TVRINews - Jakarta, Indonesia

Ada kabar menarik di 50 hari jelang Piala Dunia 2026 akan bergulir. Pertama adalah pernyataan Gianluigi Buffon tentang kegagalan Italia ke Piala Dunia tahun ini. Yang kedua adalah kabar bahwa seorang utusan Donald Trump mengakui bahwa dia mengajukan ide kepada FIFA agar Italia menggantikan tempat Timnas Iran di turnamen ini.

Pada saat yang hampir bersamaan pula, kabar tentang Timnas Iran yang mempersiapkan diri untuk bermain di ajang terbesar sepak bola dunia ini. Tiga kabar yang berbeda, tetapi ada keterkaitan yang sangat erat satu dengan yang lainnya.

Gianluigi Buffon berbicara tentang semangatnya untuk membangun kembali sepak bola Italia. Salah satu poinnya, tentang Italia yang sangat merindukan lahirnya pemain-pemain seperti Alessandro Del Piero, Francesco Totti, atau bahkan dari generasi sebelumnya yaitu Roberto Baggio.

Keinginan Gianluigi Buffon adalah keinginan semua yang menyukai Timnas Italia di dunia ini. Akhirnya, ada satu tokoh sepak bola Italia yang memperlihatkan benang merah mengapa Italia bisa sampai gagal ke Piala Dunia tiga kali secara berturut-turut.

Mantan kiper Timnas Italia itu mengakui bahwa Italia memiliki pemain fantastis, tapi tidak ada pemain kreatif. Del Piero, Totti, dan Baggio adalah pemain kreatif sehingga membuat mereka menjadi fantastis. Pemain bisa saja disebut fantastis namun belum tentu kreatif.

Italia harus menjalani proses sehingga mereka bisa memiliki kembali pemain kreatif tersebut. Itulah inti dari pemikiran Gianluigi Buffon. Pria yang sebelumnya menjabat sebagai delegasi Timnas Italia ini percaya, proses tidak akan mengkhianati hasil. Proses alamiah yang harus diikuti Italia. Waktu tentu akan menyembuhkan kekecewaan fans Italia.

Italia memang masih menarik. Dari dinamika yang terus terjadi hingga saat ini, muncul ide Italia bisa tampil di Piala Dunia 2026 yaitu dengan menggantikan tempat Timnas Iran. Spekulasi bermunculan, misalnya tentang kemungkinan laga play-off yang melibatkan Italia menghadapi sejumlah tim yang juga gagal ke Piala Dunia tahun ini.

Hingga kemudian Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan bahwa Iran akan tetap bermain di Piala Dunia 2026. Tidak ada pilihan kecuali Timnas Iran datang ke Amerika Serikat dan tampil di Piala Dunia 2026. Dengan demikian, kecuali Iran yang tetap tampil di Piala Dunia 2026, kemungkinan lainnya tidak akan terjadi.

Itu tentu juga sebagai jawaban dari permintaan utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang bernama Paolo Zampolli, tentang Italia yang menggantikan Iran. Paolo Zampolli adalah seorang politikus asal Italia. Sebagai politikus, wajar jika pemikirannya praktis.

Pada titik ini, sebagai penonton yang hanya akan menjadi penonton dari layar kaca malah kembali bertanya-tanya, apakah memang masih ada kemungkinan itu terjadi? Jawabannya ya dan tidak. Secara resmi (ofisial), FIFA dapat melakukan itu karena ada peraturan resmi yaitu Pasal 6.7 tentang peraturan Piala Dunia 2026 yang memungkinkan FIFA untuk sepenuhnya mengontrol pemilihan tim pengganti jika terjadi penarikan atau exculsion (pengecualian).

Tapi, tentu tidak semudah itu. Jika memang Iran yang telah lolos ke Piala Dunia 2026 lewat jalur kualifikasi tidak dapat berpartisipasi, FIFA idealnya akan menggantikan mereka dengan tim dari Asia.

Memilih tim dari Asia akan menjaga keseimbangan kuota dari benua yang tentu sudah dibuat dengan cermat. Dengan demikian, saya tidak melihat kemungkinan FIFA akan memilih Italia daripada tim Asia. Laws of the Game menjamin permainan yang adil (fair play), konsisten, dan aman tentu juga berlaku sebelum bola bisa bergulir di lapangan.

Lagi pula, apakah Italia berani dan bersedia mengambil kesempatan tersebut. Kalau pun berandai-andai, akan dilakukan play-off antar tim termasuk Italia misalnya, bagaimana jika Italia kembali gagal dalam play-off? Berapa banyak kekecewaan dan kesedihan yang harus ditanggung oleh fans mereka di dunia?

Jadi, kemungkinan itu terlalu rumit untuk diwujudkan. Namun, kembali ke pertanyaan awal, apakah mungkin terjadi? Jawabannya ya dan tidak. Masih ada 49 hari lagi menuju Piala Dunia 2026. Sebagai penonton yang mencintai dan menyukai Piala Dunia, tentu kita akan mengikuti keputusan FIFA karena bola tetap harus bergulir pada 11 Juni 2026 nanti.

Dari sudut pandang olahraga, Gianluigi Buffon telah memberikan pesan bagaimana cara Italia untuk kembali bangkit dari keterpurukan. Ini cara yang sangat sulit, membutuhkaan sistem yang kuat dan proses yang panjang. Tapi, ini cara yang paling benar. Piala Dunia 2030 tidak akan lama lagi, waktu begitu luas bagi Gli Azzurri menciptakan Del Piero baru, Roberto Baggio baru, dan Francesco Totti yang baru.

Sedangkan dari sudut pandang politis, kehadiran Iran di Piala Dunia 2026 menurut saya justru akan memberikan keuntungan strategis bagi Amerika Serikat. Jika Amerika Serikat mampu menjamin keamananan Iran, tetap bermain seperti biasa di Piala Dunia 2026, ini akan memberikan citra bagus bagi Donald Trump yang sebelumnya sudah mendapatkan FIFA Peace Prize pada awal Desember 2025 lalu.

Iran akan tetap bermain karena ini akan menunjukkan bahwa Amerika Serikat mampu memberikan keamanan, bersikap fair play. Karena olahraga, dalam hal ini sepak bola dan Piala Dunia, adalah milik dunia. Bahwa nanti Timnas Iran akan berada di Amerika Serikat, itu menjadi hal yang luar biasa. Amerika Serikat akan mendapat banyak pujian dari dunia. Itulah akhirnya.