Prancis juara Piala Dunia 1998 Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Paris, Prancis
Prancis telah sah menjadi raja dunia, meninggalkan warisan abadi yang akan selalu dikenang sebagai standar tertinggi kehebatan sepak bola mereka.
Ada sebuah memori kolektif yang takkan luntur dari ingatan publik Prancis. Aroma rumput Stade de France yang bercampur dengan gemuruh jutaan orang di Champs-Elysees pada malam 12 Juli 1998.
Kala itu, sepak bola bukan lagi sekadar permainan sebelas lawan sebelas, melainkan sebuah simfoni persatuan yang meruntuhkan sekat-sekat etnis di bawah panji Tricolore. Di tengah keraguan publik terhadap kapasitas Aime Jacquet, sekelompok pemuda yang kelak mendapat julukan Generasi Emas, melangkah ke lapangan dengan satu misi untuk membuktikan Prancis bukan sekadar tuan rumah yang ramah, melainkan penguasa baru jagat sepak bola.
Prancis memulai petualangannya di Grup C melawan Afrika Selatan di Marseille, sebuah laga pembuka yang krusial untuk membuktikan mereka bukan sekadar penggembira di tanah sendiri. Kegugupan sempat menyergap, namun dukungan publik yang masif menjadi bahan bakar yang membakar semangat pasukan Aime Jacquet sejak menit pertama.
Kemenangan telak 3-0 atas Afrika Selatan menjadi pernyataan awal yang tegas. Stadion Velodrome bergemuruh, menandai awal dari sebuah perjalanan panjang yang akan menyatukan identitas etnis Prancis dalam satu bendera.
Laga kedua melawan Arab Saudi di Saint-Denis seharusnya menjadi pesta gol yang sederhana, dan memang berakhir dengan skor mencolok 4-0. Namun, kemenangan itu nyatanya menyisakan luka yang dalam ketika Zinedine Zidane, sang dirigen lapangan tengah, menginjak pemain lawan dan diganjar kartu merah langsung oleh wasit.
Kehilangan Zidane untuk dua pertandingan berikutnya menciptakan awan mendung di atas kamp pelatihan Les Bleus, memunculkan spekulasi tajam di media tentang ketergantungan tim pada satu sosok. Akan tetapi, di laga terakhir grup melawan Denmark, Prancis menunjukkan kedalaman skuadnya dengan tetap menang 2-1 meski sang maestro hanya menonton dari tribune.
Menyapu bersih sembilan poin di fase grup membawa Prancis ke babak 16 besar dengan status juara grup yang meyakinkan. Tantangan sesungguhnya baru saja dimulai di Lens, di mana mereka bertemu dengan Paraguai yang memiliki pertahanan gerendel paling disiplin di turnamen tersebut.
Selama 90 menit penuh, serangan Prancis membentur tembok kokoh Paraguai yang dikawal kiper eksentrik Jose Luis Chilavert, memaksa pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu yang mencekam. Di sini sejarah tercipta ketika Laurent Blanc, sang bek tengah veteran, maju ke depan dan mencetak golden goal pertama dalam sejarah Piala Dunia.
Gol Blanc bukan sekadar penentu kemenangan, melainkan sebuah katarsis yang melepaskan seluruh ketegangan publik Prancis yang mulai meragukan ketajaman lini depannya. Mental yang kembali membara, Prancis melangkah ke perempat final untuk menghadapi Italia, sebuah duel taktis yang disebut-sebut sebagai final kepagian.
Pertandingan melawan Italia adalah sebuah catur taktik yang melelahkan, lantaran kedua tim bermain sangat hati-hati dan penuh disiplin tinggi. Skor kacamata bertahan hingga 120 menit berlalu, memaksa pemenang ditentukan melalui drama adu penalti yang selalu menjadi mimpi buruk bagi tim tuan rumah.
Dalam keheningan yang mencekam, satu per satu eksekutor Prancis menjalankan tugasnya dengan dingin di bawah tekanan jutaan pasang mata. Kegugupan seolah sirna ketika kegagalan tendangan Luigi Di Biagio yang menghantam mistar gawang memastikan langkah Prancis ke semifinal, memicu pesta pora di seluruh penjuru negeri.
