TVRINews - Paris, Prancis

Kualifikasi Piala Dunia 1998 akan selalu dikenang sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu yang terbatas dengan masa depan yang tanpa batas.

Menjelang perhelatan akbar di Prancis, dunia sepak bola bersiap menyambut fajar baru. Kualifikasi Piala Dunia 1998 bukan sekadar babak penyisihan biasa melainkan gerbang menuju era modern sepak bola lebih masif  dan penuh drama yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perubahan paling fundamental adalah penambahan jumlah peserta dari 24 negara menjadi 32 negara. Format baru ini bukan sekadar angka, melainkan sebuah pernyataan inklusivitas yang membuka pintu gerbang bagi negara-negara dari konfederasi yang sebelumnya sulit menembus dominasi Eropa dan Amerika Selatan.

Kualifikasi Piala Dunia 1998 pun menjadi ajang paling brutal sekaligus puitis yang pernah ada. Bertambahnya kuota, harapan mulai membuncah di berbagai belahan dunia, memicu drama yang melibatkan keringat, air mata, hingga tetesan darah para pemain di lapangan hijau.

Salah satu kisah paling monumental lahir dari tanah Asia yang dikenal sebagai Tragedi Doha. Empat tahun sebelumnya, mimpi Samurai Biru hancur di menit akhir. Jepang berupaya menghapus trauma masa lalu tersebut. Kualifikasi Piala Dunia 1998 menjadi panggung penebusan yang luar biasa.

Setelah melalui babak grup yang melelahkan, Jepang harus melakoni laga hidup-mati di babak play-off zona Asia. Stadion Larkin di Johor Bahru, Malaysia, menjadi saksi bisu bentrokan dua kekuatan besar yang sama-sama mengincar tiket bersejarah yang mempertemukan Jepang melawan Iran.

Pertandingan tersebut berjalan sangat dramatis dan penuh ketegangan. Skor imbang 2-2 bertahan hingga waktu normal usai, memaksa laga berlanjut ke babak tambahan. Di sini sejarah baru bagi Jepang akhirnya tertulis dengan tinta emas.

Masayuki Okano, yang masuk sebagai pemain pengganti, menjadi pahlawan nasional. Gol emasnya pada menit ke-118 tidak hanya mengakhiri perlawanan Iran, tetapi juga memastikan Jepang lolos ke Piala Dunia 1998, putaran final untuk pertama kalinya sepanjang sejarah mereka.

Kemenangan di Johor Bahru itu disambut tangis haru oleh ribuan suporter Jepang yang memadati stadion. Momen tersebut kini dikenang sebagai Kegembiraan Johor Bahru, sebuah titik balik yang mengubah wajah sepak bola Negeri Matahari Terbit dari sekadar peserta menjadi raksasa Asia.

Bukan hanya Jepang yang merasakan berkah dari format 32 tim. Jamaika, dengan julukan ikonik Reggae Boyz, juga berhasil menciptakan sejarah dengan lolos untuk pertama kalinya setelah menempati posisi ketiga di zona CONCACAF, mengungguli raksasa seperti Kanada dan El Salvador.

Afrika Selatan juga mencatatkan debut emosional mereka. Setelah puluhan tahun terisolasi akibat rezim Apartheid, kualifikasi Piala Dunia 1998 menjadi momen pembuktian bahwa sepak bola mampu menyatukan bangsa tersebut di bawah bendera "Pelangi" yang baru.

Dari benua Eropa, Kroasia muncul sebagai kekuatan anyar yang mengejutkan. Meski baru beberapa tahun merdeka setelah pecahnya Yugoslavia, mereka mampu melewati babak kualifikasi yang keras dan memastikan diri terbang ke Prancis sebagai salah satu tim debutan paling ditakuti.

Drama kualifikasi di Eropa juga menyajikan laga epik antara Italia dan Inggris di Stadion Olimpico, Roma. The Three Lions, yang butuh hasil imbang untuk lolos otomatis, bermain dengan pertahanan gerendel yang luar biasa meski kapten mereka, Paul Ince, harus bermain dengan kepala diperban berlumuran darah.

