Mantan gelandang Timnas Italia yang bermain bermain di Liga Spanyol bersama Barcelona, Demetrio Albertini. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Milan, Italia
Demetrio Albertini berharap FIGC memiliki rencana untuk membangun sepak bola Italia dari akar rumput atau pemain muda.
Mantan gelandang Timnas Italia, Demetrio Albertini, mempertanyakan apakah filosofi atau DNA sepak bola Pep Guardiola cocok untuk Timnas Italia. Pria yang kini berusia 54 tahun tersebut ragu terkait rencana Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dalam membangkitkan kembali Gli Azzurri yang kini tengah terpuruk, ditandai dengan tiga kali beruntun absen di Piala Dunia.
"Tentang Pep Guardiola, apa yang bisa kita katakan. Kita berbicara tentang salah satu yang terhebat, tanpa diragukan lagi. Namun, dia harus yakin untuk bisa bekerja di sini. Dia harus memahami apakah filosofinya cocok. Kita lihat saja. Italia, DNA-nya, berbeda dari Spanyol dalam cara menafsirkan sepak bola," kata Demetrio Albertini, seperti yang disampaikan pers Spanyol, As, Rabu (23/7/2026) ini. "Saya pikir, di Italia, saat ini, tidak dirancang seperti itu. Di Spanyol, dengan gaya uniknya, memang demikian. Anda tidak bisa mengubah DNA-nya."
Belakangan ini, Italia memang tengah berupaya untuk menjadikan Pep Guardiola sebagai pelatih Timnas Italia. Mendapatkan pelatih baru salah satu misi yang saat ini tengah dilakukan dua tokoh penting di FIGC yaitu Paolo Maldini dan Leonardo. Paolo Maldini sebagai Direktur Teknik dan Presiden Klub Italia sedangkan Leonardo sebagai penasihat khusus.
Baru-baru ini, keduanya bertemu dengan Pep Guardiola dan membicarakan kemungkinan pelatih asal Spanyol tersebut menangani Italia. Langkah ini sendiri belum final karena FIGC masih membuka kemungkinan terhadap pilihan lainnya seperti Antonio Conte, Andrea Pirlo, hingga Roberto Mancini.
Ada sejumlah hambatan setelah pertemuan dengan mantan pelatih Manchester City tersebut. Pertama, menurut pers Italia yaitu La Gazzetta dello Sport, sejumlah angka muncul ke permukaan. Disebutkan bahwa masalah uang sudah menjadi isu awal. Pep dikabarkan meminta gaji 20 juta euro sementara FIGC hanya menawarkan 10 juta euro.
Selain soal uang, keraguan Pep tampaknya bahwa dia belum sepenuhnya ingin meninggalkan cutinya dulu yang setahun. Dia ingin lebih dekat dengan keluarganya. Terkait hal ini, Demetrio Albertini menilai Italia memang harus meniru Spanyol yang saat ini sukses meraih gelar Piala Dunia 2026. Meski demikian, yang juga harus ditiru oleh Italia adalah bagaimana Spanyol mampu menjadi tim yang sangat bagus seperti saat ini.
Demetrio Albertini kemudian membahas tentang nama-nama calon pelatih tersebut. Menurutnya, kecuali Andrea Pirlo, tiga pelatih lainnya memiliki level yang sudah jauh berbeda. "Sisanya (Pep Guardiola, Antonio Conte, dan Roberto Mancini) mewakili empat model manajemen yang berbeda. Semuanya sukses. Mereka adalah empat pelatih hebat. Luar biasa. Empat jalan menuju kemenangan jika kita memikirkan masing-masing dari mereka," kata Demetrio Albertini lagi, yang memperkuat Italia sejak 1991 hingga 2002, tampil dalam 79 laga mencetak 3 gol.
Meski demikian, seorang mantan pemain Timnas Italia yaitu Filippo Galli, mengatakan beberapa hal menarik dalam tulisannya. "Italia belum siap untuk seseorang seperti Pep Guardiola.” “Pep? Saya tidak akan memulai dari puncak, tetapi dari tingkat akar rumput.”
"Saya mengerti. Itu tentang pengembangan dan apresiasi pemain muda Italia. Tahukah Anda berapa banyak juara Piala Dunia Spanyol yang bermain di awal kariernya dari tim cadangan? Saya rasa 22 dari 26. Jika kita kembali ke tahun 2010, jumlahnya lebih dari dua puluh juga. Singkatnya, 90%," kata Demetrio Albertini, tentang bagaimana Spanyol kini memiliki pemain bintang yang sebelumnya berkembang dari sepak bola usia muda.
"Rodri, misalnya, tahukah Anda berapa banyak pertandingan yang dia mainkan untuk tim cadangan (Villarreal B)? Lebih dari empat puluh. Itu hampir dua gelar liga. Kini, kita bicara tentang kapten, pemenang Ballon d’Or… Itu adalah proses pengembangan," kata Demetrio Albertini yang pernah bermain di Barcelona (Spanyol) pada 2005. .
Situasi itulah yang kini tidak dimiliki di Timnas Italia. "Ya. Dulu kami memilikinya. Saat ini, sangat sedikit pemain sepak bola Italia yang datang ke tim utama siap bersaing di Seri A. Sangat sedikit. Bahkan lebih sedikit klub yang berani mengambil risiko pada talenta lokal. Dengan begitu, mereka tidak akan pernah bisa berkembang atau mencapai level yang lebih tinggi," kata Demetrio Albertini lagi.
"Potensi mereka (pemain muda) terhambat. Di Spanyol, talenta berusia 17 tahun memiliki kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya. Mereka langsung diberi debut di tim utama. Mereka diberi kesempatan. Satu demi satu. Ketika saya berada di Barcelona, saya ingat Andres Iniesta, yang saat itu berusia 18 atau 19 tahun. Orang-orang telah membicarakannya selama tiga tahun. Mereka memberinya waktu untuk menjadi Iniesta yang kita kenal."
Kini, fenomena positif itu dapat dilihat dari sosok Lamine Yamal dan Pau Cubarsi. "Anda tahu bahwa Barcelona di masa lalu memiliki pemain asing seperti Ronaldinho, Deco, Giuly, Samuel Eto'o. Tapi, mereka tidak selalu mendapat tempat, tetapi dia berada di tim utama sejak usia sangat muda. Saat ini, di negara saya (Italia), tidak ada pemain berusia 17 atau 18 tahun di Seri A. Bahkan di bangku cadangan pun tidak ada."
Karena itu, untuk kasus Italia yang tepat adalah membangun sepak bola dari bawah dari usia muda yang dimiliki negeri ini. Menjadikan Pep Guardiola sebagai pelatih pilihan yang instan, rencana yang mahal tapi belum tentu mengatasi persoalan yang ada di Italia.
Demetrio Albertini memberikan pujian kepada Timnas Spanyol yang telah meraih gelar Piala Dunia 2026. "Saya sangat menyukainya. Tim muda yang pantas menang. Mereka tidak hanya mengalahkan Argentina, tetapi juga Prancis. Ya, Prancis nyaris memenangkan Piala hampir tanpa usaha (cara yang mudah). Prancis banyak talenta, tetapi yang terpenting adalah organisasi sepak bola yang hebat. Itulah kuncinya."