Di babak semifinal, Prancis bertemu dengan Kroasia, tim debutan yang sedang naik daun dan diperkuat oleh pencetak gol ulung, Davor Suker. Ujian mental terbesar datang saat Suker mencetak gol di awal babak kedua, seketika membungkam ribuan pasang mata yang memenuhi stadion.
Namun, hanya semenit setelah gol Kroasia, muncul seorang pahlawan yang paling tidak terduga, Lilian Thuram. Bek kanan yang sebelumnya tak pernah mencetak gol internasional ini tiba-tiba berada di posisi menyerang dan mencetak gol penyeimbang yang membangkitkan harapan publik tuan rumah.
Seolah dirasuki roh penyerang legendaris, Thuram kembali mencetak gol kedua lewat tendangan melengkung dari luar kotak penalti yang memastikan kemenangan 2-1. Hingga akhir kariernya, dua gol di malam semifinal itu tetap menjadi satu-satunya gol yang pernah dicetaknya dalam lebih dari seratus penampilan untuk tim nasional.
Malam final 12 Juli 1998 akhirnya tiba, mempertemukan Prancis dengan sang juara bertahan sekaligus kiblat sepak bola dunia, Brasil. Seluruh dunia menjagokan Selecao yang diperkuat Ronaldo Nazario, yang kondisi fisik misterius sang bintang memberikan celah psikologis yang dimanfaatkan dengan sempurna oleh tuan rumah.
Zidane, yang telah kembali dari masa hukuman dan melewati masa-masa sulit di awal turnamen, memilih malam final sebagai panggung pembuktian. Lewat dua sundulan maut dari sepak pojok di babak pertama, ia menghancurkan mitos tak terkalahkan tim Samba dan membawa Prancis unggul dua gol tanpa balas.
Stadion terasa bergetar setiap kali Zidane menyentuh bola, seolah setiap gerakannya adalah goresan kuas di atas kanvas sejarah sepak bola modern. Pertahanan Prancis yang digalang Marcel Desailly bermain dengan disiplin baja, mematahkan setiap upaya serangan yang dibangun oleh Rivaldo dan kawan-kawan.
Bahkan ketika Desailly harus diusir keluar lapangan karena kartu merah di pertengahan babak kedua, mental juara Prancis tak goyah sedikit pun. Didier Deschamps, sang kapten, mengatur rekan-rekannya dengan ketenangan seorang jenderal di tengah kepungan pemain Brasil.
Di masa injury time, ketika Brasil mengerahkan seluruh pemainnya untuk menyerang, Prancis melancarkan serangan balik kilat yang mematikan. Patrick Vieira melepaskan umpan terobosan terukur kepada Emmanuel Petit yang berlari bebas menuju kotak penalti lawan tanpa kawalan.
Petit dengan tenang menyarangkan bola ke pojok gawang, mengubah skor menjadi 3-0 dan memicu ledakan kegembiraan yang belum pernah dirasakan sebelumnya di tanah Prancis. Peluit panjang wasit meniupkan akhir dari penantian panjang sebuah bangsa yang selama ini hanya bisa memimpikan gelar juara dunia.
Malam itu, Champs-Elysees berubah menjadi lautan manusia yang merayakan persatuan dalam keberagaman di bawah kibaran bendera Tricolore. Wajah Zidane yang diproyeksikan ke Arc de Triomphe menjadi simbol generasi emas ini telah berhasil menaklukkan dunia dan menyatukan bangsa mereka.
Keberhasilan mengangkat trofi Piala Dunia 1998 bukan sekadar kemenangan di lapangan hijau, melainkan puncak dari sebuah perjalanan kolektif yang penuh drama dan air mata. Prancis telah sah menjadi raja dunia, meninggalkan warisan abadi yang akan selalu dikenang sebagai standar tertinggi kehebatan sepak bola mereka hingga generasi-generasi mendatang.