TVRINews - Munchen, Jerman

Piala Dunia dalam sejarahnya menampilkan sejumlah kapten hebat yang menjadi kunci sukses tim meraih gelar.

Dalam sejarahnya, Piala Dunia menampilkan kapten legendaris yang tidak akan pernah terlupakan. Nama mereka layak dimunculkan, karena tanpa kehadiran mereka di lapangan, sebuah tim tidak akan juara.

Di Piala Dunia 2026 nanti, nama seperti Lionel Messi (Argentina), Cristiano Ronaldo (Portugal), Joshua Kimmich (Jerman), Harry Kane (Inggris), Marquinhos (Brasil) atau Kylian Mbappe (Prancis), hingga Dani Carvajal (Spanyol) akan mengenakan ban kapten di lengan jika bermain.

Jabatan atau status sebagai kapten tim nasional memiliki nilai tersendiri. Bahkan, tidak jarang sebuah tim diramaikan dengan isu "perebutan" jabatan kapten. Ini pernah terjadi dulu di Timnas Jerman antara Lothar Matthaus dan Jurgen Klinsmann, atau antara Daniel Pasarella dan Diego Maradona di Argentina.

Di akhir turnamen, kapten tim juara di podium adalah pemain pertama yang akan mengangkat trofi. Jose Nasazzi adalah kapten legendaris yang membawa Timnas Uruguai juara di Piala Dunia pertama pada 1930.

Dengan demikian, Jose Nasazzi adalah kapten pertama dalam sejarah Piala Dunia yang tampil sebagai juara. Ia menjadi orang pertama yang mengangkat trofi Jules Rimet.

Tanggung jawab sebagai pemimpin pun dia bawa sampai di luar lapangan. Konon, Jose Nasazzi menyembunyikan trofi Piala Dunia di rumahnya selama periode gejolak politik di Uruguai untuk memastikan trofi tersebut tidak dicuri atau rusak sebelum FIFA dapat mengambilnya.

Dalam artikel ini, TVRI menampilkan 10 kapten legendaris dalam sejarah Piala Dunia. Dalam urutan nomor, dimulai dengan tahun Piala Dunia yang lebih dulu hingga yang terakhir. Berikut ini, 10 kapten lagendaris tersebut.



1. Bobby Moore (Inggris, 1966)

Ikon sepak bola nasional bagi Inggris. Satu-satunya kapten dalam sejarah Timnas Inggris yang memenangkan gelar Piala Dunia, pada 1966. Tentu saja karena The Three Lions belum pernah lagi meraihnya hingga saat ini.

Ia digambarkan sebagai kapten yang memiliki ketengangan luar biasa. Bobby Moore adalah tipikal pria Inggris yang jentelmen. Salah satu momen yang menjadi pembicaraan ketika dia menyeka lumpur dan keringat di tangannya sebelum berjabat tangan dengan Ratu Elizabeth II yang memberinya trofi Jules Rimet.

Dalam usianya yang 25 tahun, dia pemilik rekor kapten termuda yang pernah juara Piala Dunia. Kepemimpinannya di Piala Dunia 1966 ditandai dengan transisinya dari seorang bek tradisional menjadi playmaker dan ketenangan yang tak tergoyahkan di saat-saat penuh tekanan.

Meskipun sejatinya bek tengah, Bobby Moore pemain Inggris yang paling kreatif di final saat melawan Jerman Barat. Ia mencatatkan dua asis untuk gol Geoff Hurst yang mengantarkan Timnas Inggris juara.

2. Carlos Alberto Torres (Brasil, 1970)

Carlos Alberto Torres, kapten Timnas Brasil yang membawa Tim Samba juara Piala Dunia 1970. Dia adalah kapten yang memimpin skuad Brasil ketika itu dinilai sebagai skuad terbaik sepanjang masa.

Brasil tim yang saat itu berada di bawah kepelatihan Mario Zagallo memiliki Pele, Jairzinho, Tostao, Rivellino, atau Brito. Carlos Alberto memimpin skuad Brasil saat dirinya berusia 25 tahun.

Salah satu yang dikenang dari dirinya adalah golnya yang dahsyat di final Piala Dunia 1970 melawan Italia. Gol ikonik yang akan diingat dalam sejarah Piala Dunia karena bagaimana dia melepaskan tendangan begitu keras. Sebelum melepaskan tembakan, Carlos Alberto tiba-tiba muncul berlari kencang, menyambar bola umpan Pele yang dilepaskan dengan tembakan yang sangat cepat dan keras.

