Penyerang dan kapten Timnas Bosnia, Edin Dzeko. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews – Toronto, Amerika Serikat
Edin Dzeko optimistis Bosnia dan Herzegovina mampu memberikan penampilan terbaik di Piala Dunia 2026.
Edin Dzeko datang ke Piala Dunia 2026 bersama Bosnia dan Herzegovina. Meski sudah berusia 40 tahun, penyerang yang kini membela Schalke tersebut ingin memberikan yang terbaik. Baginya, usia hanyalah angka, selama dibarengi dengan disiplin, profesionalisme, dan mengelola fisik yang tepat.
Pemain yang pernah membela Manchester City dan AS Roma itu juga membagikan resep jitunya untuk tetap bertahan di level tertinggi sepak bola Eropa lebih dari dua dekade. Tantangan yang dihadapinya sejauh ini tak hanya soal fisik, tetapi juga mental.
Menjadi pemain paling senior dalam skuad Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026, Dzeko dituntut mampu memimpin rekan setimnya. Ia optimistis hasil terbaik bisa dicapai, mengingat pemain yang ada sekarang ini memiliki kualitas mumpuni.
Untuk sampai ke turnamen yang dilangsungkan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko kali ini, tim berjuluk The Dragons melalui jalan yang tidak mudah. Mereka harus bertemu dengan tim sekelas Italia di final play-off kualifikasi zona Eropa.
Pada akhirnya, perjuangan Bosnia dan Herzegovina berbuah manis. Mereka kini bersiap menghadapi Kanada, Swiss, dan Qatar di Grup B Piala Dunia 2026.
Berikut petikan wawancara Edin Dzeko, dikutip dari Independent.
Bosnia dan Herzegovina lolos ke Piala Dunia 2026 dengan mengalahkan Italia. Apakah ini sebuah kejutan besar?
Ada banyak pembicaraan bahwa Italia mungkin tidak akan lolos ke Piala Dunia ketiga berturut-turut. Namun, hampir tidak ada yang membicarakan kami sebagai sebuah tim. Padahal kami benar-benar tim yang luar biasa dengan banyak pemain muda berbakat.
Seberapa besar arti kesuksesan generasi muda Bosnia dan Herzegovina bagi Anda?
Saya sangat senang bisa melakukannya dalam dua tahun terakhir ini, terutama membantu tim bersama para pemain muda yang luar biasa menuju Piala Dunia berikutnya. Ini adalah sesuatu yang sangat istimewa bagi mereka.
Mereka memiliki masa depan yang cerah, dan saya pikir dua pertandingan terakhir melawan Wales dan Italia akan menjadi pengalaman yang mengubah hidup mereka. Mereka adalah generasi yang memiliki potensi besar, dan saya bangga bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Apakah Anda pernah membayangkan bisa bertahan bermain di level tertinggi hingga usia seperti sekarang?
Saya tidak pernah menyangka akan bermain hingga usia 40 tahun. Jika Anda bertanya kepada saya 10 tahun lalu, saya mungkin akan menjawab tidak. Namun, saya selalu mendengarkan tubuh saya dan melakukan banyak pekerjaan tambahan, baik sebelum maupun sesudah latihan, untuk membantu menjaga kondisi fisik.
Apa saja yang Anda lakukan untuk menjaga kebugaran?
Saat masih muda, mungkin Anda tidak terlalu memikirkan pentingnya datang lebih awal ke tempat latihan atau menghabiskan 30 hingga 45 menit di gym sebelum latihan untuk melakukan latihan pencegahan cedera. Begitu juga setelah latihan, saya biasanya masih meluangkan waktu 30 hingga 45 menit, bahkan sampai satu jam, untuk melakukan pekerjaan tambahan.
Ketika berusia 20 tahun, Anda mungkin berpikir, "Saya tidak punya waktu untuk ini. Saya ingin pergi minum kopi bersama teman-teman atau makan siang." Namun, seiring bertambahnya usia, Anda menyadari bahwa tubuh dan kaki Anda membutuhkan semua itu jika ingin terus bersaing di level tertinggi dan memiliki karier yang panjang di sepak bola.
Di usia yang sudah tidak lagi muda, namun ekspektasi orang terhadap sosok Edin Dzeko masih sama. Apakah itu menjadi beban?
Ketika Anda tidak bermain seperti dulu, banyak hal yang muncul di kepala Anda. Namun, satu hal yang bisa saya katakan tentang diri saya adalah saya selalu kuat secara mental. Saya memahami bahwa dalam kehidupan seorang pesepak bola profesional selalu ada pasang dan surut.
Musim ini berakhir bagus bagi Anda karena Schalke berhasil promosi ke Bundesliga. Bagaimana perasaan Anda?
Schalke seharusnya selalu berada di Bundesliga, bukan di Bundesliga 2. Saya tidak akan menyebutnya sebagai misi penyelamatan karena pada Januari lalu Schalke sebenarnya sudah berada di puncak klasemen. Namun, mereka jelas membutuhkan dorongan tambahan dan kualitas yang lebih baik dalam skuad karena paruh kedua musim selalu lebih sulit.