Gelandang senior Timnas Prancis yang juga membela klub Fenerbahce, N'Golo Kante, merupakan sosok Muslim yang taat. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Istanbul, Turki
Filosofi hidup N'Golo Kante yang membumi bukan sekadar pencitraan, melainkan manifestasi dari iman yang mendalam.
Bagi umat Muslim di seluruh dunia, bulan Ramadan adalah momentum untuk mempertebal kesabaran, disiplin, dan kerendahan hati. Di panggung sepak bola Eropa yang kompetitif, nilai-nilai ini terpancar nyata dari sosok N’Golo Kante.
Saat banyak pemain bintang terjebak dalam sorotan gaya hidup glamor, gelandang senior Timnas Prancis itu justru menjadikan Ramadan sebagai pembuktian bahwa kekuatan fisik seorang atlet berakar dari keteguhan spiritualnya.
Kante dikenal sebagai sosok gelandang bertahan yang sangat disiplin menjalankan ibadah puasa saat Ramadan, bahkan ketika hari pertandingan (matchday). Saat di Chelsea, Al-Ittihad, maupun sekarang di Fenerbahce, ia sering terlihat tetap tampil energik selama 90 menit meski dalam keadaan berpuasa.
Salah satu kebiasaan uniknya adalah tetap tenang dan tidak pernah mengeluh. Mantan pelatihnya, Thomas Tuchel, pernah mengisahkan betapa ia takjub melihat Kante tetap mampu melakukan sprint dan intersep krusial tanpa terlihat lemas. Hal itu merupakan dedikasi yang ia persembahkan sebagai bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta.
Filosofi hidup Kante yang membumi bukan sekadar pencitraan, melainkan manifestasi dari iman yang mendalam. Berikut adalah lima kepribadian N’Golo Kante sebagai Muslim yang bisa menginspirasi Muslim lainnya.
1. Kesederhanaan yang Ekstrem (Zuhud)
Meski memiliki pendapatan miliaran rupiah per minggu, Kante tidak tergiur mengoleksi mobil mewah. Selama bertahun-tahun, ia setia dengan Mini Cooper bekasnya. Baginya, status sosial tidak ditentukan oleh apa yang dikendarai.
Saat di Chelsea, Kante sering ditanya mengapa ia tidak membeli mobil mewah seperti rekan setimnya di Chelsea. Ia menjelaskan bahwa tujuannya hanya fungsional, bukan untuk pamer status. Dalam sebuah kesempatan, ia menjelaskan alasannya tetap membumi.
"Saya tidak pernah menjadi orang yang suka mobil mewah atau gaya hidup seperti itu. Sejak kecil, saya tidak punya ambisi untuk memiliki mobil ini atau itu. Saya hanya bersyukur bisa bermain sepak bola," ujar Kante, dikutip dari France Football.
2. Empati dan Solidaritas Tanpa Batas
Kebaikan Kante melampaui status profesinya. Salah satu kesaksian paling menyentuh datang dari wartawan Nasredine Nasri yang berbasis di London. Saat ayah sang jurnalis meninggal dunia pada 2018, Kante hadir di rumah duka untuk bertakziah tanpa sorotan media dan tanpa pengawalan.
Nasri menceritakan bahwa Kante, yang ketika itu masih memperkuat Chelsea, datang tanpa pengawalan, tanpa kamera, dan tanpa pengumuman. Ia duduk bersama pelayat lainnya, memberikan penghormatan, dan ikut mendoakan almarhum.
Kante melakukan itu semua bukan karena ia mengenal dekat sang jurnalis, melainkan murni karena rasa solidaritas sebagai sesama Muslim dan empati sebagai manusia.
"Kante datang ke pemakaman ayah saya. Dia duduk bersama kami, tanpa ada kebisingan atau media. Dia adalah pria dengan hati emas yang selalu membumi," ujar Nasri, dikutip dari The Sun.
3. Ketulusan dalam Menjalin Silaturahmi
Siapa sangka bintang kelas dunia mau makan malam di rumah orang asing? Itulah yang dilakukan Kante saat ia tertinggal kereta di London pada 2018 lalu. Ia pergi ke masjid terdekat, lalu menerima ajakan seorang fan untuk makan malam dan bermain video game bersama.
