TVRINews - Oslo, Norwegia 

Prioritas Stale Solbakken membuat Norwegia tampil garang, termasuk menyingkirkan Italia. 

Secara meyakinkan, Norwegia lolos ke Piala Dunia setelah sekian lama absen berkat penanganan dan kecerdasan taktik Stale Solbakken. Fokus sang bos bakal membuat Norwegia patut diwaspadai. Norwegia bersiap menjadi kuda hitam di Piala Dunia 2026.

Tanyakan kepada Italia soal bagaimana susahnya menaklukkan Norwegia. Di kualifikasi, kubu empat kali juara dunia itu keok di tangan tim berjulukan Rode, Hvite, Bla (Merah, Putih, dan Biru) ini. Remuknya Italia diawali dari kegagahan skuad Solbakken.

Dalam menukangi tim, Stale Solbakken tentu terbantu pengalamannya sebagai gelandang. Apalagi, ia melewati insiden yang menempatkannya di garis tipis antara hidup dan mati. Secara harfiah.

Karier Stale Solbakken sebagai pemain tampak lancar-lancar saja. Setelah bermain di klub lokal, Grue, Solbakken mengawali karier bermain profesionalnya di Hamarkameratene (HamKam) pada 1989. Setelah menjadi top-scorer klub itu, Solbakken membawa HamKam promosi ke divisi teratas Liga Norwegia setahun kemudian. 

Pada 1994, ia pindah ke Lillestrom. Kiprahnya diwarnai anugerah Gelandang Terbaik Norwegia walau klub itu finis di peringkat keempat pada 1995. Stale Solbakken sempat menjadi kapten Lillstrom sebelum pindah ke Wimbledon dengan transfer 250 ribu poundsterling. 

Solbakken sempat bersitegang dengan pelatih The Dons saat itu, Joe Kinnear, sehingga diskors dan kemudian dilego ke Aalborg pada Maret 1998. Sebagai kapten tim, Solbakken membawa Aalborg meraih gelar Liga Denmark 1989/99. Pria Norwegia ini didaulat sebagai Pemain Terbaik Liga Denmark 2000.

Stale Solbakken pindah ke klub Denmark lainnya, FC Kobenhavn, pada Agustus 2000. Ia segera menjadi pemain reguler, yang berujung pada gelar liga lagi, tapi tak bisa merampungkan musim akibat serangan jantung pada Maret 2001. 

Kala itu, dokter bahkan menilai Solbakken sempat meninggal secara klinis. "Ajaib ia masih hidup. Jantungnya berhenti berdetak," kata Frank Odgaard, dokter tim FCK, seperti dikutip dari The Guardian.

"Sesuatu seperti itu tentu mengubah beberapa hal. Biasanya kita tidak berpikir saat pergi berlatih atau bertanding. Anda hanya berfokus pada saat itu dan ingin menang berapa pun harganya. Saya rasa kejadian itu, saat segalanya mereda, membantu saya memilah antara apa yang sungguh penting dan yang tidak penting dalam hidup saya," tutur Solbakken, yang akhirnya didapati mengalami kelainan jantung sejak lahir.


Masyhur di Kopenhagen

Di dalam dadanya kini terpasang alat pacu jantung. Masa bermainnya selesai, tapi tidak dengan lanjutan karier di dunia sepak bola. Fokus pria asal Kongsvinger ini sedikit bergeser: ke kepelatihan.

Pada 2002, Stale Solbakken kembali ke Norwegia dan memulai perjalanan menangani tim, dimulai dari HamKam. Solbakken membawa klub lamanya itu berpromosi ke divisi teratas Liga Norwegia. "Kebangkitan" setelah serangan jantung dan "penyelamatan" di HamKam yang ia lakukan membawa julukan "Stale Salvatore", "Stale Sang Penyelamat", untuk Solbakken yang populer di kalangan media Norwegia.

Eks gelandang subur itu ditunjuk FC Kobenhavn untuk menjadi juru taktik pada 2005. Di tangan Stale Solbakken, Kobenhavn meraih dua gelar Liga Denmark. Kiprah yang juga mengundang perhatian adalah saat menyingkirkan Ajax di ronde kualifikasi Liga Champion 2006/07 pada 23 Agustus 2006. Kobenhavn finis di posisi buncit di fase grup, tapi bisa mengalahkan Man. United dengan skor 1-0.

Stale Solbakken sempat dikabarkan mendekat ke Timnas Norwegia sehingga menolak perpanjangan kontrak yang habis per Juli 2011. Namun, tidak ada kelanjutan dari kesepakatan awal. 

