Kapten Timnas Korea Selatan, Son Heung-min. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Los Angeles, Amerika Serikat
Son yang kini bertransformasi menjadi raja asis MLS mengaku tak sabar menantang Meksiko di fase grup.
Ketika Son Heung-min memutuskan untuk mengemas kopernya dan bermigrasi ke Amerika Serikat pada musim panas lalu, ada satu mimpi besar yang terus berputar di kepalanya yakni Piala Dunia 2026. Kini, pemain LAFC tersebut bersiap memberikan segalanya untuk tim nasional Korea Selatan dalam ajang bergengsi empat tahunan ini.
Rencana besar yang sempat dianggap sebagai perjudian karier itu pada akhirnya berbuah manis bagi Son. Setelah melakoni 20 pertandingan melelahkan bersama LAFC sejak pertengahan Februari dan menempuh perjalanan udara sejauh 35.000 mil melintasi Amerika Serikat, Meksiko, Kosta Rika, hingga Honduras, ia membuktikan bahwa fisiknya justru makin tertempa.
Menjelang panggung Piala Dunia keempat dalam kariernya, kapten Korea Selatan ini berada dalam kondisi yang sangat bugar dan sepenuhnya bebas dari cedera. Berdiri di titik ini, Son merasa posisinya jauh lebih siap dan diuntungkan dibandingkan dengan rekan-rekan senegaranya yang berkompetisi di liga lain.
Bagi Son, setiap kali atmosfer Piala Dunia mendekat, rasanya selalu seperti menghidupkan kembali memori masa kecil yang menjadi kenyataan. Getaran emosional itu pula yang ia rasakan menjelang duel sengit antara LAFC melawan Seattle Sounders, Senin (25/5/2026) pagi WIB.
"Secara tidak langsung, hal itulah yang paling saya fokuskan dalam mempersiapkan diri menghadapi Piala Dunia," ujar penyerang berusia 33 tahun tersebut dikutip dari Daily Breeze.
Setelah sempat merasakan ketatnya persaingan di Brasil, Rusia, dan Qatar, takdir perjalanannya di tahun ini dipastikan berlanjut dengan tiga pertandingan fase grup yang menantang di Meksiko. Hal itu sempat membuatnya terkejut karena awalnya Son pindah ke Amerika Serikat untuk mematangkan proses aklimatisasi cuaca di Negeri Paman Sam tersebut.
Pengalaman bertanding dalam laga sengit di ajang Piala Champions CONCACAF baru-baru ini memberikan gambaran nyata bagi Son mengenai atmosfer sepak bola Meksiko yang terkenal intimidatif. Negara tersebut menjadi salah satu dari tiga tuan rumah bersama Kanada dan Amerika Serikat.
Sesuai jadwal yang dirilis, Korea Selatan akan menantang Meksiko pada laga kedua Grup A yang akan digulirkan di Guadalajara pada 18 Juni mendatang. "Mereka adalah tuan rumah Piala Dunia, yang berarti turnamen ini menjadi agenda yang sangat besar bagi negara tersebut. Kami merasa senang bisa pergi ke sana dan menguji kemampuan kami," ucapnya.
Son sebenarnya hanya membutuhkan tambahan satu gol lagi untuk menasbihkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Korea Selatan di panggung Piala Dunia. Namun, ia lebih memilih untuk fokus mengasih yang terbaik untuk negaranya.
"Saya selalu berpikir hari demi hari dan laga demi laga, jadi saya merasa pertandingan terpenting adalah melawan Seattle Sounders. Saya hanya ingin memastikan kami meraih hasil yang bagus sebelum saya berangkat ke Piala Dunia dengan perasaan yang luar biasa."
Di kubu lawan, Seattle Sounders datang dengan ambisi bangkit setelah rekor sembilan laga tak terkalahkan dipatahkan oleh LA Galaxy dengan skor 2-0 pekan lalu. Pelatih veteran Brian Schmetzer mengingatkan anak asuhnya agar tidak terpancing meladeni permainan terbuka yang mengandalkan adu kecepatan materi pemain.
