Oleh: Iman Brotoseno, Kolumnis Sepak Bola

Sejarah sepak bola mengajarkan bahwa sebuah perhelatan Piala Dunia akan mampu membius penduduk planet bumi selama sebulan lebih. Semua kegiatan penting sehari-hari hanya menjadi selingan di antara kegiatan wajib, yakni memelototi jadwal-jadwal pertandingan. Tidak hanya kaum lelaki, tapi juga kaum perempuan. Simak saja cerita ini.  Sejak revolusi Islam di Iran pada 1979, para kaum hawa dilarang masuk menonton bola. Segala ingatan hiruk-pikuk menonton di Stadion Azadi, stadion berkapasitas 120.000 orang di Teheran, menjadi sirna dalam balik perintah ulama. Ternyata memang tidak mudah, karena pada masa kekuasaan Syah Iran, para wanita bercampur baur dengan laki-laki, berteriak sumpah serapah dan menyanyi untuk pemain-pemain pujaannya.

Sejak kaum mullah berkuasa, selalu saja, dalam kerumunan penonton bola, ada wajah wajah halus tanpa janggut, celana panjang kedodoran yang dibungkus mantel tebal. Mereka adalah perempuan-perempuan yang menekan erat payudara mereka, dan memakai topi menutupi gelungan rambutnya.  Ayatollah Khomeini pada 1987 mulai melonggarkan aturan dengan mengizinkan para perempuan menonton bola, hanya lewat televisi. Sebuah aturan yang memberikan kompromi sementara. Setidaknya bisa membendung hasrat perempuan Iran untuk bisa berteriak menyalurkan emosi pancaindra secara langsung di lapangan.

Pertandingan penyisihan Piala Dunia 1997 di Melbourne mengubah semua itu. Iran mengalahkan Australia dan lolos ke Piala Dunia 1998 di Perancis. Teheran menggelegar!  Jalan-jalan Teheran dipenuhi orang-orang yang bersuka cita melepaskan aturan moralitas resmi. Tarian, minuman dan musik barat yang hanya menjadi konsumsi pribadi di rumah rumah, kini bebas keluar ke jalanan-jalanan. Penguasa resah, karena banyak perempuan kalangan anak muda yang bergabung, bercampur aduk berpesta serta melepas jilbab mereka. Ketika basijii, milisi paramiliter keagaamaan, tiba, mereka justru dibujuk untuk ikut dalam keramaian ini.

Beberapa langkah pengamanan dilakukan. Pemerintah meminta kesebelasan nasional jangan terlalu cepat pulang. Singgah santai di Dubai sampai suasana di ibu kota agak mereda. Siaran radio resmi meminta agar rakyat menjauhi pesta-pesta sekuler yang memurkakan Allah. Secara khusus pesan-pesan ditujukan kepada kaum wanita, “Wahai saudari-saudari kami tercinta“. Mereka diminta diam dalam rumah selama pesta penyambutan.

Tiga hari kemudian para pahlawan sepak bola tiba di Teheran. Pemerintah membuat penyambutan resmi di Stadion Azadi. Tapi tontonan yang sesungguhnya bukan di dalam stadion. Ribuan kaum perempuan mengabaikan imbauan Pemerintah. Mereka menunggu di luar stadion dalam cuaca minus 2 derajat celcius yang membeku. Sebagaimana dilaporkan oleh antropolog Christian Bromberger, para perempuan menjerit-jerit dan mendorong para polisi yang menutupi pagar stadion. “Bukankah kami juga bagian dari bangsa ini? Kami ingin merayakan juga“. Polisi akhirnya membuka pintu dan membiarkan lebih dari 5.000 perempuan memasuki stadion, daripada menanggung risiko kerusuhan besar-besaran. Polisi tak punya pilihan selain mengaku kalah.

Sepak bola memang bukan sekadar olahraga. Sepak bola menjadi sakral dan memberi napas kepada penganutnya. Apalagi kita bicara Piala Dunia, di mana mata lebih dari tiga perempat penduduk dunia tertuju pada momen akbar empat tahunan.

Buat bangsa Indonesia, sepak bola adalah olahraga paling populer. Ada suara rakyat di sana, sehingga Presiden Prabowo Subianto memastikan bahwa negara hadir untuk memberikan kegembiraan tontonan kepada rakyat. Ini karena Presiden sangat paham terhadap antusiasme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola, di samping perhatian beliau terhadap pembinaan sepak bola sejak dulu.

Animo yang tinggi dari masyarakat membuat gelaran turnamen empat tahun sekali bernama Piala Dunia ini menjadi ajang olahraga yang paling banyak ditonton masyarakat Indonesia. Laporan The Trade Desk pada Piala Dunia 2018, ada 156 juta penonton Piala Dunia. Kemudian pada 2022 meningkat menjadi 180 juta pasang mata yang menonton. Diperkirakan perhelatan Piala Dunia 2026 akan menembus 200 juta penonton. Kenaikan jumlah penonton ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Betapa tidak, Piala Dunia bukan hanya sebuah perhelatan olahraga yang ikonik. Acara ini menyediakan momentum bagi brand untuk terhubung dengan audiens melalui siaran multiplatform  yang menjangkau seluruh masyarakat.

Ini juga menjadi jelas mengapa sepak bola selalu menjadi prioritas gelontoran dana sponsor brand besar. Selain itu, sepak bola mendorong pertumbuhan ekonomi lokal terutama melalui UMKM dan industri kreatif, yang dipicu oleh euforia nonton bareng (nobar), yang menciptakan peningkatan penjualan produk lokal, kuliner, serta merchandise. Nobar menjadi jembatan bagi UMKM untuk meningkatkan omzet, mendorong perputaran uang di tingkat akar rumput. Tentu saja, kolaborasi Pemerintah dan swasta dalam melakukan sinergi dengan UMKM menjadi sangat krusial untuk mengoptimalkan manfaat ekonomi.

Sepak bola menjadi jalan hidup, yang logika ajarannya tak mesti dipahami. Barangkali benar perkataan Maradona: jika sepak bola adalah agama resmi, maka agamaku tentu bukan Katolik.

Waktu SD, saya bisa menangis tak percaya ketika kesebelasan nasional kalah 1-4 oleh tim anak bawang Hongkong pada penyisihan zona Asia menjelang Piala Dunia 1978 di Argentina. Mana mungkin Risdianto, Junaedi Abdilah, dan Iswadi Idris, yang saya bayangkan bagaikan trio Belanda saat itu (Rob Rensenbrink, Johnny Repp, dan Rene van der Keerkof) bisa keok melawan nama-nama antah-berantah dari Hongkong. Jadilah saya membeli keyakinan bahwa kesebelasan Hongkong memakai guna-guna untuk mengalahkan Timnas Indonesia. Apalagi,menurut gosip yang diembuskan orang-orang yang tak rela, Ketua Umum PSSI saat itu menemukan sebuah patung Buddha kecil yang ditanam di pojok gawang Ronny Pasla.

Piala Dunia memang menjadi sihir pemersatu bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Untuk selama 39 hari, mata telinga akan mengarah ke Amerika, Meksiko dan Kanada. Tensi politik akan menurun, pertikaian tersingkirkan. Semua serbabola karena kesusahan berganti kegembiraan. Dan saya tak perlu menangis kalau timnas sampai sekarang tak pernah bisa ke Piala Dunia juga. Apa yang perlu ditangisi? Sepak bola tidak melulu menjadi agama lokal. Saya lebih baik memilih tim Belanda atau Argentina sebagai anutan rohani.

Selamat datang Piala Dunia 2026! Mari kita nonton bareng!