Ilustrasi tiga hari menuju Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Jakarta, Indonesia
Lima trio legendaris dalam sejarah Piala Dunia yang berperan dalam membawa timnya sukses di turnamen ini.
Pada Piala Dunia 2022, Argentina sukses dengan trio lini depan Lionel Messi, Angel Di Maria, dan Julian Alvarez. Di Piala Dunia 2026 ini, La Albiceleste akan tampil tanpa Angel Di Maria yang sudah pensiun dari tim nasional.
Sedangkan di Piala Dunia 2018, Prancis juara karena tiga pemain menyerang mereka yang kreatif: Kylian Mbappe, Antoine Griezmann, dan Blaise Matuidi. Trio ini kunci sukses Les Bleus yang bermain di belakang striker Olivier Giroud.
Di Piala Dunia 2026 ini, sejumlah tim kontestan juga akan bermain dengan trio lini depan. Menarik untuk melihat siapa yang akan menggantikan peran Angel Di Maria di Timnas Argentina. Sementara itu, Spanyol juga berharap dapat menampilkan kembali trio lini depan.
Lamine Yamal dan Nico Williams dalam proses menuju kondisi fit. Pelatih Luis de la Fuente kemungkinan akan menempatkan Borja Iglesias atau Ferran Torres di lini depan melengkapi formasi lini depan tersebut.
Dalam sejarahnya, Piala Dunia ditandai dengan munculnya trio maut di lini depan. Menarik untuk menantikan apakah trend tersebut akan kembali muncul di Piala Dunia 2026 ini. Jelang tiga hari Piala Dunia 2026 bergulir, TVRI menampilkan trio lini depan dalam sejarah Piala Dunia, berikut ini para trio lini depan legendaris tersebut:
Pele, Jairzinho, dan Tostao (Brasil 1970)
Trio Pele, Jairzinho, dan Tostao, yang membawa Brasil juara Piala Dunia 1970. Ketiganya sudah dikenal sebagai kesatuan lini serang terhebat dalam sejarah Piala Dunia. Jairzinho terkenal karena selalu mencetak gol di setiap pertandingan Piala Dunia 1970, Tostao memberikan permainan kreatif dan umpan-umpan brilian, sedangkan Pele sebagai yang terhebat sepanjang masa dengan mengatur gaya permainan yang indah.
Pele mencetak 4 gol dengan 6 asis, Jairzinho 7 gol dengan 1 asis, sedangkan Tostao 2 gol dan 4 asis. Total, trio ini berperan dalam terciptanya 24 gol Timnas Brasil di Piala Dunia 1970. Pelatih Mario Zagallo berhasil memaksimalkan potensi tiga pemain tersebut dalam serangan di lini depan.
Meski demikian, nama Rivellino, pemain sayap kiri pun sangat pantas dimasukkan dalam kombinasi ini. Dengan Pele dan Jairzinho, Rivellino menjadi trio kreatif di lini depan. Penyerang dengan ciri khas kumis yang tebal ini mencetak 3 gol dan memberikan 3 asis di Piala Dunia 1970 tersebut.
Johan Cruyff, Rob Rensenbrink, Johnny Rep (Piala Dunia 1974)
Johan
Cruyff, Johnny Rep, dan Rob Rensenbrink maestro penyerang dari era
Total Football Timnas Belanda yang legendaris. Belanda memang belum
pernah juara namun ketiganya membawa Oranje ke final Piala Dunia FIFA
pada tahun 1974 dan 1978.
Bersama-sama, mereka membentuk salah
satu lini depan yang paling indah dan mematikan dalam sejarah Piala
Dunia. Rob Rensenbrink, salah satu pemain sayap kiri terbaik Belanda.
Tentu saja, Rob Rensenbrink dan juga Johnny Rep bukanlah nama pertama
yang akan diingat banyak orang dari tim-tim hebat Belanda di era 70-an
tapi mereka sangat penting.
Dalam Piala Dunia 1974, Johan Cruyff
mencetak tiga gol dan memberikan lima asis, sedangkan Rob Rensenbrink
mencetak satu gol dan memberikan satu asis yang diciptakan dalam
kemenangan 2-0 atas Jerman Timur. Johnny Rep mencetak 4 gol dan
memberikan 1 asis.
Diego Maradona, Jorge Valdano, Jorge Burruchaga (Piala Dunia 1986)
Salah satu momen terbaik dari trio Argentina ini terjadi di final Piala Dunia 1986. Ketiganya berperan dalam terjadinya tiga gol Argentina ke gawang Timnas Jerman. Jorge Burruchaga memberikan asis bagi terciptanya gol pertama Argentina yang diciptakan Jose Luis Brown, Jorge Valdano mencetak gol dua memanfaatkan asis Hector Enrique.
Sedangkan gol ketiga yang menentukan kemenangan diciptakan Jorge Burruchaga memanfaatkan asis Diego Maradona. Gol ini membuat Argentina menang 3-2 setelah sebelumnya imbang 2-2. Diego Maradona selalu mencetak antara gol dan asis di semua ajang Piala Dunia 1970 total 5 gol dan 5 asis. Sedangkan Jorge Valdano 4 gol dan 1 asis, sementara Jorge Burruchaga 2 gol dan 2 asis.
Lothar Matthaus, Rudi Voller, Jurgen Klinsmann (Piala Dunia 1990)
Ini memang bukan trio lini depan, tapi ketiganya menciptakan triangle yang mematikan. Lothar Matthaus adalah pemain genius yang dapat bermain sebagai gelandang tengah atau sebagai pemain yang memberikan peluang. Kemampuannya dalam adaptasi salah satu yang membuatnya sebagai pemain istimewa pada masanya.
Kemampuan ini pula yang berhasil dimaksimalkan oleh Franz Beckenbauer di Piala Dunia 1990. Lothar Matthaus berada di belakang duet Jurgen Klinsmann dan Rudi Voller. Dalam Piala Dunia 1990 ini, Lothar Matthaus mencetak 4 gol. Jurgen Klinsmann mengoleksi 3 gol dan 2 asis, sementara Rudi Voller mengoleksi 3 gol dan 1 asis.
Brasil memiliki trio yang dikenal dengan 3R yaitu Ronaldo (kanan), Rivaldo (tengah), dan Ronaldinho.
Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
Ronaldo, Rivaldo, dan Ronaldinho (Piala Dunia 2002)
Dikenal dengan "3R" pada Piala Dunia 2002. Ronaldo Nazario, Rivaldo, dan Ronaldinho adalah trio dengan kemampuan individu yang tinggi yang pernah ada. Ronaldo dengan kecepatannya dalam menggiring bola, fisik yang kuat, serta kemampuan dalam mencetak gol yang tinggi.
Rivaldo tipikal pengatur serangan, pemain yang tenang dalam memainkan bola, memiliki visi yang sangat baik. Kehadirannya dalam lini depan Brasil pada Piala Dunia 2002 silam mendikte permainan timnya. Sementara Ronaldinho memberikan Teknik individu yang tinggi baik dalam memainkan bola atau saat melewati lawan.
Ronaldo memenangkan Sepatu Emas di Piala Dunia yang digelar di Korea Selatan dan Jepang tersebut, termasuk dua gol yang diciptakannya dalam final lawan Jerman. Rivaldo mengoleksi lima gol, salah satu koneksi dengan Ronaldinho terjadi di laga lawan Belgia saat dia memanfaatkan asis rekannya itu. Ronaldinho mencetak dua gol dan memberikan tiga asis pada Piala Dunia 2002 itu.