Gelandang Arsenal dan Timnas Inggris, Declan Rice, bergaya sebagai model di majalah fashion Inggris, British Vogue. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - London, Inggris
Gelandang Arsenal dan Timnas Inggris, Declan Rice, sangat nyaman berada di dunia mode. Sejumlah merek ternama seperti Prada, Tom Ford, hingga celana kulit Versace, dipakainya tanpa ragu.
Berada di tengah jadwal padat, tekanan publik, dan ekspektasi jutaan pendukung Inggris menjelang Piala Dunia 2026, Declan Rice memilih menghabiskan hari liburnya dengan sesuatu yang sangat sederhana: pergi ke Legoland bersama putranya yang masih berusia tiga tahun.
Wawancara dengan majalah mode Inggris, British Vogue, sebenarnya sudah dijadwalkan. Namun gelandang Arsenal dan Timnas Inggris berusia 27 tahun itu mendadak memutuskan memanfaatkan satu-satunya sore cerah yang langka untuk membawa anaknya bermain di taman hiburan Windsor, Berkshire, Inggris, tersebut.
Dan sulit menyalahkannya. Musim ini saja, Rice menjalani lebih dari 50 pertandingan. Rekan-rekannya menjulukinya “the horse” (kuda) karena stamina dan kemampuan berlarinya yang nyaris tanpa habis.
Pada level klub, bersama Arsenal ia berhasil melewati fase paling menegangkan dalam perebutan gelar Liga Inggris. The Gunners berhasil finis di puncak, dan itu menjadi trofi liga pertama bagi klub asal London itu dalam 22 tahun terakhir.
Pada saat bersamaan, semifinal Liga Champions juga sudah menanti. Dan di atas semua itu, ada satu panggung terbesar yang terus mendekat: Piala Dunia 2026.
Musim panas ini, skuad Inggris akan terbang ke Amerika Utara (tempat penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada), membawa harapan satu bangsa yang sudah menunggu enam dekade untuk kembali menjadi juara Piala Dunia.
Sejak kekalahan menyakitkan Inggris dari Spanyol di final Piala Eropa 2024, nama Rice justru makin melesat. Bukan hanya karena performanya di lapangan, tetapi juga karena karisma personalnya.
Penggemar sepak bola memuji determinasi dan kemampuan duel udaranya. Sementara publik yang lebih luas mulai mengenalnya lewat rambut gondrong khasnya, senyum jahil, hingga penampilan modis dengan setelan Burberry.
Pengakuan dari Para Legenda Inggris
Keesokan harinya setelah kunjungan ke Legoland, Rice menjadwalkan ulang wawancara pukul 07.30 pagi saat perjalanan menuju latihan. Ia meminta maaf karena waktu yang terlalu pagi, tetapi itulah realitas pemain elite modern.
“Saya rasa banyak orang mengira sepak bola itu cuma datang latihan satu jam lalu pulang,” katanya dengan logat khas Inggris selatan. “Dibandingkan 15 atau 20 tahun lalu, detail dan analisis sekarang sudah jauh lebih canggih.”
Namun tak ada nada keluhan dalam suaranya. Rice adalah pencinta sepak bola sejati sejak kecil. Ia masuk akademi Chelsea pada usia tujuh tahun, lalu menghabiskan hampir satu dekade di West Ham United, tempat ia bahkan dipercaya menjadi kapten di usia 20 tahun dan membawa klub itu meraih trofi pertama dalam 43 tahun.
Kini, setelah pindah ke Arsenal dengan nilai transfer fantastis 105 juta poundsterling pada 2023, Rice menjadi salah satu pesepak bola Inggris termahal sepanjang sejarah.
Meski demikian, aura yang terpancar darinya tetap seperti seseorang yang masih sulit percaya bahwa ia benar-benar hidup dari permainan yang dicintainya sejak kecil.
“Declan itu pemimpin sejati,” kata Alex Scott, legenda sepak bola wanita Arsenal dan Timnas Wanita Inggris, yang kini terkenal sebagai presenter dan pundit sepak bola di televisi.
“Orang-orang mendengarkannya. Dalam situasi apa pun dia akan membela rekan setimnya. Tapi yang paling saya suka, dia punya kepribadian yang hidup. Di ruang ganti, Anda butuh orang seperti itu. Seseorang yang bisa membuat Anda tertawa ketika pikiran sedang berat,” ia menambahkan.