Jika menilik statistik keseluruhan, Son sebenarnya tampil sangat impresif lewat catatan 34 penampilan di semua kompetisi bersama LAFC dengan torehan 14 gol dan 20 asis. Saat berada dalam performa terbaiknya, mantan bintang Tottenham Hotspur ini kerap mengacak-acak barisan pertahanan lawan sebelum melepaskan penyelesaian akhir yang mematikan.
Bahkan Son sempat mengawali musim dengan performa yang sangat panas dan meneror lini belakang musuh lewat catatan insting gol yang luar biasa. Total 12 gol dan empat asis berhasil ia lesakkan hanya dalam kurun waktu 13 pertandingan pertamanya.
Namun, keran gol Son mendadak tersumbat dalam beberapa bulan terakhir menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026. Minimnya torehan dua gol dalam 20 laga terakhir setidaknya mampu ditutupi oleh status Son sebagai pelayan terbaik di MLS tahun ini lewat koleksi sembilan asis di liga dan 16 asis di semua kompetisi.
"Saat ini saya mungkin tidak mencetak banyak gol, tetapi saya percaya gol bisa tercipta kapan saja. Kemampuan yang saya miliki tidak akan hilang begitu saja dalam semalam, bukan?."
Penurunan produktivitas ini tidak lepas dari kombinasi lini serang antara Son dan Denis Bouanga yang belakangan sering kehilangan magisnya di lapangan. Kerja sama keduanya terlihat jauh kurang menggigit jika dibandingkan dengan performa yang pernah mereka pertontonkan di bawah asuhan mantan pelatih Steve Cherundolo.
Meski demikian, Son menegaskan hubungan emosionalnya dengan Bouanga tetap berjalan sangat erat baik di dalam maupun di luar lapangan. Ia juga pasang badan untuk membela manajer anyar LAFC, Marc Dos Santos, yang belakangan ini mulai mendapat tekanan dari para suporter.
Kritik yang dialamatkan kepada sang juru taktik selama periode buruk ini dinilai sangat kejam serta kurang adil oleh Son yang juga ikut bertanggung jawab atas merosotnya performa tim. "Kami selalu mencoba mencari solusi terbaik untuk saya dan Denis. Dia (pelatih) sedang berupaya keras untuk mengatasinya."
LAFC sedang berusaha menutup periode dua bulan yang sulit sebelum kompetisi memasuki jeda panjang hingga 17 Juli mendatang setelah menelan empat kekalahan beruntun. Tren buruk berupa satu kemenangan, lima kekalahan, dan dua hasil imbang di MLS langsung menghapus catatan impresif awal musim mereka yang sempat membukukan rekor tanpa kebobolan dalam enam laga.
Pertandingan melawan Seattle menjadi momen perdana sejak 4 April bagi lini serang LAFC terbebas dari jadwal padat tengah pekan yang menguras fisik. Setelah mendapatkan jatah libur tiga hari, LAFC kembali menggelar latihan pada hari Kamis (23/5/2026) tanpa kehadiran bek sayap Sergi Palencia serta penjaga gawang utama Hugo Lloris.
Dos Santos mengonfirmasi Palencia telah menjalani operasi dengan sukses untuk memulihkan cedera otot pascakekalahan telak 4-1 dari Houston di laga kandang terakhir. Namun, pihak manajemen klub memilih untuk merahasiakan detail tambahan mengenai durasi pemulihan sang pemain.
Selain itu, Dos Santos juga memastikan Lloris yang sejauh ini menjadi pemain paling konsisten di bawah mistar gawang terpaksa harus absen dalam dua laga berturut-turut. Kiper legendaris asal Prancis tersebut harus menepi sementara waktu akibat mengalami masalah pada ototnya.