3. Franz Beckenbauer (Jerman Barat, 1974)

Dikenal dengan "Der Kaiser", Franz Beckenbauer memperlihatkan kepada dunia bagaimana peran sweeper bukan hanya sebagai "penyapu" melainkan juga metronome sejak dari jantung pertahanan.

Kapten Franz Beckenbauer memperlihatkan pula fungsi seorang kapten yang sebenarnya. Memimpin, mengoordinasi, memulai serangan. Umpan-umpan awalnya sering membuka ruang baru bagi rekan-rekan setimnya di depan.

Pada titik ini pula, Franz Beckenbauer menciptakan sebuah peran yang kemudian dikenal dengan sebutan libero, pemain bebas yang dapat maju ke depan membantu serangan.

Dengan perannya ini, dia berhasil membawa Jerman Barat juara Piala Dunia 1974. Dengan performanya yang elegan pula, predikat "kapten" seperti tidak mungkin dilepas dari profil pria yang juga sangat dihormati rekan-rekan setimnya.

4. Dino Zoff (Italia, 1982)

Dalam Piala Dunia 1982, Dino Zoff menjadi kapten tertua yang memenangkan gelar Piala Dunia, tepatnya di usia 40 tahun. Ini sebuah rekor yang hingga saat ini masih bertahan. Dia juga adalah kiper pertama yang menjadi kapten tim yang memenangkan gelar Piala Dunia.

Dalam laga menghadapi Timnas Brasil, Dino Zoff melakukan penyelamatan krusial, terhebat, dalam kariernya. Penyelamatan yang membuat Italia tetap unggul karena momen itu terjadi di menit ke-89. Dino Zoff tidak hanya menepis tandukan Oscar yang mengarah ke gawang, melainkan juga dia menangkap bola tersebut yang nyaris melewati garis gawang.


Diego Maradona, kapten timnas Argentina, mengangkat trofi Piala Dunia 1986 di Meksiko setelah di laga final mengalahkan Jerman Barat, 3-2.

Foto: Grafis: Jovi Arnanda



5. Diego Maradona (Argentina, 1986)

Ada kiasan bahwa Diego Maradona hanya seorang diri membawa Timnas Argentina juara Piala Dunia 1986. Perumpamaan tersebut hanya menggambarkan bahwa Diego Maradona memang mendominasi di Piala Dunia 1986.

Piala Dunia 1986 seperti menjadi panggung hanya untuk Maradona. Gol, asis, gocekan, semua menjadi bagian yang menarik yang diperlihatkan Maradona di Piala Dunia yang digelar di Meksiko.

Dari kakinya tercipta gol yang kemudian disebut dengan "Goal of the Century" atau gol abad ini setelah dia melewati lima pemain Timnas Inggris.

Sedangkan dari tangannya, Diego Maradona menciptakan gol "Hand of God" yang kontroversial. Diego Maradona menciptakan semua itu dengan ban kapten di lengannya. Banyak yang mengkritik "Gol Tangan Tuhannya", tapi bersamaan pula banyak yang mengagumi Goal of the Century milik Maradona.

6. Lothar Matthaus (Jerman, 1990)

Lothar Matthaus menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mencetak gol dari luar jantung pertahanan lawan (box), dua gol dengan dua kaki yang berbeda (kanan dan kiri) di satu laga.

Momen itu terjadi dalam kemenangan 4-1 atas Yugoslavia di fase grup Piala Dunia 1990. Gol keduanya di laga itu yang tercipta di menit ke-64, merupakan gol yang disebut pers Eropa dengan "thunderbolt". Hingga kemudian, gol itu dinobatkan sebagai Gol Terbaik Tahun 1990.

Dalam final saat menghadapi Argentina, sosoknya menjadi perhatian yang ketika di sisi lainnya ada Diego Maradona. Ini menjadi final dengan dua pemain hebat di dunia. Diego Maradona kemudian menyatakan Lothar Matthaus sebagai lawan terbaik yang pernah dia hadapi dalam kariernya.

Penampilan Lothar Matthaus sebagai kapten di Piala Dunia 1990 dinilai sebagai puncak kariernya, ditandai dengan transformasi permainannya dari pemain yang bertugas menjaga lawan menjadi "Jenderal" di lini tengah yang dominan.



7. Didier Deschamps (Prancis, 1998)

Dibutuhkan pemain yang terlihat biasa di sebuah tim yang bertabur bintang. Dia adalah Didier Deschamps, kapten Timnas Prancis yang membawa negeri ini juara Piala Dunia 1998.

