TVRINews – New York, Amerika Serikat

Didier Deschamps memberi pujian kepada Kylian Mbappe yang menyumbang dua gol saat mengalahkan Senegal di Piala Dunia 2026.

Pelatih Prancis, Didier Deschamps membela Kylian Mbappe dari serangan kritik. Dua gol yang ia cetak saat  mengalahkan Senegal dengan skor 3-1 dalam laga Grup I Piala Dunia 2026 di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat pada Rabu (17/6/2026) dini hari WIB dinilai sebagai bukti nyata kontribusinya kepada tim.

Dengan tambahan dua gol, Mbappe mengukir sejumlah rekor. Kini, ia memimpin daftar pemain tersubur sepanjang masa Prancis dengan 58 gol dari 99 penampilan. Ia juga menjadi pemain ketiga dalam sejarah Prancis yang mampu mencetak gol di tiga edisi Piala Dunia berbeda.

Rekor yang diukir penyerang Real Madrid tersebut masih berlanjut. Ia menjadi pemain Prancis dengan jumlah gol terbanyak di Piala Dunia. Mbappe unggul satu dari Just Fontaine yang mencetak 13 gol di Piala Dunia 1958.

Meski tampil sebagai penentu kemenangan sekaligus mengukir sejarah, Mbappe dinilai masih akan menjadi sasaran kritik. Namun, Deschamps menegaskan bahwa kontribusi pemain berusia 27 tahun itu jauh lebih besar daripada sekadar statistik di lapangan.

“Orang-orang tetap akan mengkritiknya, tetapi dia adalah pemain yang ikonik,” kata Deschamps usai pertandingan, dikutip dari From The Spot.

Menurutnya, Mbappe memiliki kemampuan untuk mengubah jalannya pertandingan dan membawa tim meraih kemenangan pada momen-momen krusial. Ia juga menepis anggapan bahwa sang pemain kurang berkontribusi dalam membantu pertahanan.

“Orang-orang mengatakan dia tidak bertahan, tetapi dia memang tidak berada di sini untuk bertahan. Dia melakukan banyak hal untuk tim. Dari luar mungkin terlihat egois, tetapi itu hanya pendapat orang,” ujar Deschamps.

Secara keseluruhan, performa Prancis pada babak pertama belum memuaskan. Mereka tidak bisa keluar dari tekanan yang diberikan Senegal. Mbappe yang bertugas sebagai ujung tombak tak banyak melakukan sentuhan terhadap bola.

Namun, begitu selesai turun minum, permainan Prancis berubah drastis. Mereka berhasil menemukan ritme permainan terbaik, kemudian memecahkan kebuntuan. Sang juru taktik mengaku menyampaikan pesan tegas kepada anak asuhnya di ruang ganti.

“Saya menyampaikan apa yang ada di pikiran saya kepada para pemain, dan mereka harus melakukan pekerjaan mereka di lapangan,” katanya.