TVRINews – Gijon, Spanyol

Insiden Disgrace of Gijon yang membuat Aljazair tersingkir di fase grup Piala Dunia 1982 membuat FIFA mengubah waktu pertandingan terakhir.  

Ada satu peristiwa pada Piala Dunia 1982 yang akan diingat sepanjang masa, bukan hanya oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) tetapi juga tiga negara yang terlibat dalam insiden yang kemudian terkenal dengan sebutan Disgrace of Gijon (Aib di Gijon). 

Karena memalukannya insiden ini, banyak istilah yang kemudian dipakai, sebut saja Desgracia de Gijon (dalam Bahasa Spanyol), Nichtangriffspakt von Gijon atau Schande von Gijon (Jerman), Match de la honte (Prancis), hingga faḍiḥat Khikhun (Aljazair).  

Semua berawal dari persaingan sengit di Grup 2 yang diisi Jerman (saat itu masih bernama Jerman Barat), Austria, Aljazair, dan Cili. Pada pertandingan pertama di luar dugaan Aljazair mampu membekap Jerman, 2-1. Sedangkan Austria meredam Cili, 1-0. 

Pada laga kedua, Jerman membekap Cili, 4-1, sementara Austria menang 2-0 atas Aljazair. Alhasil, dari dua laga Austria memimpin dengan 4 poin (baru pada 1990, satu kemenangan berhak atas 3 poin). 

Adapun Jerman dan Aljazair mengoleksi poin yang sama, 2. Namun, selisih gol Jerman lebih baik (+3) sedangkan Aljazair (-1). 

Tibalah pertandingan terakhir seluruh tim. Laga antara Aljazair melawan Cili digelar lebih dulu, 24 Juni 1982 di Estadio Carlos Tartiere, Oviedo, Spanyol. Di luar dugaan, Aljazair mampu menang 3-2. 

Dengan hasil itu, Aljazair mengoleksi 4 poin dengan selisih gol 0 (5-5). Aljazair pun sudah membayangkan bakal mencetak sejarah dengan menjadi tim Afrika pertama yang lolos ke babak gugur di Piala Dunia. Pasalnya, saat itu di atas kertas Austria jauh lebih tangguh daripada Jerman. 

Pada 25 Juni 1982, pertandingan terakhir Grup 2 pun digelar di Estadio El Molinon, Gijon, Spanyol. Target Jerman jelas, hanya perlu menang 1-0 atau 2-0 untuk lolos ke babak gugur menemani Austria sebagai pemenang grup sekaligus menyingkirkan Aljazair.

Baru 10 menit pertandingan berjalan, striker Jerman Barat Horst Hrubesch mencetak gol pembuka. Namun, sejak saat itu, sesuatu yang aneh terjadi. 

Intensitas permainan menghilang. Kedua tim berhenti menyerang, hanya mengoper bola tanpa menghasilkan gol dan tidak menunjukkan upaya nyata untuk mencetak gol lagi. 

Kedua tim terus mengoper bola satu sama lain ke samping. Sampai wasit Bob Valentine dari Skotlandia meniup peluit panjang, skor 1-0 tetap bertahan. Austria dan Jerman Barat pun melaju ke 16 besar sedangkan Aljazair dengan marah pulang. 

Meskipun tidak ada bukti adanya pengaturan skor dalam pertandingan Jerman Barat melawan Austria, kurangnya persaingan yang mencolok membuat pertandingan tersebut mendapat julukan Disgrace of Gijon

Sebenarnya, empat tahun sebelumnya, Piala Dunia 1978, kejadian serupa juga terjadi. Pada putaran kedua grup, Argentina yang menjadi tuan rumah, butuh menang atas Peru dengan selisih minimal empat gol. 

Peru, yang saat itu berada di posisi juru kunci grup namun termasuk tim kuat, di luar dugaan menyerah 0-6 dari Argentina. Hasil itu membuat Brasil harus puas di posisi kedua grup dan hanya memperebutkan peringkat ketiga. 

Kemenangan 6-0 tuan rumah yang mencurigakan itu diselimuti oleh tuduhan kolusi, termasuk pengiriman 35 ribu ton biji-bijian ke Peru dan pelepasan aset beku senilai 50 juta dolar AS oleh Argentina.

Kendati begitu, banyak yang percaya bahwa baru pada pertandingan Disgrace of Gijon di Spanyol ‘86 itulah FIFA akhirnya memutuskan untuk mengubah format babak grup. 

Mulai Piala Dunia tahun 1986 dan seterusnya, semua pertandingan terakhir grup akan dimainkan secara bersamaan. Hal ini untuk mencegah tim bermain demi hasil yang “saling menguntungkan” – dengan kolusi atau pengaturan skor (match fixing) – namun merugikan tim lain.

Selain itu, kebijakan memainkan dua laga terakhir grup bersamaan ini akan memaksa kedua tim bermain serius untuk menang hingga menit terakhir, karena mereka tidak bisa mengandalkan hasil pertandingan lainnya secara instan. 

Kebijakan FIFA yang dimulai pada Piala Dunia 1986 ini akhirnya juga diadopsi oleh banyak liga domestik dan kompetisi antarklub (seperti Liga Champions).