Koln berhasil membajak Stale Solbakken dengan tebusan yang konon mencapai 400 ribu euro untuk penanganan per musim 2011/12. Hanya, klub itu terseok-seok di Bundesliga, sehingga Solbakken dipecat pada April 2012. Tak lama kemudian, Solbakken digaet Wolverhampton Wanderers yang baru terdegradasi dari Premier League. Akan tetapi, masa mantan gelandang Wimbledon ini di Wolves hanya sampai awal Januari 2013.

Pada Agustus 2013, dua tahun setelah hengkang, Stale Solbakken kembali ke Kobenhavn. Di periode kedua selama tujuh tahun sampai pemecatan pada 10 Oktober 2020, Kobenhavn merasakan tiga gelar Liga Denmark.

Untuk dua masa kepelatihannya di Kobenhavn, dengan total 452 laga liga, Stale Solbakken mendapatkan predikat sebagai "Manajer Terbesar dalam Sejarah Superliga Denmark". Jurinya 38 pandit Superliga Denmark termasuk pelatih Timnas Denmark, Morten Olsen.


Bunglon Taktis

Setelah matang di level klub, Stale Solbakken akhirnya berlabuh di Timnas Norwegia. Pada 3 Desember 2020, ia menerima ikatan selama empat tahun menyusul mundurnya Lars Lagerback. Debutnya berakhir dengan kemenangan 3-0 di kandang Gibraltar di kualifikasi Piala Dunia 2022. Namun, Norwegia gagal lolos. Solbakken mengkritik gelaran di Qatar terkait isu hak asasi dan pemungutan suara penentuan tuan rumah.

Empat tahun berselang, semuanya berubah. Stale Solbakken mampu meloloskan Norwegia ke Piala Dunia 2026. Tak tanggung-tanggung, tim beralias Landslaget (berarti Timnas) ini dua kali mengalahkan empat kali juara dunia, Italia, di Grup I. 

Kebangkitan dengan hasil tempat di turnamen besar pertama sejak Euro 2000 ini segera menempatkan Norwegia sebagai kuda hitam. Si Merah-Putih-Biru di bawah asuhan Stale Solbakken disebut tampil menarik penuh potensi. 

Sky Sports menggambarkan Norwegia secara umum mengedepankan kedisiplinan dan kekompakan tim. Stale Solbakken dinilai berhasil membangun sistem dengan setiap pemain mendapatkan peran kolektif alih-alih hanya mengandalkan kehebatan individual.

Organisasi permainan yang apik segera terlihat dalam bentuk pertahanan daerah begitu kehilangan penguasaan bola. Jangan harap Solbakken akan memakai pemain bintang ofensif, tapi enggan turun bertahan.

Begitu merebut bola dari penguasaan lawan, Norwegia 

sigap meluncurkan serangan balik sangat cepat. Transisi kilat ini terlihat eksplosif di banyak kesempatan, termasuk dengan operan jarak jauh, operan daerah yang cerdik, dan tusukan sayap yang gesit.

Segi yang boleh jadi paling menarik dari penanganan Solbakken adalah fleksibilitas tinggi sebagai efek dari penyesuaian bak bunglon tergantung lawan yang dihadapi. Sang pelatih secara umum memakai pola tradisional 4-4-2. Namun, sosok berusia 58 tahun itu cukup sering mengubahnya menjadi 4-2-2-2 atau 4-5-1 ketika mesti bertahan. 

Tuntutan perubahan adaptif itu sejauh ini menjadi kelebihan Norwegia hingga dapat tampil sebagai kubu yang eksplosif. Akan menarik menanti kiprah Norwegia di Piala Dunia 2026 hasil sentuhan dahsyat Stale Solbakken.


Biodata

Nama: Stake Solbakken

Kelahiran: Kongsvinger, Norwegia, 27 Februari 1968 (58 tahun)


Karier Bermain

  • Hamarkameratene (1989-1994)
  • Lillestrom (1994-1997)
  • Wimbledon (1997-1998)
  • AaB (1998-2000)
  • Kobenhavn (2000-2001)


Karier Timnas

  • Norwegia (1994-2000)


Karier Pelatih

  • Hamarkameratene (2002-2005)
  • Kobenhavn (2006-2011)
  • Koln (2011-2012)
  • Wolverhampton Wanderers (2012-2013)
  • Kobenhavn (2013-2020)
  • Norwegia (2020-sekarang)


Prestasi Pemain

AaB

  • Superliga Denmark 1998/99

Kobenhavn

  • Superliga Denmark 2000/01


Prestasi Pelatih

Kobenhavn

  • Royal League: 2005/06
  • Superliga Denmark: 2005/06, 2006/07, 2008/09, 2009/10, 2010/11, 2015/16, 2016/17, 2018/19
  • Piala Denmark: 2008/09, 2014/15, 2015/16, 2016/17


Penghargaan Individual

  • Gelandang Terbaik Norwegia 1995
  • Pelatih Terbaik Norwegia 2004
  • Pelatih Terbaik Superliga Denmark