Striker veteran asal Spanyol yang kini memperkuat Como 1907 di Liga Serie A Italia, Alvaro Morata, belum dilupakan oleh pelatih La Roja Luis de la Fuente. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews – Como, Italia
Striker veteran Alvaro Morata menjalani musim yang sangat sulit di Como hingga diragukan bisa ke Piala Dunia 2026. Akan tetapi, pelatih Spanyol Luis de la Fuente tak pernah meragukannya.
Alvaro Morata menjalani musim pertamanya bersama Como 1907 dengan sangat buruk. Paling tidak itu terlihat sampai tengah musim 2025-2026 ini.
Striker veteran Spanyol itu datang ke Stadion Giuseppe Sinigaglia pada pertengahan Agustus 2025 lalu dengan status pinjaman dari AC Milan. Peminjaman ke Como ini juga lanjutan dari peminjaman ke Galatasartay SK sejak awal Februari sampai Agustus 2025.
Milan meminjamkan Morata karena menilai penyerang tengah yang kini berusia 33 tahun itu belum mampu beradaptasi dengan tim sejak didatangkan dari Atletico Madrid pada Juli 2024.
Namun, tampaknya peminjaman ke Como belum memberikan dampak positif yang signifikan buat Morata. Seiring suasana semangat dan antusiasme tinggi khas tim dengan materi pemain muda, dipimpin seorang pelatih dengan ide-ide hebat sekelas Cesc Fabregas, Como mengharapkan sosok penyerang tengah untuk memimpin yang lain dengan segudang pengalamannya.
Belum Mencetak Gol di Serie A Lebih dari Setahun
Como berinvestasi besar-besaran pada Morata pada musim panas lalu, dengan menawarkan sekitar 15 juta euro antara untuk meminjam atau membeli (bahkan berani membantu menutupi 5 juta euro yang dibayarkan I Rossoneri kepada Galatasaray untuk pemutusan peminjaman).
Gagasan Fabregas sejak awal sudah jelas. Morata adalah pemimpin berpengalaman yang dibutuhkan untuk mendampingi kreativitas dan semangat luar biasa dari para gelandang serang yang dimiliki Como, mulai dari Nico Paz dan Martin Baturina, hingga pemain sayap Assane Diao, Jayden Addai, dan Jesus Rodriguez.
Fakta bahwa pemain Spanyol kelahiran 1992 ini belum menjadi mesin pencetak gol bahkan bukan masalah. Fabregas membelanya, menggarisbawahi pentingnya dia atas semua kerja kerasnya dengan dan tanpa bola. Fabregas mengikuti jejak Luis de la Fuente – pelatih Timnas Spanyol – selama beberapa waktu lalu.
Namun, waktu terus berlalu, hari-hari tanpa gol semakin menumpuk, begitu pula dengan performa yang kurang memuaskan. Masalah otot yang diderita Morata pada bulan Desember, yang membuatnya absen hingga akhir Januari, juga tidak membantu.
Setelah kembali beraksi, melawan ACF Fiorentina di babak 16 besar Coppa Italia pada 27 Januari lalu, Morata mencetak gol pertamanya musim ini dalam kemenangan 3-1 timnya di Stadion Artemio Franchi. Gol yang tampak tidak signifikan itu memang sangat berharga dalam upaya meningkatkan moral sang striker.
Fakta lain yang langsung menarik perhatian adalah Morata belum mencetak gol di Serie A selama lebih dari setahun. Memang benar ia menghabiskan setengah musim lalu (2024-2025) di Turki. Akan tetapi, untuk menemukan gol dari pemain Spanyol itu di liga utama Italia, Anda harus kembali ke pertandingan Milan versus Cagliari Calcio pada 11 Januari 2025, ketika ia mencetak gol dengan tap-in dalam hasil imbang 1-1 di San Siro.
Jumlah golnya di Serie A musim ini tetap tidak berubah. Bersama Como dalam 15 penampilan, Morata belum lagi mencetak gol kendati sudah membuat dua assist.
Problem Karakter
Selain kesulitan dalam mencetak skor, Morata ada juga dihadapkan pada problem lain yang berkaitan dengan karakter. Kartu merah di Sinigaglia saat dibekap Fiorentina 1-2 di Serie A (yang akan membuatnya absen dalam pertandingan berikutnya melawan Milan) adalah episode terbaru yang mengungkapkan kerapuhan tertentu dari sudut pandang karakter emosional.