Nama-nama besar di Inggris seperti Dennis Bergkamp, Steven Gerrard, hingga Jamie Carragher berkali-kali menyebut Rice sebagai salah satu gelandang terbaik dunia saat ini.
Namun di balik kualitas teknisnya, Rice juga dikenal sebagai pribadi yang hangat dan penuh humor. Senyumnya lebar dan menular. Ia terkenal sebagai sosok usil di ruang ganti, dan tak jarang memperlihatkan kemampuan nge-rap-nya di depan rekan-rekannya.
Sebuah meme bahkan pernah menyebutnya sebagai “pengendali vibe” tim. Rice tertawa saat mendengar hal itu.
“Kami semua masih muda dan penuh energi, jadi semuanya memang nyambung secara alami,” katanya merendah. “Tapi ya, orang-orang memang melihat saya sebagai orang yang menyenangkan.”
Declan Rice Sosok yang Modis
Beberapa hari sebelumnya, sesi pemotretan Vogue digelar di Beaverbrook, hotel pedesaan mewah abad ke-19 di Surrey Hills, tak jauh dari rumahnya.
Rice datang terlambat karena harus menjalani perawatan setelah latihan. Ia tiba menggunakan Mercedes-Benz berlapis kaca hitam. Namun begitu masuk ke ruangan, energinya langsung terasa memenuhi suasana.
Tubuh setinggi 185 sentimeter itu dibalut polo bergaris keluaran Aime Leon Dore, celana denim selutut, dan sneakers putih bersih. Ia menyapa semua kru satu per satu, menjabat tangan, lalu membungkuk mengelus anjing pudel milik fotografer.
Seseorang dari tim kecilnya memutar lagu “Raindance” milik Dave dan Tems, sebelum menggantinya dengan lagu “Vogue” milik Madonna. Rice langsung tertawa di depan kamera.
Meski sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan tracksuit sepak bola, Rice ternyata sangat nyaman berada di tengah dunia mode. Prada, Tom Ford, hingga celana kulit Versace, semuanya dicobanya tanpa ragu.
“Sejak umur 16 atau 17 tahun, ketika saya mulai bisa menghasilkan uang dari sepak bola, saya memang tertarik dengan fashion,” katanya. “Saya bahkan lupa barang pertama yang saya beli. Yang saya ingat, saya dulu menghambur-hamburkan uang untuk pakaian yang saat itu saya pikir keren. Saya tidak tahu kapan harus berhenti.”
Ketertarikannya terhadap mode kini berkembang jauh lebih serius. Ia pernah tampil di runway koleksi Labrum musim semi/panas 2025 di Stadion Emirates dan duduk di barisan depan acara Burberry.
“Hubungan antara sepak bola dan fashion dalam budaya Inggris itu unik,” ujar Direktur Kreatif Burberry, Daniel Lee. “Declan merepresentasikan hubungan itu dengan cara yang sangat modern.”
Sementara pendiri Labrum, Foday Dumbuya, mengatakan Rice memahami gagasan tentang percampuran budaya.
Rice sendiri mengaku pengalaman menjadi model benar-benar membuka matanya. “Persiapannya ternyata banyak sekali,” katanya sambil tersenyum. “Tapi begitu mulai berjalan di runway, rasanya ternyata menyenangkan. Saya sangat menikmatinya.”
Meski semakin sering muncul di dunia fashion dan menjadi duta L'Oréal Paris, Rice tahu semua itu bergantung pada satu hal: performa di lapangan. “Sepak bola tetap yang utama,” katanya tegas.
Tentang Skuad Inggris: Tak Ada Lagi Persaingan Antarklub

Declan Rice saat berkostum Timnas Inggris. Ia bertekad membawa The Three Lions juara Piala Dunia setelah 60 tahun.
Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
Saat ini, fokus terbesar Declan Rice tetap Arsenal yang sedang memburu gelar selanjutnya, Liga Champions. Namun Piala Dunia juga sudah di depan mata. Inggris akan memulai turnamen melawan Kroasia di Arlington, Texas, dan Rice diperkirakan menjadi salah satu pemain utama dalam era baru timnas Inggris di bawah pelatih Thomas Tuchel.
Menurut Rice, kekuatan terbesar skuad Inggris saat ini adalah kedekatan antarpemain. Nama-nama seperti Bukayo Saka, Cole Palmer, dan Phil Foden bukan sekadar rekan setim, tetapi juga teman dekat.
