TVRINews - Rabat, Maroko

Profil pelatih baru Timnas Maroko, Mohamed Ouahbi, yang menggantikan Walid Regragui.

Timnas Maroko telah mengangkat Mohamed Ouahbi sebagai pelatih baru tim berjulukan The Atlas Lions. Pengangkatan ini terjadi pada Kamis (5/3/2026) malam waktu setempat atau Jumat dini hari WIB, di Komplek Sepak Bola Raja Mohammed VI, di Maamoura, Maroko.

Acara tersebut juga bersamaan dengan perpisahan Walid Regragui yang menyatakan mundur sebagai pelatih Achraf Hakimi dan kawan-kawan. Ini menjadi pesan, Timnas Maroko menghargai apa yang telah diberikan Walid Regragui dan melanjutkan perjalanan The Atlas Lions di kancah internasional.

Sejak itu pula, harapan publik sepak bola Maroko ada di pundak Mohamed Ouahbi, pelatih yang dalam level dunia belum terlalu dikenal luas. Tantangan Mohamed Ouahbi di depan tentu saja Piala Dunia 2026 yang dimulai pada 11 Juni 2026 nanti.

Timnas Maroko berada di Grup C di Piala Dunia 2026. Satu grup dengan Brasil, Skotlandia, dan Haiti. Dari deretan tim tersebut, Maroko ada di grup yang relatif sulit tentunya, khususnya lawan mereka, yaitu Brasil.

Namun, The Atlas Lions ketika di bawah asuhan Walid Regragui pernah memberikan kejutan dengan mengalahkan dua tim besar di Piala Dunia 2022 silam. Menekuk Timnas Spanyol di 16 besar dan mengalahkan Portugal di perempat final.

Karena itu, wajar jika ekspektasi yang sama disematkan publik sepak bola Maroko kepada Mohamed Ouahbi di Piala Dunia 2026 nanti. Menarik untuk menantikan apa yang dapat diperlihatkan Timnas Maroko pada Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Piala Dunia 2026 adalah salah satu mimpi atau harapan besar bagi Timnas Maroko. Meski bukan sebagai kandidat peraih gelar namun The Atlas Lions dengan semua pencapaiannya belakangan ini, ditempatkan sebagai tim yang memiliki potensi membuat kejutan.

"Ucapan rasa terima kasih yang dalam saya sampaikan kepada Raja Mohammed VI atas dukungannya kepada sepak bola Maroko yang membuat kami terus memimpikan sesuatu yang besar," kata Mohamed Ouahbi dalam komentarnya di acara tersebut.

Dalam kesempatan itu pula, Mohamed Ouahbi juga mengucapkan terima kasih kepada Presiden Federasi Kerajaan Sepak Bola Maroko (FRMF) Fouzi Lekjaa dan juga kepada Walid Regragui atas pencapaiannya sebagai pelatih The Atlas Lions.

"Terima kasih saya ucapkan juga dari lubuk hati terdalam kepada Walid Regragui untuk warisan yang Anda berikan kepada kami, yang membuat tim ini solid, perkembangan tim yang telah Anda bangun, dan untuk kedekatan Anda kepada pemain muda nasional," kata Mohamed Ouahbi lagi.

Mohamed Ouahbi berjanji untuk bekerja seperti yang di sampaikan yaitu, “bekerja dengan serius, rendah hati, tekad, dan yang terpenting, patriotisme.” Dia menggambarkan skuad Maroko sebagai tim muda yang masih mampu membuat kemajuan signifikan.

"Saya ingin tim yang membuat rakyat Maroko bangga. Saya tidak akan membedakan antara pemain berusia 19 tahun dan pemain berusia 34 tahun. Performa akan menentukan," kata Mohamed Ouahbe lagi tentang hal-hal penting yang akan dipegangnya sebagai pelatih Timnas Maroko.

Berbeda dengan Walid Regragui yang memiliki latar belakang sepak bola sebagai pemain, Mohamed Ouahbi justru adalah sosok pelatih karier. Dalam hal ini, dia tidak memiliki latar belakang sebagai pemain. Kariernya justru dimulai sebagai seorang pendidik atau guru di sebuah sekolah di Schaerbeek, Belgia.

