Pelatih Inggris, Thomas Tuchel mau seluruh anak asuhnya bikin tato bila Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - London, Inggris
Tuchel belajar banyak mengenai komitmen personal para pemainnya melalui rangkaian panggilan telepon yang sudah dilakukannya.
Pelatih tim nasional Inggris, Thomas Tuchel mengungkapkan akan menerapkan langkah-langkah keamanan yang sangat ketat di markas latihan mereka demi mencegah skandal mata-mata selama Piala Dunia 2026. Langkah preventif ini diambil demi melindungi kerahasiaan taktik dari para rival di fase grup seperti Kroasia, Panama, dan Gana.
Keputusan besar ini diambil menyusul insiden mengejutkan dicoretnya Southampton dari babak play-off Championship akibat memata-matai sesi latihan Middlesbrough. Tuhel menegaskan bahwa dirinya tidak ingin kecolongan dan bertekad bulat untuk memagari semua rahasia taktiknya.
Federasi Sepak Bola Inggris (FA) dilaporkan telah bergerak cepat dengan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap fasilitas latihan di Kansas City. Tempat ini nantinya akan menjadi markas utama sekaligus dapur strategi skuad Inggris sepanjang Piala Dunia 2026 berlangsung.
Menjelang keberangkatan skuad yang dijadwalkan pada 1 Juni mendatang, Tuchel mengakui kondisi lapangan yang terlalu terbuka menjadi tantangan tersendiri. Karakteristik arena yang terekspos itu memaksa mereka memasang layar pelindung tambahan serta mempertebal personel keamanan di sekitar area latihan.
"Kami tentu saja akan mengurus hal tersebut. Kami akan melakukannya sebaik mungkin dan tidak dengan cara yang berlebihan. Seperti yang Anda semua ketahui, Argentina memiliki hak opsi pertama untuk memilih fasilitas mewah yang sangat terisolasi di Kansas," kata Tuchel dikutip dari ESPN.
"Jadi seperti biasa, Anda hanya mencoba memengaruhi apa yang bisa Anda bentuk. Kami sangat senang dengan fasilitas latihan ini, terutama dengan apa yang telah diupayakan oleh FA dan semua orang yang bertanggung jawab di sana sekarang," Tuchel melanjutkan.
Tuchel sangat menyadari bahwa kebocoran taktik sekecil apa pun bisa berakibat sangat fatal di level tertinggi sepak bola internasional. Pelatih asal Jerman tersebut tidak ingin semua kerja keras anak asuhnya dalam menyusun strategi permainan menjadi sia-sia begitu saja.
Maka dari itu, Tuchel menegaskan persiapan akhir tim harus benar-benar steril dan terisolasi dari dunia luar sebelum hari pertandingan tiba. Fokus utama pengamanan ketat ini akan diberlakukan khususnya pada saat skema bola mati serta latihan eksekusi penalti dilakukan.
"Saya pikir fasilitas ini memenuhi semua kebutuhan kami, tetapi saya setuju bahwa tempat ini masih bisa diintip. Saya pikir kami akan menempatkan petugas keamanan di sana dan kami akan membangun sedikit perlindungan. Karena, tentu saja, ini sangat krusial; jika Anda berlatih pada H-1, Anda mematangkan formasi tim, Anda melatih skema bola mati, dan Anda mengakhirinya dengan latihan penalti. Anda tentu tidak ingin lawan mengetahuinya. Hal itu bisa memberi Anda keuntungan yang sangat krusial. Jadi, kami mencoba untuk menjaganya seprivat mungkin," ucapnya.
Selain fokus pada penguatan keamanan fisik di luar lapangan hijau, Tuchel juga menaruh perhatian besar pada aspek psikologis anak asuhnya. Ia secara khusus membawa psikolog tim, Rich Hampson, ke dalam lingkaran internal terdekat dari skuad Inggris.
Langkah strategis tersebut diambil guna memantau dinamika kelompok secara mendalam dari hari ke hari selama Piala Dunia 2026. Hal ini penting untuk memastikan setiap pemain memiliki komitmen penuh terhadap visi kolektif tim demi mengakhiri puasa gelar juara Inggris.
"Mereka adalah bagian dari proses; mereka mendengarkan bahasa yang kami gunakan. Mereka lebih kurang menjadi bagian dari pertemuan-pertemuan kami secara formal. Mereka mendengarkan bahasa kami. Mereka mendengarkan bagaimana kami berbicara tentang pemain, bagaimana kami berbicara tentang pengaturan tim, dan kemudian dia menjadi bagian dari staf kami," tuturnya.
"Rich adalah bagian dari tim usia muda yang bertugas mengembangkan dan mengamati komunikasi, perilaku, perilaku di dalam kelompok, serta perilaku di dalam pertandingan, lalu membandingkannya dengan tim nasional lain di level tertinggi untuk menunjukkan peluang bagi kami agar bisa berkembang," ia menambahkan.
Proses persiapan matang menuju Amerika Serikat ini ternyata juga melibatkan penyusunan daftar tunggu rahasia bagi para pemain cadangan. Nama-nama yang masuk dalam daftar ini diwajibkan untuk selalu bersiap sedia jika sewaktu-waktu terjadi situasi darurat.
Tuchel membeberkan bahwa telah berbicara secara personal dengan sekitar 50 pemain sebelum akhirnya menetapkan 26 nama skuad finalnya. Menariknya, reaksi emosional dari para pemain yang tercoret pada akhirnya ikut menentukan posisi mereka di daftar prioritas pengganti.
"Pertama-tama, kami tidak ingin ada pemain yang mengalami cedera, tetapi kami sadar akan adanya kemungkinan bahwa kami bisa mendatangkan pemain baru. Semua pemain mengetahui hal tersebut. Kalimat yang digunakan dalam panggilan telepon sedikit berbeda untuk para pemain yang posisinya sangat, sangat dekat untuk dipanggil, dan kami mengatakan: 'Dengar, posisi Anda sangat, sangat tinggi di dalam daftar,' tetapi tanpa memberikan janji."
"Saya tetap berpikir bahwa hal ini bisa membawa perbedaan yang sangat besar: siapa di antara bek tengah dan siapa di antara gelandang yang perlu diganti? Jadi, Anda tidak bisa langsung mengatakan, 'Kalau begitu saya akan memilihmu,' dan saya tidak melakukan hal itu. Kalimat yang disampaikan agak berbeda. Mereka yang posisinya sudah dekat, dan untuk bersikap sepenuhnya terbuka, reaksi dari para pemain terhadap kekecewaan tersebut juga menjadi salah satu faktor penentu. Karena saya belajar banyak hal kemarin dari semua panggilan telepon yang dilakukan. Dan hal itu memberi saya konfirmasi tentang siapa yang akan mengangkat telepon dengan perasaan bahagia ketika kami menghubunginya. Bahkan saat mereka sedang berlibur di Australia sekalipun. Siapa orangnya, dan kapan saya harus berada di mana?."
Pendekatan psikologis yang dilakukan Tuchel ini menunjukkan betapa detailnya persiapan Inggris di bawah arahannya demi meraih trofi. Karakter kepemimpinannya yang terbuka sekaligus tegas diharapkan mampu membawa dampak positif yang besar di ruang ganti.
Melihat segala antisipasi keamanan dan pematangan taktik yang super ketat, skuad The Three Lions kini tampak jauh lebih siap menghadapi tekanan. Publik Inggris tentu berharap langkah-langkah besar ini akan berujung pada pesta kemenangan yang sudah dinantikan sejak lama.