Pemain Brasil, Neymar tidak dipanggil untuk laga uji coba Brasil di akhir Maret 2026. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Rio de Janeiro, Brasil
Romario mengingatkan timnas Brasil untuk tidak bergantung kepada satu pemain.
Legenda hidup sepak bola Brasil, Romario, menilai bahwa pemain Brasil saat ini berbeda dibandingkan dengan era dirinya. Perbedaan ini yang membuat Tim Samba sulit dalam meraih gelar. Menurutnya, sepak bola kini lebih khawatir pada kekuatan fisik ketimbang kemampuan individu pemain.
Romario, yang kini berusia 60 tahun, adalah salah satu bintang dunia pada masanya. Dia membawa Timnas Brasil meraih empat gelar penting, yaitu Piala Dunia 1994, Piala Amerika 1989 dan 1997, serta Piala Konfederasi 1997.
Saat usianya 28 tahun, Romario sudah meraih gelar Piala Dunia 1994 bersama Timnas Brasil. Ronaldo Nazario yang juga bintang Brasil meraih gelar Piala Dunia (2002) di usia 26 tahun. Sementara Ronaldinho meraih gelar Piala Dunia (2002) di usia lebih muda, 22 tahun.
Pencapaian seperti itulah yang kini tidak mudah untuk diikuti para generasi sepak bola Brasil saat ini. Bahkan, pencapaian ini dapat dilihat dari sulitnya pemain Brasil meraih gelar Ballon d'Or. Kali terakhir pemain Brasil meraih gelar Ballon d'Or adalah Kaka dan itu sudah terjadi 19 tahun silam.
Perbedaan Dulu dan Sekarang
Menurut Romario, dirinya pun ragu di tahun 2026 ini ada pemain Brasil yang dapat memenangkan trofi Ballon d'Or karena sudah banyak perubahan yang terjadi dan itu memengaruhi kualitas individu pemainnya.
"Sepak bola Brasil tidak seperti dulu lagi. Sepak bola Brasil tidak lagi mampu memungkinkan seorang pemain untuk memenangkan gelar Ballon d'Or seperti yang terlihat pada 15 atau 20 tahun lalu," kata Romario seperti yang diberitakan media Prancis, L'Equipe, Jumat (10/4/2026) lalu.
Mantan bintang Barcelona ini memiliki alasan terkait penilaiannya tersebut. Romario mengatakan bahwa orang Brasil selalu bermain sepak bola di jalanan, seperti di favela (kawasan padat pemukiman, di antaranya di bukit).
"Kurangnya pengembangkan bakat dan esensi terasa saat ini. Sepak bola saat ini memaksa pemain dan klub untuk memprioritaskan kekuatan fisik daripada bakat. Menurut saya, itu yang 'membunuh' karier pesepak bola muda mana pun," kata Romario.
"Jika Anda melihat daftar pemenang Ballon d'Or, Kaka pada tahun 2007 adalah pemain Brasil terakhir yang memenangkan Ballon d'Or," dia menambahkan.
Sedangkan Neymar, bintang Brasil di era saat ini, hanya beberapa kali sebagai pemain yang hampir meraih penghargaan tersebut. Situasi itu juga berlaku kepada penyerang andalan Brasil saat ini, Vinicius Junior.
Bintang legendaris Timnas Brasil, Romario.
Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
Brasil dan Neymar
Kini, jelang Piala Dunia 2026 akan bergulir, muncul sejumlah polemik terkait Neymar. Penyerang 34 tahun ini menjadi perhatian karena kariernya di Timnas Brasil. Peluang Neymar masuk skuad Timnas Brasil asuhan Carlo Ancelotti masih sulit karena kondisi bintang Santos ini yang kerap mengalami cedera.
Bahkan, Neymar dikabarkan melakukan operasi demi untuk pulih lebih cepat sehingga dirinya dapat bermain di Piala Dunia 2026. Usianya saat ini memang membuat Piala Dunia 2026 seperti turnamen terakhir yang kemungkinan dapat diikutinya.
"Brasil satu dari tiga tim favorit peraih gelar Piala Dunia. Meski demikian, Anda tidak bisa bergantung kepada hanya satu pemain. Itu terlalu berisiko," kata Romario, terkait Neymar.
"Saat ini selain Neymar, kami memiliki pemain bagus seperti Raphinha dan Vinicius Junior, tetapi juga talenta muda lainnya yang menjanjikan seperti Joao Pedro dan Estevao," kata Romario.
Romario yang pernah memperkuat PSV Eindhoven dan Barcelona memberikan dukungan kepada pelatih Brasil saat ini, Carlo Ancelotti, untuk membawa Brasil juara Piala Dunia. Sudah sejak 2002 silam atau 24 tahun lalu Brasil memang tidak pernah lagi meraih gelar Piala Dunia. "Kita harus bersatu untuk mengakhiri kekeringan gelar Piala Dunia selama 24 tahun ini," kata Romario.
"Secara Teknik, Brasil sudah jatuh terlalu jauh. Sejak generasi Ronaldo, Ronaldinho, dan Rivaldo, segalanya menjadi lebih sulit. Lalu, kami menjadi bergantung kepada hanya satu pemain: Neymar," kata Romario lagi dengan nada khawatir.
Di sisi lain, para pemain muda Brasil yang baru tumbuh, menurut Romario sudah terlalu dini meninggalkan negeri Brasil untuk bermain di Eropa. "Mereka bergabung dengan klub kecil di mana mereka akan kehilangan DNA mereka," kata Romario.
Karena itu, menurut Romario, inilah kenyataannya saat ini. Untuk peluang Brasil, Romario menegaskan bahwa peluang Brasil meraih gelar Piala Dunia 2026 tetap terbuka dengan satu kondisi yang kini dipikirkan kebanyakan publik Brasil, berharap Neymar pulih. "Brasil dapat menjadi juara Piala Dunia karena sejarah yang kami miliki, pengalaman kami, dan tentu jika Neymar kembali dalam performa terbaik," kata Romario lagi.