Ia membuktikan bahwa tidak ada jarak antara dirinya dan masyarakat biasa. Dan yang mengejutkan, fan tersebut adalah fan Arsenal, bukan Chelsea. Namanya Badlur Rahman Jalil. Di rumah itu juga ada teman-temannya yang merupakan fan Liverpool.
Mengenai hubungannya dengan penggemar, ia berkata: "Senang bisa berbagi momen dengan orang-orang. Sepak bola menyatukan kita semua, dan saya merasa beruntung bisa memberikan sedikit kebahagiaan bagi mereka, meski hanya dengan mengobrol atau makan bersama," ujar Kante, dikutip dari BBC Sport.
4. Menjaga Sifat Malu (Haya')
Dalam Islam, rasa malu adalah sebagian dari iman. Kante mempraktikkan ini dengan sangat murni. Momen paling ikonik adalah saat Prancis menjuarai Piala Dunia 2018, ia terlalu malu untuk meminta giliran berfoto dengan trofi tersebut.
Perlu bantuan rekan setimnya, Steven Nzonzi, agar Kante akhirnya bisa memegang trofi yang telah ia perjuangkan dengan cucuran keringat. Dalam menyikapi popularitasnya, ia berkata dengan rendah hati.
"Saya hanya seorang pemain bola biasa. Saya tidak merasa seperti bintang. Saya hanya melakukan pekerjaan saya di lapangan, dan jika orang-orang menyukainya, saya bersyukur, tapi itu tidak mengubah siapa saya," ucapnya, dikutip dari L'Equipe.
5. Profesionalisme dan Keteguhan Iman
Menjadi atlet elite tidak membuatnya mengabaikan kewajiban agama. Kante dikenal tetap menjalankan puasa Ramadan meski jadwal pertandingan sangat padat. Ketangguhan fisiknya saat berpuasa bahkan pernah membuat mantan pelatihnya di Chelsea, Thomas Tuchel, merasa takjub dan kagum atas dedikasinya.
"N'Golo adalah pria yang terbiasa berpuasa. Dia tidak makan atau minum apa pun, tapi dia tetap bermain dan tampil di level tertinggi. Kami tidak memberikan perlakuan khusus, karena dia tidak memintanya. Dia adalah sosok yang sangat religius dan ketaatannya itu sungguh luar biasa," kata Tuchel pada 2022, dikutip dari Sky Sports.
Pujian juga datang dari rekan setimnya di Timnas Prancis 2018, Olivier Giroud. "N'Golo adalah sosok yang sangat tenang, tapi ia memiliki hati yang sangat besar. Di dalam dan luar lapangan, ia adalah contoh yang harus diikuti," ucap Giroud.
N'Golo Kante Berprestasi di Klub Maupun Timnas Prancis
Siapa sangka di balik sosoknya yang lugu dan sederhana, N'Golo Kante adalah pemain bermental juara di lapangan. Sepanjang kariernya, ia telah memenangkan hampir segalanya yang bisa diimpikan oleh seorang pesepak bola.
Dari "dongeng" kejutan juara Liga Inggris bersama klub semenjana Leicester City, kesuksesan beruntun di Chelsea dengan trofi Liga Champions dan Liga Inggris, hingga puncaknya membawa Prancis mengangkat trofi Piala Dunia 2018 di Rusia.
Kini, di usianya yang ke-34, kembalinya Kante ke kompetisi Eropa bersama Fenerbahce bukan sekadar mencari tantangan baru, melainkan sinyal kuat bahwa ia belum selesai. Meski sempat menepi ke Arab Saudi, performanya tetap stabil hingga membuat pintu Timnas Prancis tetap terbuka lebar.
Sempat absen hampir setahun dari Timnas Prancis, Kante menandai comeback-nya dengan gemilang pada November 2025. Ia langsung dipercaya menjadi starter saat Prancis melumat Ukraina 4-0 dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2026. Meski disimpan saat melawan Azerbaijan untuk menjaga kebugaran, performanya melawan Ukraina membuktikan bahwa 'mesin' sang gelandang veteran masih berada di level tertinggi.
Tentunya ia ingin kembali memikat hati pelatih Prancis, Didier Deschamps, agar bisa masuk skuat Les Bleus untuk Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, 11 Juni-19 Juli 2026. Ajang empat tahunan ini akan diikuti 48 negara.