Timnas Brasil keluar sebagai juara Piala Dunia 1994 Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Jakarta
Gelar juara Piala Dunia 1994 yang diraih Timnas Brasil terasa kurang sempurna bagi para penggemarnya. Strategi yang diusung Carlos Alberto Parreira dinilai tidak menunjukkan identitas permainan Tim Samba sesungguhnya.
Para penggemar tak melihat ada yang istimewa dari performa Timnas Brasil di Piala Dunia 1994. Formasi 4-4-2 racikan Carlos Alberto Parreira membuat tim besutannya cenderung bermain defensif dan kaku. Identitas permainan indah yang menakutkan bagi lawan diubah drastis
Meski berhasil memutus catatan 24 tahun tanpa gelar juara Piala Dunia, tapi Dunga dan kawan-kawan dinilai tidak pantas ditempatkan di level yang sama dengan tim Brasil yang juara di Piala Dunia 1958, 1962, dan 1970. Di tiga era itu, permainan Tim Samba menggemparkan dunia hingga mendapat julukan sebagai raja sepak bola.
Parreira mengambil jalan ini bukannya tanpa alasan. Identitas Futebolarte yang diusung generasi Zico dan Socrates pada era 1980-an terbukti tak mampu menghadirkan gelar juara Piala Dunia untuk Brasil. Sementara, publik sudah tak sabar melihat tim kebanggaan menjuarai turnamen sepak bola paling bergengsi ini untuk keempat kalinya.
Ditunjuk menjadi pelatih Brasil tiga tahun sebelum Piala Dunia 1994 digelar, Parreira sudah menuai banyak kritik. Rekam jejak kepelatihan sebelumnya tak meyakinkan bahwa ia mampu membawa kesuksesan. Meski begitu, pria yang pernah menukangi Gana dan Kuwait itu tetap teguh pada pendiriannya, yakni kemenangan lebih penting dari keindahan.
"Kami telah melalui banyak hal. Memang ada orang yang memprotes, mengatakan bahwa yang kami tunjukkan bukanlah sepak bola Brasil sebenarnya. Tapi, kami tahu apa yang kami lakukan. Kami sedang membangun tim yang solid dan kompetitif, bukan untuk menghibur, tetapi untuk memenangkan Piala Dunia," kata Mario Zagallo, asisten pelatih Timnas Brasil di Piala Dunia 1994, dikutip dari FourFourTwo.
Strategi pragmatis yang diusung Parreira di Piala Dunia 1994 lahir dari kebiasaannya membaca surat kabar dan majalah sepak bola asing. Dari sana ia memahami bagaimana tim-tim Eropa meracik strategi berdasar kedisiplinan dan organisasi taktis. Gagasan pertahanan terbaik adalah menyerang tak berlaku baginya.
Susah Payah di Kualifikasi
Pemilihan pemain yang dilakukan Carlos Alberto Parreira untuk Kualifikasi Piala Dunia 1994 mengecewakan publik karena menyertakan Dunga di dalamnya. Pada saat itu, pemain yang kemudian menjadi kapten tim dianggap sebagai cerminan buruknya sepak bola Brasil. Kenangan kalah dari Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 1990 muncul kembali.
Apa yang dikhawatirkan penggemar benar-benar terjadi. Laga tandang pertama ke markas Ekuador berakhir dengan hasil imbang tanpa gol. Satu pekan berselang, mereka pulang membawa kekalahan 0-2 dari markas Bolivia. Pers mengecam habis-habisan strategi yang diusung oleh Parreira.
Dalam situasi tertekan, Parreira mampu membawa anak asuhnya merebut kemenangan perdana atas Venezuela dengan skor 5-1. Meski begitu, permainan yang ditunjukkan Tim Samba masih belum meyakinkan. Mereka dinilai terlalu kaku, layaknya tim Eropa.
Parreira dan anak asuhnya kembali menuai kritik setelah pada pertandingan keempat kualifikasi hanya mampu bermain imbang 1-1 di markas Urugai. Keadaan itu membuat peluang Tim Samba untuk lolos ke Piala Dunia 1994 menipis. Beruntung di empat pertandingan kualifikasi berikutnya, Brasil bertindak sebagai tuan rumah.