Minatnya yang besar terhadap sepak bola inilah yang menuntun jalannya menjadi pelatih, menggabungkan kecakapannya sebagai guru dengan dunia sepak bola. Namun demikian, yang membuatnya sangat pantas melatih Timnas Maroko adalah suksesnya membawa tim muda Maroko juara Piala Dunia U-20 pada 2025.

Juara Piala Dunia U-20

Inilah momen terbaik dalam kariernya sebagai pelatih, yang membuatnya kemudian diakui pantas untuk menangani tim nasional senior, saat ini. Dalam final yang digelar pada 19 Oktober 2025, Maroko mengalahkan Argentina 2-0 lewat dua gol yang diciptakan Yassir Zabiri.

Gelar Piala Dunia U-20 yang digelar di Cili tersebut, menjadikan Maroko sebagai negara Afrika kedua setelah Gana yang juara di turnamen ini pada tahun 2009 silam. Dalam turnamen tersebut, Maroko mengalahkan Spanyol dan Brasil di fase grup.

Meski kemudian kalah dari Meksiko, Maroko lolos sebagai juara grup. Di fase knockout, Maroko mengalahkan Korea Selatan di 16 besar, menekuk Amerika Serikat di perempat final, dan menang adu penalti lawan Prancis di semifinal.

Kemenangan atas Argentina, menjadi pencapaian bersejarah karena inilah untuk pertama kali Maroko juara dalam turnamen tersebut. "Sudah begitu lama, selama bertahun-tahun kami menunggu untuk memecahkan batasan ini," kata Mohamed Ouahbi, setelah kemenangan di final tersebut.

Guru di Belgia

Mohamed Ouahbi lahir di Schaerbeek, Belgia pada 7 September 1976. Dia lahir dari keluarga Maroko, tumbuh di kota kelahirannya ini. Dalam usia 10 tahun, dirinya pun udah berminat kepada sepak bola.

Dia mengikuti jalannya Piala Dunia 1986. Ketika itu, Timnas Maroko untuk pertama kalinya dalam sejarah berhasil menembus 16 besar di turnamen terbesar sepak bola dunia ini. Belgia ada di Piala Dunia tersebut dan keluarga Mohamed Ouahbi pun memberikan dukungan kepada keduanya.

Dalam perjalanan hidupnya, Mohamed Ouahbi pun menjadi seorang guru di Schaerbeek. Namun, minatnya terhadap sepak bola tidak pernah padam. Dia ingin menggabungkan profesinya sebagai guru dengan sepak bola.

Langkah pertamanya di sepak bola adalah sebagai asisten pelatih di tim muda klub Anderlecht (Belgia). Di sana, dia melewatkan 17 tahun bekerja, mulai dari tim U-19 hingga U-21.

Di Anderlecht, dia membantu pemain-pemain muda negeri tersebut seperti Youri Tielemans, Romelu Lukaku, Adnan Januzaj, dan Charly Musonda. Kariernya kemudian berlanjut di klub Arab Saudi, Al Fateh sebelum pulang ke negeri leluhurnya, Maroko.

Pada Maret 2022, dia pun ditunjuk sebagai pelatih kepala Timnas U-20 Maroko. Dari generasi Tim U-20 Maroko, Mohamed Ouahbi menampilkan sejumlah pemain masa depan seperti Othmane Maama yang terpilih sebagai Pemain Terbaik.

Lalu Zakaria Zabiri yang berhasil menyabet gelar top-scorer Piala Dunia U-20 2025 itu, serta Yassine Gesim, calon metronom di lini tengah masa depan Timnas Maroko.

Menurut Morocco World News, tipe kepelatihan Mohamed Ouahbi menyukai pertahanan yang kokoh. Membiarkan lawan menguasai pertandingan namun kemudian memberikan serangan balik yang mematikan.

Terkait gayanya dalam melatih, dia pun menjawab dengan kalimat yang pernah dilontarkan Carlo Ancelotti: "Singa berlari untuk mencari makan, rusa juga berlari agar tidak menjadi mangsa. Keduanya berlari untuk mencapai tujuan."

Bakal dilihat di Piala Dunia 2026 nanti, apakah Maroko akan menjadi singa seperti julukannya The Atlas Lions, atau justru tetap memilih menjadi rusa dengan strategi bertahan dan serangan balik. Yang juga menarik, dia akan menghadapi Carlo Ancelotti, pelatih Timnas Brasil yang juga memiliki gaya kepelatihan pragmatis di Piala Dunia 2026 nanti.