Cristiano Ronaldo (ketiga dari kanan) dari Portugal mencium bola sebelum mengeksekusi tendangan penalti dalam pertandingan sepak bola Kualifikasi Eropa Piala Dunia 2026 antara Hungaria dan Portugal di Budapest, Hungaria, pada 9 September 2025. Foto: (Foto oleh Attila Volgyi/Xinhua)
Oleh: Iman Brotoseno, Kolumnis Sepak Bola
Sejarah sepak bola mengajarkan bahwa sebuah
perhelatan Piala Dunia akan mampu membius penduduk planet bumi selama sebulan
lebih. Semua kegiatan penting sehari-hari hanya menjadi selingan di antara
kegiatan wajib, yakni memelototi jadwal-jadwal pertandingan. Tidak hanya kaum
lelaki, tapi juga kaum perempuan. Simak saja cerita ini. Sejak revolusi Islam di Iran pada 1979, para
kaum hawa dilarang masuk menonton bola. Segala ingatan hiruk-pikuk menonton di
Stadion Azadi, stadion berkapasitas 120.000 orang di Teheran, menjadi sirna
dalam balik perintah ulama. Ternyata memang tidak mudah, karena pada masa
kekuasaan Syah Iran, para wanita bercampur baur dengan laki-laki, berteriak
sumpah serapah dan menyanyi untuk pemain-pemain pujaannya.
Sejak kaum mullah berkuasa, selalu
saja, dalam kerumunan penonton bola, ada wajah wajah halus tanpa janggut,
celana panjang kedodoran yang dibungkus mantel tebal. Mereka adalah
perempuan-perempuan yang menekan erat payudara mereka, dan memakai topi
menutupi gelungan rambutnya. Ayatollah
Khomeini pada 1987 mulai melonggarkan aturan dengan mengizinkan para perempuan
menonton bola, hanya lewat televisi. Sebuah aturan yang memberikan kompromi
sementara. Setidaknya bisa membendung hasrat perempuan Iran untuk bisa
berteriak menyalurkan emosi pancaindra secara langsung di lapangan.
Pertandingan penyisihan Piala Dunia 1997 di
Melbourne mengubah semua itu. Iran mengalahkan Australia dan lolos ke Piala
Dunia 1998 di Perancis. Teheran menggelegar!
Jalan-jalan Teheran dipenuhi orang-orang yang bersuka cita melepaskan
aturan moralitas resmi. Tarian, minuman dan musik barat yang hanya menjadi
konsumsi pribadi di rumah rumah, kini bebas keluar ke jalanan-jalanan. Penguasa
resah, karena banyak perempuan kalangan anak muda yang bergabung, bercampur
aduk berpesta serta melepas jilbab mereka. Ketika basijii, milisi
paramiliter keagaamaan, tiba, mereka justru dibujuk untuk ikut dalam keramaian
ini.
Beberapa langkah pengamanan dilakukan.
Pemerintah meminta kesebelasan nasional jangan terlalu cepat pulang. Singgah
santai di Dubai sampai suasana di ibu kota agak mereda. Siaran radio resmi
meminta agar rakyat menjauhi pesta-pesta sekuler yang memurkakan Allah. Secara
khusus pesan-pesan ditujukan kepada kaum wanita, “Wahai saudari-saudari kami
tercinta“. Mereka diminta diam dalam rumah selama pesta penyambutan.
Tiga hari kemudian para pahlawan sepak bola
tiba di Teheran. Pemerintah membuat penyambutan resmi di Stadion Azadi. Tapi
tontonan yang sesungguhnya bukan di dalam stadion. Ribuan kaum perempuan
mengabaikan imbauan Pemerintah. Mereka menunggu di luar stadion dalam cuaca
minus 2 derajat celcius yang membeku. Sebagaimana dilaporkan oleh antropolog
Christian Bromberger, para perempuan menjerit-jerit dan mendorong para polisi
yang menutupi pagar stadion. “Bukankah kami juga bagian dari bangsa ini? Kami
ingin merayakan juga“. Polisi akhirnya membuka pintu dan membiarkan lebih dari
5.000 perempuan memasuki stadion, daripada menanggung risiko kerusuhan
besar-besaran. Polisi tak punya pilihan selain mengaku kalah.