Para penggemar yang banyak mencibir performa Brasil tetap datang memenuhi tribun stadion tempat Brasil menjamu lawan-lawannya. Bolivia menjadi tamu pertama, dan dipaksa menyerah dengan skor 2-0. Sepekan kemudian, giliran Bolivia yang mereka gilas enam gol tanpa balas.
Brasil memanaskan persaingan perebutan dua besar klasemen Grup B Kualifikasi Piala Dunia 1994 Zona Conmebol setelah menang 4-0 atas Venezuela. Mereka berada di tempat ketiga dengan sembilan poin, menguntit Bolivia dan Uruguai yang memiliki 10 poin.
Dalam situasi itu, Parreira harus berkompromi dengan pendiriannya setahun sebelum, yang menghukum Romario karena melakukan protes berlebihan usai menjadi cadangan dalam laga uji coba melawan Jerman. Namun, untuk mendapat tiket ke Piala Dunia 1994, mereka harus mengalahkan Urugai, dan kehadiran penyerang bertubuh mungil itu diperlukan.
Keputusan Parreira untuk berkompromi dengan pendiriannya membuahkan hasil positif. Romario yang kembali ke skuad Brasil setelah absen sembilan bulan menjadi bintang kemenangan. Dua golnya ke gawang Urugai memastikan Tim Samba mendapat satu tempat di Piala Dunia 1994.
Duet Romario dan Bebeto
Romario dan Bebeto menjadi duet ikonik Brasil di Piala Dunia 1994. Kehadiran mereka di lini depan tim asuhan Carlos Alberto Parreira menjadi kunci sukses merebut gelar juara. Dengan kualitas individu kedua pemain, Brasil yang cenderung bermain defensif tak kekurangan taji saat melancarkan serangan balik.
Romario tak berhenti menyumbang gol dalam tiga pertandingan Brasil di fase grup. Masing-masing satu gol dicetaknya ke gawang Rusia, Kamerun, dan Swedia. Memasuki babak 16 besar, giliran Bebeto yang menjadi pahlawan berkat gol semata wayangnya ke gawang Amerika Serikat. Itu menjadi sumbangan kedua untuk Brasil, karena sebelumnya ia turut mencetak gol ke gawang Kamerun.
Brasil menghadapi Belanda di perempat final. Romario membuka keunggulan saat laga memasuki menit ke-53. Berselang 10 menit kemudian, Bebeto menambah keunggulan Tim Samba. Belanda tak mau menyerah begitu saja. Gol dari Dennis Bergkamp pada menit ke-64 dan Aaron Winter pada menit ke-76 membuat kedudukan imbang.
Kedudukan imbang 2-2 cuma bertahan lima menit. Bek sayap kiri Brasil, Branco berhasil membobol gawang Belanda lewat tendangan bebas dari jarak jauh. Bola yang meluncur deras ke sisi kiri gawang tak mampu dihalau oleh kiper Belanda, Ed de Goey.
Brasil menghadapi Swedia di semifinal. Sejak awal, duel ini diprediksi bakal berlangsung sengit, karena merujuk hasil imbang 1-1 saat mereka bertemu di fase grup. Prediksi itu tepat. Tim Samba baru bisa mencetak gol kemenangan melalui Romario pada menit ke-80.
Terus mendapat cibiran karena gaya bermain tak sesuai harapan, pada akhirnya Brasil sampai di partai puncak Piala Dunia 1994. Italia yang kala itu bertabur bintang menjadi lawan mereka. Sepanjang 120 menit pertandingan --termasuk waktu tambahan-- 94 ribu lebih penonton yang memadati tribun Rose Bowl Stadium tak bisa menjadi saksi terciptanya gol dari kedua tim.
Untuk menentukan pemenang, pertandingan dilanjutkan ke adu penalti. Satu eksekutor Brasil, Marcio Santos gagal menuntaskan tugasnya, tapi dari Italia ada tiga yang menemui kegagalan, yakni Franco Baresi, Daniele Massaro, dan Roberto Baggio. Hasil itu membuat Brasil menjadi tim pertama yang sukses menjuarai Piala Dunia sebanyak empat kali.