Prancis sebagai tuan rumah, itu saja sudah menjadi euforia, harapan begitu tinggi, keharusan menang juga sangat tinggi. Ingat pula, Prancis adalah tim yang memiliki pemain dengan asal atau latar belakang beragam. "Rainbow", demikian tim Prancis ketika itu disebut karena keragaman itu.

Didier Deschamps dipercaya pelatih Aime Jacquet sebagai pemimpin yang menyatukan mereka baik di lapangan maupun di ruang ganti. Banyak yang menilai bahwa Didier Deschamps adalah "bintang keberuntungan".

Kepemimpinannya memadukan otoritas yang tegas dengan empati, membuatnya mendapatkan rasa hormat yang mendalam dari superstar seperti Zinedine Zidane dan bek kunci seperti Lilian Thuram. Ia menjaga tim tetap tenang di saat-saat tekanan tinggi dan euforia.

8. Cafu (Brasil, 2002)

Banyak yang mengatakan bahwa hanya Cafu pemain yang selalu tersenyum atau tertawa setiap kali membawa bola. Penilaian tersebut memang tidak meleset. Di level klub, baik itu saat di AS Roma maupun di AC Milan, mudah mengentarai sosoknya di posisi bek kanan. Ini pula yang diperlihatkannya di Piala Dunia 2002 saat dia menyandang ban kapten Timnas Brasil.

Cafu awalnya bukanlah kapten dari skuad Brasil yang saat itu di bawah asuhan Luiz Felipe Scolari. Namun, kapten sebenarnya yaitu Emerson di Piala Dunia 2002 itu mengalami cedera bahu dalam latihan sebelum turnamen ini dimulai.

Il Pendolino atau "Kereta Ekspres", sebutan untuk Cafu yang dalam penampilannya memiliki energi yang tanpa kenal lelah di sayap kanan. Dia adalah penyeimbang. Sebagai kapten, dia memastikan memberikan kemudahan dan keleluasaan bagi duet Ronaldo Nazario dan Rivaldo di lini depan.

Pada Piala Dunia 2002 pula, Cafu memiliki ketahanan yang luar biasa. Dia satu-satunya pemain dalam skuad 2002 yang bermain setiap menit di turnamen tersebut, dengan total 630 menit bermain.

9. Iker Casillas (Spanyol, 2010)

Momen ikonik terjadi di final Piala Dunia 2010, Spanyol vs Belanda. Dalam menit ke-61, di mana Iker Casillas berhadapan satu lawan satu dengan Arjen Robben. Iker Casillas melakukan penyelamatan luar biasa dengan kaki kanannya yang terentang untuk menggagalkan peluang Arjen Robben dalam situasi satu lawan satu.

Momen ini dianggap sebagai salah satu penyelamatan paling krusial dalam sejarah Piala Dunia, mencegah Belanda unggul, membuatnya kemudian dikenal dengan sebutan "Sant Iker". Iker Casillas kemudian bercanda mengatakan bahwa penyelamatannya melawan Arjen Robben adalah "keberuntungan". Casillas mengeklaim bahwa jika skenario itu dimainkan 10 kali, Arjen Robben kemungkinan akan mencetak 9 gol.

Dalam fase knockout di Piala Dunia 2010 itu, Iker Casillas nyaris tidak terkalahkan. Dia mencatatkan empat clean sheet berturut-turut yaitu lawan Portugal, Paraguai, Jerman, dan Belanda. Penampilan gemilangnya membuatnya meraih penghargaan Golden Gloves, Kiper Terbaik.

10. Lionel Messi (Argentina, 2022)

Lionel Messi mungkin bukan kapten dengan karakteristik yang sangat kuat. Namun, dia adalah pemain yang sangat dihormati rekan setimnya di Piala Dunia 2022.

Lionel Messi kapten Timnas Argentina di Piala Dunia 2022 karena kemampuan atau Teknik individunya. Dia berhasil mengakhiri penantian Argentina untuk kembali meraih gelar setelah 36 tahun sejak era Diego Maradona.

Dalam Piala Dunia 2022 ini, Lionel Messi menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mampu mencetak gol di setiap fase di turnamen ini: fase grup, 16 besar, perempat final, semifinal, dan final. Di Piala Dunia itu pula, dia mendapatkan lima kali Man of the Match, sebuah rekor untuk kategori tersebut dalam ukuran satu turnamen.

Demikianlah, 10 kapten legendaris dalam sejarah Piala Dunia. Tentu saja, ada sejumlah nama lain yang juga pantas dikedepankan seperti Fabio Cannavaro contohnya yang berhasil membawa Italia juara Piala Dunia 2006. Atau Philipp Lahm yang membawa Jerman juara Piala Dunia 2014.