Hasil imbang 0-0 di Roma tersebut memaksa Italia, yang saat itu dihuni pemain sekelas Alessandro Del Piero dan Roberto Baggio, harus melalui babak play-off yang menegangkan melawan Rusia untuk bisa mengamankan tiket ke Prancis.

Sementara itu, Iran yang sebelumnya dikalahkan Jepang di Johor Bahru, tidak menyerah begitu saja. Team Melli harus menempuh jalan panjang menuju Prancis melalui babak play-off antarkontinental melawan wakil Oseania, Australia.

Laga tersebut menjadi mimpi buruk bagi publik Melbourne. Setelah imbang 1-1 di Teheran, Iran tertinggal 0-2 di hadapan 85 ribu suporter Australia. Namun, secara ajaib Iran mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2 di sepuluh menit terakhir, membuat Australia tersingkir lewat aturan gol tandang.

Keberhasilan Iran ini sekaligus melengkapi kuota empat wakil Asia bersama Arab Saudi, Korea Selatan, dan Jepang. Ini adalah pertama kalinya Benua Kuning mengirimkan begitu banyak wakil, sebuah bukti nyata keberhasilan ekspansi format yang dicanangkan FIFA.

Di zona Amerika Selatan (CONMEBOL), kualifikasi Piala Dunia 1998 juga memperkenalkan format liga tunggal atau round robin yang legendaris. Tanpa Brasil yang lolos otomatis sebagai juara bertahan, sembilan negara bertarung dalam satu grup raksasa yang memakan waktu hampir dua tahun.

Format baru ini terbukti sangat adil yang juga menguras fisik. Argentina mendominasi sebagai pemuncak klasemen, diikuti oleh Paraguai, Kolombia, dan Cili. Nama-nama besar seperti Marcelo Salas dan Ivan Zamorano dari Cili menjadi teror nyata bagi bek-bek lawan selama kualifikasi.

Sepanjang babak kualifikasi, total 174 negara berpartisipasi, sebuah rekor pada masanya. FIFA mencatat ada ratusan gol tercipta dan jutaan pasang mata menyaksikan perjuangan tim nasional mereka menuju Prancis.

Menariknya, kualifikasi Piala Dunia 1998 juga menjadi ajang terakhir di mana sistem golden goal atau gol emas benar-benar menjadi penentu nasib di babak play-off. Sistem ini menciptakan tekanan mental yang luar biasa bagi pemain, karena satu kesalahan kecil berarti akhir dari sebuah mimpi.

Banyak fakta unik lainnya yang terselip, seperti keberhasilan Austria yang lolos secara dramatis berkat gol-gol di menit akhir pertandingan, hingga kegagalan tragis tim-tim tradisional seperti Swedia dan Portugal yang harus absen di panggung sebesar Prancis 1998.

Kualifikasi ini juga menjadi saksi munculnya generasi emas di berbagai negara. Pemain muda seperti Zinedine Zidane di Prancis, Ronaldo di Brasil, hingga Hidetoshi Nakata di Jepang, semuanya mulai mematangkan diri melalui kerasnya persaingan menuju putaran final.

Bagi Indonesia sendiri, meski gagal lolos, kualifikasi Piala Dunia 1998 tetap menyisakan kenangan. Tergabung di Grup 5 Asia bersama Uzbekistan, Yaman, dan Kamboja, Indonesia yang saat itu diasuh Henk Wullems sempat memberikan perlawanan walau akhirnya harus finis di posisi ketiga grup.

Perjalanan panjang kualifikasi tersebut bermuara pada pesta pembukaan di Stade de France. Format 32 negara terbukti sukses besar, memberikan warna baru bagi sepak bola melalui keberagaman gaya bermain dari tiap konfederasi yang kini memiliki keterwakilan lebih luas.

Kualifikasi Piala Dunia 1998 akan selalu dikenang sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu yang terbatas dengan masa depan yang tanpa batas. Piala Dunia 1998 membuktikan bahwa sepak bola adalah milik semua orang, dari pesisir Kingston hingga gemerlap malam di Tokyo.