengusaha yang tampil sebagai kameo dalam film Home Alone. Selain itu, AS akan memulai kisah cinta terbarunya dengan segala hal yang terkait sepak bola.
Banyak kejadian maupun momen menarik di USA 94. Sebut saja legenda Argentina Diego Maradona yang dicoret dari turnamen setelah tes dopingnya positif seusai menjebol gawang Yunani.
Namun, yang paling miris tentu saja tragedi pembunuhan terhadap bek Kolombia Andres Escobar yang mencetak gol bunuh diri sehingga AS memenangi pertandingan. Escobar ditembak mati usai pulang ke negaranya.
Bintang-bintang USA 94
Bicara bintang-bintang pada Piala Dunia 1994, rasanya “tidak sah” jika tidak membicarakan pemain di posisi nomor 10 – termasuk mereka yang menjadi playmaker namun tidak mengenakan nomor punggung 10.
Bisa dibilang, Piala Dunia 1994 menampilkan beberapa pemain nomor 10 yang sudah berada di puncak penampilan. Itu bisa dilihat dari nama-nama kelas dunia yang turun di USA 94.
Italia yang lantas menjadi finalis USA 94 memiliki Roberto Baggio. Pemain yang saat itu dijuluki Divine Ponytail tersebut berusia 27 tahun.
Baggio menyelamatkan Italia berkali-kali dengan gol-gol krusial di babak gugur. Sayangnya, penaltinya di final melawan Brasil di babak adu penalti tidak masuk sehingga Italia kalah.
Nama pemain nomor 10 elite dari Eropa lainnya di Piala Dunia 19945 adalah Gheorghe Hagi. Kapten timnas Rumania itu tidak hanya memiliki teknik tinggi namun juga visi bermain brilian. Reputasinya saat itu tidak main-main, salah satu playmaker top Eropa.
Dari Afrika ada gelandang serang muda Jay-Jay Okocha yang membantu Nigeria memenangi Grup D. Sayang, perjalanan Super Eagle dihentikan Italia (kalah 1-2) di 16 besar dan finis di peringkat kesembilan turnamen.
Mereka yang Bersinar dari Empat Besar
Semifinal Piala Dunia 1994 mempertemukan Bulgaria dengan Italia dan Swedia melawan Brasil. Italia menang 2-1 lewat dua gol Baggio sedangkan Brasil meredam Swedia 1-0 berkat gol Romario Faria.
Romario disebut-sebut menjadi bintang utama Piala Dunia 1994. Sebagai striker, ia tak hanya memiliki skill di atas rata-rata namun juga kecepatan. Gol-golnya di momen krusial – salah satunya di semifinal – membantu Brasil mengamankan gelar keempat Piala Dunia.
Bebeto menajdi tandem Romario yang pas di lini depan Brasil pada USA 94. Seperti Romario, gol-gol Bebeto sangat penting bagi Canarinha di laga-laga krusial.
Semua tahu jika di final USA 94, Brasil menang 4-2 atas Italia lewat adu penalti usai bermain imbang 0-0 hingga perpanjangan waktu.
Kendati performa Baggio antiklimaks – penaltinya tak masuk sebagai penendang terakhir untuk menghidupkan peluang Italia – namanya tetap menjadi salah satu yang dikenang sebagai bintang USA 94.
Jika Baggio menjadi andalan Italia di lini depan, di sektor pertahanan Italia beruntung memiliki Paolo Maldini. Berusia 25 tahun, Maldini sudah memainkan peran penting sebagai bek kunci. Maldini membuat lini pertahanan Italia makin solid berkat kepandaian, tackle timing, dan kecepatannya di sisi kiri benteng Gli Azzurri.
Swedia yang berada di peringkat ketiga pada Piala Dunia 1994 memiliki duet mematikan di lini tengah-depan dalam diri Tomas Brolin dan Kennet Andersson. Sebagai gelandang serang berbakat dengan teknik tinggi, Brolin berperan merusak lini pertahanan dan konsentrasi lawan sedangkan Andersson dengan dingin menjadi eksekutor Swedia.
Swedia memang masih memiliki Martin Dahlin (4 gol) di lini depan. Namun, delapan dari 15 gol Swedia di USA 94 dibuat oleh duet penyerang mereka ini (Andersson 5, Brolin 3).
Tim peringkat keempat, Bulgaria, setidaknya memiliki dua pemain hebat di USA 94. Pertama tentu saja Hristo Stoichkov. Tidak hanya menjadi pencetak gol terbanyak turnamen – bersama striker Rusia Oleg Salenko – dengan enam gol, Stoichkov juga mampu menjadi inspirator tim dengan mentalitas, teknik bermain, dan visinya.
Selanjutnya ada gelandang serang Krasimir Balakov, yang diyakini pemain terbaik kedua di bawah Stoichkov pada generasi Bulgaria saat itu. Gaya permainan Balakov sangat taktis, ala permainan tim-tim Eropa Timur, namun efektif dan mematikan.
Pengalaman membentuk lini serang “magic triangle” di VfB Stuttgart bersama Fredi Bobic dan Giovane Elber kala itu, sangat membantunya di Bulgaria saat harus mengirimkan bola ke Stoichkov.
Bintang Calon Ikon
Selain nama-nama di atas, ada sejumlah pemain muda di USA 94 yang kemudian menjadi ikon sepak bola dunia.
Belanda memang tersingkir di perempat final dari Brasil usai kalah 2-3, dalam laga yang saat itu diyakini lebih pantas menjadi final. Namun, Tim Oranye memunculkan paling tidak dua nama ikonik dari Piala Dunia 1994.
Dennis Bergkamp yang mencetak tiga gol – termasuk satu di perempat final – kemudian menjadi salah satu penyerang ikonik di era 1990-an hingga awal 2000-an. Ia tipe second striker yang sangat teknis, pintar mencari posisi, dan memiliki kontrol bola luar biasa.
Selain Bergkamp, Belanda saat itu memiliki Marc Overmars (21 tahun) yang tidak hanya dikenal karena kecepatannya namun juga teknik dribel mumpuni.
Gol gelandang Arab Saudi, Saeed Al-Owairan, saat menang 1-0 atas Belgia di fase grup untuk lolos ke 16 besar juga ikonik. Menggiring bola sejauh sekira 65 meter, Owairan melewati beberapa pemain Belgia untuk sebelum membobol gawang Michel Preud'homme.
Striker Rusia Oleg Salenko juga fenomenal dengan lima golnya hanya dalam satu pertandingan di laga terakhir grup saat menggilas Kamerun 6-1. Hingga kini, Salenko masih menjadi satu-satunya pemain yang mampu mencetak lima gol hanya dalam satu laga Piala Dunia.
Tim All-Star USA 94
Tim All-Star adalah skuad yang terdiri dari 11 pemain paling mengesankan di Piala Dunia 1994, yang dipilih oleh Kelompok Studi Teknis FIFA (FIFA Technical Study Group).
Kiper
Michel Preud'homme (Belgia) – penerima Yashin Award (Kiper Terbaik)
Bek
Jorginho (Brasil)
Marcio Santos (Brasil)
Paolo Maldini (Italia)
Gelandang
Dunga (Brasil)
Krasimir Balakov (Bulgaria)
Gheorghe Hagi (Rumania)
Tomas Brolin (Swedia)
Penyerang
Romario (Brasil) - penerima Golden Ball (Pemain Terbaik)
Hristo Stoichkov (Bulgaria) – penerima Golden Shoe (Pencetak Gol Terbanyak)
Roberto Baggio (Italia)