Sepak bola memang bukan sekadar olahraga.
Sepak bola menjadi sakral dan memberi napas kepada penganutnya. Apalagi kita
bicara Piala Dunia, di mana mata lebih dari tiga perempat penduduk dunia
tertuju pada momen akbar empat tahunan.
Buat bangsa Indonesia, sepak bola adalah
olahraga paling populer. Ada suara rakyat di sana, sehingga Presiden Prabowo
Subianto memastikan bahwa negara hadir untuk memberikan kegembiraan tontonan
kepada rakyat. Ini karena Presiden sangat paham terhadap antusiasme masyarakat
Indonesia terhadap sepak bola, di samping perhatian beliau terhadap pembinaan
sepak bola sejak dulu.
Animo yang tinggi dari masyarakat membuat
gelaran turnamen empat tahun sekali bernama Piala Dunia ini menjadi ajang
olahraga yang paling banyak ditonton masyarakat Indonesia. Laporan The Trade
Desk pada Piala Dunia 2018, ada 156 juta penonton Piala Dunia. Kemudian
pada 2022 meningkat menjadi 180 juta pasang mata yang menonton. Diperkirakan
perhelatan Piala Dunia 2026 akan menembus 200 juta penonton. Kenaikan jumlah
penonton ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Betapa
tidak, Piala Dunia bukan hanya sebuah perhelatan olahraga yang ikonik. Acara
ini menyediakan momentum bagi brand untuk terhubung dengan audiens melalui
siaran multiplatform yang menjangkau
seluruh masyarakat.
Ini juga menjadi jelas mengapa sepak bola
selalu menjadi prioritas gelontoran dana sponsor brand besar. Selain itu, sepak
bola mendorong pertumbuhan ekonomi lokal terutama melalui UMKM dan industri
kreatif, yang dipicu oleh euforia nonton bareng (nobar), yang menciptakan
peningkatan penjualan produk lokal, kuliner, serta merchandise. Nobar
menjadi jembatan bagi UMKM untuk meningkatkan omzet, mendorong perputaran uang
di tingkat akar rumput. Tentu saja, kolaborasi Pemerintah dan swasta dalam
melakukan sinergi dengan UMKM menjadi sangat krusial untuk mengoptimalkan
manfaat ekonomi.
Sepak bola menjadi jalan hidup, yang logika
ajarannya tak mesti dipahami. Barangkali benar perkataan Maradona: jika sepak
bola adalah agama resmi, maka agamaku tentu bukan Katolik.
Waktu SD, saya bisa menangis tak percaya
ketika kesebelasan nasional kalah 1-4 oleh tim anak bawang Hongkong pada
penyisihan zona Asia menjelang Piala Dunia 1978 di Argentina. Mana mungkin
Risdianto, Junaedi Abdilah, dan Iswadi Idris, yang saya bayangkan bagaikan trio
Belanda saat itu (Rob Rensenbrink, Johnny Repp, dan Rene van der Keerkof) bisa
keok melawan nama-nama antah-berantah dari Hongkong. Jadilah saya membeli keyakinan
bahwa kesebelasan Hongkong memakai guna-guna untuk mengalahkan Timnas
Indonesia. Apalagi,menurut gosip yang diembuskan orang-orang yang tak rela,
Ketua Umum PSSI saat itu menemukan sebuah patung Buddha kecil yang ditanam di
pojok gawang Ronny Pasla.
Piala Dunia memang menjadi sihir pemersatu
bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Untuk selama 39 hari, mata telinga
akan mengarah ke Amerika, Meksiko dan Kanada. Tensi politik akan menurun,
pertikaian tersingkirkan. Semua serbabola karena kesusahan berganti kegembiraan.
Dan saya tak perlu menangis kalau timnas sampai sekarang tak pernah bisa ke
Piala Dunia juga. Apa yang perlu ditangisi? Sepak bola tidak melulu menjadi
agama lokal. Saya lebih baik memilih tim Belanda atau Argentina sebagai anutan
rohani.
Selamat datang Piala Dunia 2026! Mari kita
nonton bareng!