Berawal dari Morata yang berduel dengan bek La Viola, Marin Pongracic, dan lantas berhadapan langsung dengan gelandang bertahan Rolando Mandragora. Insiden dengan Mandragora membuat Morata dan lawannya itu masing-masing mendapatkan kartu kuning.
Namun, dalam dalam satu menit kartu kuning Morata berubah menjadi kartu merah setelah ia, dengan posisi bola yang sudah jauh, justru memukul Pongracic. Morata kemudian meminta maaf kepada semua orang, sesama penggemar dan lawan, melalui saluran resmi Como.
Akan tetapi, permintaan maaf ini tidak cukup untuk meredakan amarah Fabregas. Ia tampaknya telah kehilangan kesabaran karena buruknya karakter Morata sehingga menutupi potensi dan kemampuannya.
Ini bukan kali pertama Morata kehilangan kesabarannya. Sebelumnya, ia pernah meminta diganti saat pertandingan Como melawan Cagliari Calcio, dengan alasan ingin berduel dengan Yerry Mina, bek tengah klub tersebut.
Kali ini, Fabregas, segera setelah pertandingan, tidak berbasa-basi meskipun Morata pernah satu lapangan dengannya di timnas Spanyol dan Chelsea FC. “Provokasi adalah bagian dari sepak bola. Mereka yang tidak bisa mengatasi provokasi lebih baik berada di profesi lain,” katanya dengan keras.
“Kami memainkan permainan kami sendiri, orang lain bisa memainkan permainan mereka sendiri. Kami tahu itu. Saya mengharapkan lebih banyak darinya, saya tidak suka alasan-alasan ini.”
De la Fuente Bukan Tak Mungkin Memanggil Morata untuk Piala Dunia 2026
Penggemar Como boleh saja kecewa sekaligus geram terhadap performa Morata. Hal yang sama dialami Fabregas. Kendati begitu, masih ada beberapa orang yang tak pernah kehilangan keyakinan terhadap Morata. Salah satunya tentu saja Luis de la Fuente.
Pelatih timnas Spanyol itu tentu masih ingat peran Morata saat La Roja mengangkat trofi Piala Eropa pada 2024. Saat itu, Morata tidak hanya menjadi kapten namun juga striker starter di laga final kala melibas Inggris, 2-1.
Kini, De la Fuente nampaknya takkan membiarkan Morata melewatkan begitu saja Piala Dunia 2026. Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko akan dimulai pada 11 Juni mendatang.
“Kami sangat menyukai Morata. Dari dulu sampai sekarang dan nanti, ia akan tetap menjadi pilar krusial buat kami. Saya berharap ia dalam kondisi sempurna pada Maret nanti,” ujar De la Fuente usai acara pengundian grup UEFA Nations League, belum lama ini.
Finalissima 2026 akan mempertemukan juara Euro 2024, Spanyol, melawan kampiun Copa America 2024, Argentina, pada 27 Maret nanti di Stadion Lusail, Qatar, serta pertandingan persahabatan melawan Mesir pada 30 Maret, diyakini menjadi dua tes yang sesungguhnya bagi La Roja untuk menepis semua keraguan soal kesiapan mereka ke Piala Dunia nanti.
Spanyol sendiri saat ini bermasalah dengan banyaknya andalan mencetak gol yang cedera, salah satunya Mikel Merino. Praktis, untuk urusan gol kini La Roja bertumpu pada Mikel Oyarzabal dan Ferran Torres.
Sepanjang musim 2025-2026, Oyarzabal sudah mencetak 10 gol di La Liga bersama klubnya, Real Sociedad. Ia juga mampu mencetak 9 gol untuk timnas Spanyol sejak 2025 lalu. Dalam periode yang sama, Torres berhasil mencetak 12 gol di La Liga untuk FC Barcelona sedangkan untuk La Roja ia baru mengemas 2 gol karena seringnya cedera.
Dengan pengalamannya sebagai striker untuk timnas Spanyol – 87 kali bermain dengan 37 gol sejak November 2014 – dan tak jarang mampu menjadi pembeda bila dimainkan – rasanya tidak salah jika De la Fuente mempertimbangkan Morata untuk kembali berseragam La Roja. Dengan catatan, ia mampu mengubah musim ini menjadi lebih produktif.