Ilustrasi Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Massachusetts, Amerika Serikat
Hasil unik dari laga-laga tak terduga bisa membantu menggalang dana amal melalui media sosial bagi negara yang bersangkutan nantinya.
Di saat jutaan pasang mata terpaku pada kelihaian gocekan bola para bintang lapangan di Piala Dunia 2026, William Peracchio justru memilih menatap sudut lain yang tak biasa. Pria yang sehari-hari berkutat dengan rumitnya dunia teknologi di Massachusetts Institute of Technology (MIT) ini menghabiskan waktu laganya dengan memelototi susunan angka di papan skor digital.
Peracchio sejatinya bukan tipe pria yang akan berteriak histeris di depan televisi demi membela sebuah tim nasional. Di tengah tumpukan tugas kuliah masternya di Harvard dan Stamford, ia hanya rutin menyempatkan diri menonton sepak bola setiap empat tahun sekali demi memuaskan rasa penasarannya.
Rasa penasaran tersebut bermuara pada sebuah fenomena unik dalam dunia statistik olahraga yang dikenal dengan istilah Scorigami. Istilah yang memadukan dunia olahraga dengan seni melipat kertas Jepang tersebut pertama kali dipopulerkan oleh jurnalis Jon Bois pada 2014 silam.
Daya tarik magis dari pengamatan ini yang mendorong Peracchio merancang sebuah proyek pribadi berbasis analisis data yang dilabeli dengan nama World Cupigami. Lewat kecintaannya pada angka, ia berhasil mengubah tumpukan hasil pertandingan sepak bola yang kaku dari tahun ke tahun menjadi sebuah bagan penuh warna yang dinamis.
"Ini adalah proyek kecil yang menyenangkan. Ada beberapa kumpulan data gratis di internet... Saya hanya berpikir, ini akan menyenangkan, dan jika kita kebetulan mendapatkan pertandingan sengit yang berakhir 5-4? Itu akan jauh lebih baik," kata Peracchio saat menceritakan awal mula keisengannya mengolah data di jagat maya dikutip dari ESPN.
Peluang emas untuk menyaksikan lahirnya sejarah baru tersebut kini terbuka lebar setelah FIFA memutuskan untuk menambah kuota kontestan Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim. Kehadiran negara-negara debutan dengan peta kekuatan yang masih misterius dinilai akan memperbesar lahirnya skor-skor raksasa yang belum pernah ada di buku sejarah.
Aroma sejarah baru itu bahkan hampir tercium oleh publik dunia dalam kurun waktu empat hari sejak turnamen akbar di Amerika Serikat ini resmi bergulir. Keberhasilan Jerman menumbangkan sang debutan Curacao dengan skor mencolok 7-1 menjadi pemicu utama di balik berdebar kencangnya jantung para pencinta data.
Secara historis, 7-1 sejatinya bukan hal baru karena sudah pernah tercipta tiga kali di panggung global, termasuk saat Brasil dihancurkan Jerman pada edisi 2014. Namun, ketika papan skor berkedip menampilkan gol ketujuh dari kaki Kai Havertz pada menit ke-88, dunia mendadak menahan napas demi menantikan lahirnya angka delapan.
"Scorigami adalah kata yang baru saja saya temukan, dan ini merujuk pada tindakan, serta seni, dalam menciptakan skor akhir dalam pertandingan sepak bola yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Jon Bois dalam artikel terkenalnya.
Hingga peluit panjang ditiupkan oleh pengadil lapangan, gol penentu untuk menciptakan kedudukan unik 8-1 tersebut tidak pernah datang menghampiri. Kendati demikian, sisa laga Piala Dunia 2026 yang masih panjang di fase grup diyakini masih menyimpan banyak kejutan tersembunyi lewat potensi skor tak biasa seperti 10-0 atau 9-1.
Kelangkaan ini yang pada akhirnya membuat sepotong angka di ujung laga Piala Dunia terasa jauh lebih sakral dan magis jika dibandingkan dengan kompetisi domestik lain. Sebagai gambaran, jika liga basket NBA bisa melahirkan skor baru 145-126 dalam satu malam, sepak bola global justru sempat puasa skor unik 40 tahun lamanya.
Kebuntuan panjang tersebut baru pecah kembali ketika tim nasional Inggris sukses menumbangkan perlawanan Iran dengan hasil akhir 6-2 pada turnamen edisi 2022. Sebelum momentum itu terjadi, publik harus memutar memori hingga tahun 1982 untuk melihat kemenangan telak Hungaria atas El Salvador dengan skor akhir 10-1.
Di sisi lain, mayoritas laga Piala Dunia yang penuh tekanan memang cenderung melahirkan drama yang sangat ketat dan penuh dengan kewaspadaan taktik. Kenyataan tersebut tecermin dari dominasi angka 1-0 yang telah tercipta sebanyak 183 kali sepanjang sejarah, diikuti oleh skor 2-1 dan 2-0 di urutan berikutnya.
Bagi penonton awam, urusan melacak digit angka di akhir laga mungkin terdengar seperti pekerjaan kurang kerjaan yang tidak memiliki pengaruh apa pun bagi tim. Namun, bagi komunitas penikmatnya, selembar kertas Scorigami baru adalah sebuah alasan indah untuk merayakan kemanusiaan lewat penggalangan dana sosial secara daring.
"Jika memang terjadi scorigami yang gila, saya mungkin akan mencoba mencari badan amal di negara mana pun tempat hal itu terjadi hanya untuk mencoba membagikannya kembali di media sosial. Jika tidak ada hal lain, saya pikir ini mudah-mudahan bisa menjadi sedikit hiburan yang menyenangkan," ungkap Peracchio dengan penuh harap.
Pergeseran tren ini membuktikan statistik tidak selamanya kaku dan hanya menjadi konsumsi para pelatih di ruang ganti. Melalui pendekatan visual yang segar, lembaran angka tersebut menjelma menjadi bahasa universal yang menyatukan para penggemar matematika dan pencinta olahraga di seluruh dunia.
Kehadiran teknologi kecerdasan buatan dan basis data terbuka di internet diakui Peracchio sangat membantunya dalam memetakan ratusan pertandingan lawas. Tanpa adanya dokumentasi digital yang rapi, mustahil bagi seorang peneliti muda untuk bisa menemukan pola-pola tersembunyi di balik sejarah panjang sepak bola.
Sensasi menantikan hasil akhir yang tidak biasa ini juga diakui memberikan warna tersendiri di tengah dominasi taktik pragmatis yang kerap membosankan penonton. Setiap kali sebuah tim besar mulai mencetak gol tanpa henti, ada gairah berbeda yang dirasakan oleh komunitas pemburu Scorigami di balik layar komputer mereka.
Pada akhirnya, proyek World Cupigami ini bukan sekadar tentang menang atau kalahnya sebuah tim nasional di atas lapangan hijau. Ini adalah tentang bagaimana sebuah angka acak bisa mengabadikan momen magis yang akan terus dikenang oleh generasi mendatang dalam buku rekor dunia.
Sambil terus memperbarui bagan digitalnya setiap malam, Peracchio bersiap menyambut setiap kejutan yang mungkin dihadirkan oleh sisa laga Piala Dunia kali ini. Layar televisinya akan tetap menyala, bukan untuk melihat siapa yang mengangkat trofi, melainkan untuk menyaksikan kombinasi angka unik yang belum pernah dilahirkan oleh sejarah.