Legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Jakarta, Indonesia
Berita di sebuah media Jerman sudah cukup merusak persiapan Timnas Belanda sehari sebelum final Piala Dunia 1974.
Final Piala Dunia 1974 mempertemukan Belanda dan tuan rumah Jerman Barat. Final tersebut berlangsung di Stadion Olympia, Munchen. Pada pertandingan ini, Belanda mencetak gol lebih dulu lewat penalti Johan Neesken di menit ke-2. Namun, Jerman Barat menyamakan kedudukan lewat penalti Paul Brietner di menit ke-25.
Pada akhirnya, Jerman Barat menang 2-1 setelah Gerd Muller mencetak gol di menit ke-43. Setelah turnamen berakhir, Johan Cruyff menyampaikan pesan yang diberitakan sejumlah pers Belanda. "Ketika semuanya berakhir, tentu saja, ada perasaan kecewa yang mendalam. Anda tahu Anda adalah yang terbaik di dunia, tetapi Anda belum memenangkan hadiahnya."
Jerman Barat dipimpin oleh Franz Beckenbauer, seorang sweeper sementara Belanda memiliki bintang mereka Johan Cruyff, playmaker dalam sistem permainan Total Football yang memukau sepanjang kompetisi tahun itu bergulir.
Ketika sepak bola modern saat ini muncul istilah false nine, Johan Cruyff sudah memerankan peran tersebut jauh sebelumnya. Dalam Piala Dunia 1974, Johan Cruyff ada di mana-mana. Dia mundur ke belakang sebagai playmaker, atau muncul ke kotak penalti, bergerak ke sayap. Dia menciptakan lebih banyak peluang.
Meski demikian, di final, Johan Cruyff sulit menemukan ruang karena dia mendapatkan pengawalan dari sejumlah pemain Jerman Barat, termasuk bek Berti Vogts. Hingga kemudian, Johan Cruyff kelelahan secara mental dan fisik yang membuatnya tidak dapat menemukan kembali semangatnya.
Ia menciptakan beberapa peluang ketika kembali ke posisi penyerang di babak kedua, tetapi tidak ada satu pun gol yang tercipta untuk Oranje. Kekalahan Belanda dalam final tersebut kemudian memunculkan cerita lain yaitu tentang skandal di malam sebelum final itu digelar.
Ada keresahan di kubu Belanda ketika berita tentang sebuah cerita di surat kabar Jerman, Bild sampai ke rumah mereka di Belanda. Surat kabar tersebut membuat berita yang judulnya berbunyi "Cruyff, Sampanye, dan Gadis Telanjang".
Berita itu muncul setelah sejumlah pemain Belanda memutuskan untuk mengadakan pesta. Hingga pukul 2 pagi Johan Cruyff dan beberapa lainnya berenang di kolam renang hotel, di mana mereka bergabung dengan sekelompok wanita lokal.
Tetapi tanpa sepengetahuan para pemain Belanda, ada seorang jurnalis yang menyamar dan cerita itu muncul di Bild dengan judul tersebut. Sang kapten sangat marah dan menghabiskan waktu berjam-jam di telepon hotel mencoba menenangkan istrinya.
"Tidak banyak yang terjadi selain hanya sedikit rayuan," kata Auke Kok, seorang penulis Belanda dalam bukunya berjudul Johan Cruyff: Always on the Attack terkait peristiwa tersebut. Namun, pesta kecil itu sudah cukup mengguncang Belanda.
Situasi yang kemudian disebut memengaruhi kondisi fisik dan mentalnya, ini juga yang dialami rekan setimnya yang lain. Johan Cruyff selalu membantah insiden tersebut. Sedangkan pelatih Rinus Michels bersikeras bahwa itu adalah upaya fitnah oleh pers Jerman untuk mengganggu konsentrasi tim Belanda jika mereka bertemu di final.
Empat tahun kemudian, Belanda kembali melangkah ke final namun pada Piala Dunia 1978 itu tanpa kehadiran Johan Cruyff, dan Oranje kembali hanya sebagai runner-up setelah kalah dari Argentina. Dua Piala Dunia, dua kali pula Belanda hanya sebagai nomor dua. Namun, yang pertama menyimpan satu pertanyaan tentang pesta sebelum final Piala Dunia 1974.
Tidak sedikit yang menyatakan bahwa itu adalah bagian dari strategi Jerman Barat untuk merusak persiapan Belanda. Namun, tuduhan tersebut tidak pernah terbukti, termasuk tuduhan kepada Bild yang disebut mengirim reporternya masuk ke hotel tim Belanda menginap.
Peristiwa tersebut semakin menambah tajam rivalitas di antara kedua negara dalam sepak bola. Seringkali ada drama yang terjadi jika kedua tim bertemu. Contohnya pada pertemuan selanjutnya di Piala Eropa 1988 di mana Belanda menang atas Jerman Barat.
Dalam pertandingan semifinal, Jerman Barat unggul melalui Lothar Matthaus, tetapi Belanda membalas melalui penalti Ronald Koeman pada menit ke-74 sebelum Marco van Basten memastikan kemenangan dengan dua menit tersisa. Namun, perayaan tersebut dinilai tidak pantas karena Ronald Koeman berpura-pura menyeka pantatnya dengan kaus Jerman.
Drama juga terjadi antara kedua negara ini di laga Piala Dunia 1990. Dalam laga ini, ada ketegangan antara Rudi Voller dan Frank Rijkaard, yang menyebabkan keduanya diusir keluar lapangan setelah 22 menit. Mereka beberapa kali bentrok sebelum mendapat kartu merah, di mana Frank Rijkaard, pemain Belanda, dua kali meludahi Rudi Voller.