“Anda bisa lihat sendiri di media sosial atau kehidupan nyata, hubungan kami memang dekat,” katanya. “Generasi sebelumnya sering bicara soal bagaimana mereka sulit akrab satu sama lain. Tapi menurut saya, salah satu alasan kami tampil bagus beberapa tahun terakhir adalah karena kami dekat di dalam dan luar lapangan.”
Persaingan antarklub yang dulu terasa panas juga mulai berubah. Rice menyebut Jack Grealish sebagai salah satu sahabat terbaiknya di sepak bola, meski mereka bermain untuk klub berbeda.
“Sepak bola sekarang sudah berbeda,” katanya. “Banyak pemain punya sahabat di klub lawan. Saat bersama Inggris, kami semua menikmati waktu bersama.”
Namun tantangan terbesar menjadi pemain Inggris bukanlah lawan di lapangan. “Yang paling sulit adalah menghadapi semua hal yang datang bersama status pemain Inggris,” katanya datar. Yang dimaksud adalah sorotan media, komentar publik, dan tekanan tanpa henti.
“Ini akan jadi ajang sepak bola paling banyak ditonton dalam empat tahun terakhir. Satu menit Anda dibenci, satu menit kemudian Anda dicintai. Dalam sepak bola semuanya berubah cepat. Jadi Anda harus menanggapinya dengan santai.”
Rice memahami betul bahwa setiap ucapannya bisa dipelintir, terutama ketika hasil tim memburuk. Kekalahan Arsenal beberapa waktu lalu membuat sisi lain dirinya muncul: lebih dingin, lebih keras, lebih penuh determinasi.
Cara menghadapinya sederhana. “Jangan lihat dan jangan pikirkan,” katanya.
“Orang-orang selalu punya sesuatu untuk dikatakan tentang karier saya: apakah saya cukup bagus, apakah saya bisa mencetak gol, apakah saya konsisten, apakah saya siap pindah ke klub besar. Pendapat itu selalu ada. Yang penting hanya pendapat orang-orang terdekat.”
Privasi dan Dukungan Keluarga Declan Rice
Popularitas Rice memang meledak sejak bergabung dengan Arsenal. Ia sadar kini selalu ada mata yang mengawasi. “Bukan berarti saya tidak bisa keluar rumah,” katanya. “Tapi saya memang lebih sering dihentikan orang, jadi harus lebih memilih.”
Sorotan publik itu juga berdampak kepada orang-orang terdekatnya. Rice menyinggung bagaimana pasangannya, Lauren Fryer, menjadi sasaran komentar keji di media sosial.
Baginya, itu menjadi bukti bahwa budaya toksik dan misoginis di sepak bola masih belum sepenuhnya hilang. Karena itu, privasi menjadi sesuatu yang sangat penting.
Lingkaran terdekat Rice sebagian besar adalah teman lama dan keluarga. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakaknya, Connor, tinggal tak jauh dari rumahnya dan ikut mengelola kariernya.
Keluarga Rice juga tetap dekat dengan Dickerage Youth Club, tempat Declan kecil menghabiskan empat sampai lima malam setiap pekan bermain sepak bola.
“Itu salah satu tempat favorit saya,” katanya. Pada 2024, Rice bahkan membantu menyediakan lapangan baru bagi generasi muda di sana. Peran sebagai panutan juga sangat penting baginya.
“Saya rasa anak-anak sekarang melihat pemain seperti saya dan skuad Inggris — bagaimana kami berinteraksi dengan fans dan anak-anak,” ujarnya.
Wajahnya langsung berbinar ketika membicarakan sepupunya, Nancy Jordan, yang bermain untuk London City Lionesses U-14.
“Dia luar biasa,” katanya sambil tersenyum. “Dia benar-benar bagus dan lapar akan sukses. Sejak kecil dia jatuh cinta dengan sepak bola. Masa depannya sangat cerah.”
Begitu pula masa depan Rice sendiri. “Saya masih di awal karier,” katanya. “Masih banyak sekali yang bisa saya capai.”
Dan mungkin, jika semuanya berjalan sempurna musim panas ini, Inggris akhirnya benar-benar bisa membawa pulang trofi Piala Dunia yang sudah mereka tunggu selama 60 tahun.
Satu-satunya hal yang pasti tidak akan dilakukan Declan Rice? Membuat album rap. “Tidak mungkin,” katanya sambil tertawa.